Ahmad Baedowi Dosen Tidak Tetap di Universitas Indonesia

Peran Sosial Umat Islam Indonesia: Menguatkan Filantropi Islam

3 min read

bincangsyariah.com

Islam sebagai agama Rahmaatan lil alamin memberikan banyak pandangan dan pilihan kepada seluruh manusia. Seperti contoh dalam bidang ekonomi dan kesejahteraan. Islam tidak memposisikan hanya aspek materi saja sebagai bentuk tujuan dari proses aktivitas ekonomi. Namun, Islam mentargetkan pencapaian dan tujuan ekonomi Islam yakni tercapainya kesuksesan dan kemakmuran hidup di dunia sebagai bekal untuk hidup di akhirat.

Di tengah gencarnya pembangunan nasional dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, kita masih sering mendengar dan menjumpai masih adanya ketimpangan di masyarakat, tingginya angka kemiskinan, kesehatan dan lingkungan yang buruk, layanan publik yang tidak memadai serta rendahnya taraf hidup masyarakat. Kehidupan sosial yang dihadapi sungguh belum mencerminkan kesejahteraan sebagaimana yang diamanatkan konstitusi negara dan ajaran agama.

Sebagai  sebuah  gerakan atau gagasan  yang berkembang  di  Indonesia, filantropi  cukup  memberikan kontribusi  dalam  pengembangan  masyarakat Islam  Indonesia. Sejak  zaman  penjajahan  Belanda  hingga masa reformasi saat ini, baik dalam bentuk materi maupun jasa.

Sejarah filantropi Islam  di  Indonesia sangat mengakar ini  mempunyai  dinamika  dan  lika-liku yang  kompleks,  dimana  religiusitas  masyarakat  Indonesia  mayoritas menganut  agama  Islam memberikan  peran  dan semangat  tersendiri  dalam perkembangan  filantropi islam.

Sebagai contoh Nahdlatul  Ulama  (NU) dan  Muhammadiyah dua organisasi islam terbesar di Indonesia merupakan fakta kongkrit dalam perkembangan filantropi  Islam di  Indonesia. Kedua organisasi Islam ini mempunyai lembaga khusus untuk menangani persoalan-persoalan sosial dan ekonomi seperti halnya wakaf, zakat dan infaq.

Istilah  filantropi  berasal  dari  bahasa philanthropia atau  dalam  bahasa  Yunani philo dan anthropos yang berarti cinta  manusia. Filantropi  adalah bentuk  kepedulian seseorang atau sekelompok orang terhadap  orang  lain  berdasarkan  kecintaan  pada sesama  manusia.

Baca Juga  Menjadi Masyarakat Media Baru yang Up to Date, Apa Yang Perlu kita Persiapkan?

Istilah  “filantropi”  dimaknai “kedermawanan”  sebuah  watak  atau  sikap  altruistik  (mengutamakan  kepentingan  orang  lain  atau kepentingan bersama)  yang sudah menyatu dalam diri manusia , baik individu maupun kolektif (Latief, 2010:  33-34). Filantropi  dapat  pula  berarti  cinta  kasih  (kedermawanan)  kepada  sesama (Depdikbud,1989:276).

Menurut Maftuhin dalam bukunya Filantropi Islam menjelaskan bahwa ada empat jenis filatropi dalam Islam, yaitu: Zakat, Sedekah, Qurban dan Wakaf. Keempat jenis filantropi ini memiliki fungsi yang sama, selain sebagai bentuk pengamalan ajaran Islam yang wajib (Zakat) dan Sunnah seperti (Sedekah. Qurban dan Wakaf), filantropi juga berfungsi sebagai bantuan sosial untuk kepentingan umum (Maslahatul Ummah), seperti wakaf tanah bisa digunakan untuk pembangunan masjid, panti asuhan, madrasah, Rumah sakit umum dan lain sebagainya.

Filantropi merupakan suatu konsep yang telah terdapat dalam Islam, yang bertujuan untuk kebaikan (al-birr), melihat kondisi tingkat sosial dan ekonomi mayarakat yang berbeda-beda, ide atau konsep filantropi merupakan salah satu alaternatif bagi suatu kelompok masyarakat untuk mengurangi kesenjangan sosial diantara masyarakat.

Dalam Alquran disampaikan mengenai filantropi sebagai bentuk perintahNYA dalam konsep zakat, infaq, shadaqah, hibah untuk menciptakan dan memelihara kemaslahatan hidup serta martabat kehormatan manusia, dan Allah SWT menciptakan syariat yang mengatur cara memanfaatkan harta dengan baik. Dalam Surat Al Baqarah ayat 177 disampaikan

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Baca Juga  Sekelumit tentang Dinamika Kolega Almamater SMA yang Masuk-Keluar HTI

Artinya: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah: 177)

Islam menganjurkan seorang Muslim untuk berfilantropi agar harta kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja. Ketika menerangkan filantropi, Al Qur’an sering menggunakan istilah zakat, infak dan sedekah yang mengandung pengertian berderma.

Kedermawanan dalam Islam, yang mencakup dimensi-dimensi kebaikan secara luas seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf merupakan istilah-istilah yang menunjukkan bentuk resmi filantropi Islam. Sistem filantropi Islam ini kemudian dirumuskan oleh para fuqaha dengan banyak bersandar pada Al-Qur’an dan hadits Nabi mengenai ketentuan terperinci, seperti jenis-jenis harta, kadar minimal, jumlah, serta aturan yang lainnya.

Urgensi filantropi dalam Islam dapat dilihat dari cara Al Qur’an menekankan keseimbangan antara mengeluarkan zakat dan menegakkan shalat. Begitu tegasnya perintah mengenai zakat, al-Qur’an mengulang sebanyak 72 kali perintah zakat (ita’ az-zakat) dan menggandengkannya dengan perintah shalat (iqam ash-shalat). Kata infak dengan berbagai bentuk derivasinya muncul sebanyak 71 kali dan kata sedekah muncul sebanyak 24 kali yang menunjukkan arti dan aktivitas filantropi Islam.

Filantropi yang diwujudkan oleh masyarakat Islam awal sampai sekarang dalam berbagai bentuk, seperti wakaf, shadaqah, zakat, infak, hibah dan hadiah. Dalam perkembangan sejarah Islam, kegiatan filantropi ini dikembangkan dengan berdirinya lembaga-lembaga yang mengelola sumber daya yang berasal dari kegiatan filantropi yang didasari anjuran bahkan perintah yang terdapat dalam Alquran dan Hadis.

Baca Juga  Melepas Ramadan, Melewati Kesementaraan

Selanjutnya lembaga filantropi ini semakin menunjukkan signifikansinya, di antaranya karena perannya dalam upaya mengurangi kesenjangan sosial (ekonomi) dalam masyarakat, Di Indonesia banyak bermunculan lembaga-lembaga filantropi yang kemudian secara simultan dan pasti mendistribusikan hasil dari pemungutan (zakat, infak dan sedekah) kepada mereka yang berhak menerimanya.

Filantropi dalam Islam lebih pada penerapan konsep dan bentuk yang telah ditetapkan dalam Alquran dan Hadis yang tentunya tujuan utamanya adalah beibadah mengharapkan rida Allah SWT. selain kegiatan tersebut berdimensi sosial.

Efektifitas filantropi dalam upaya mengurangi kesenjangan sosial tidak terlepas dari peran lembaga filantropi yang mengelola kegiatan tersebut. Potensi yang bersumber dari filantropi ini sangat besar dengan cara mengimplementasikan distribusi modal kepada pihak yang tidak mampu, sehingga dapat berperan dalam kegiatan ekonomi.

Menurut penulis masih adanya ego sektoral di antara lembaga-lembaga filatropi Islam menyebabkan belum maksimalnya peran lembaga tersebut. Kolaborasi antar lembaga-lembaga filantropi di Indonesia merupakan hal yang mutlak harus dilakukan. Hal ini agar target dan tujuan pemberdayaan kaum mustad’afin yang ada di Indonesia bisa secara maksimal dilakukan oleh muslim yang mampu. Sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan sosial dan keadilan serta dapat menekan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. (mmsm)

Ahmad Baedowi
Ahmad Baedowi Dosen Tidak Tetap di Universitas Indonesia