Ahmad Baedowi Dosen Tidak Tetap di Universitas Indonesia

Radikalisme dan Generasi Khawarij Generasi Baru

3 min read

Kasus terorisme dan radikalisme atasnama agama kembali terjadi, setelah terjadi aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Santo Yosef di Kota Makassar Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh oknum yang terduga jaringan JAD, peristiwa penyerangan lain pun terjadi pada hari Kamis (31/03) di halaman Mabes Polri yang dilakukan oleh seorang perempuan yang diduga berideologi radikal ISIS.

Kedua pelaku tersebut berdasarkan hasil investigasi dan penyeldikan pihak Kepolisian sebelum melakukan aksinya sama-sama menuliskan wasiat yang memberitahukan kepada segenap keluarganya untuk tidak sekali kali meninggalkan perintah agama (sholat dan lain-lain). Selain itu, ia juga berwasiat agar keluarganya meninggalkan atau tidak melakukan transaksi pinjam meminjam ke bank karena itu merupakan riba.

Dalam surat wasiatnya yang beredar di media sosial tersebut keduanya juga sama-sama membeberkan bahwa negara ini adalah negara thogut dan sistem demokrasi merupakan hal yang diharamkan. Dalam hal ini keduanya menyakini bahwa pemerintah yang ada sekarang adalah pemerintah yang thogut. Maka dari itu aksi yang mereka lakukan dianggap sebagai jihad di Jalan Allah.

Rangkaian peristiwa yang dilakukan oleh kedua pelaku karena mereka meyakini ideologi takfiri yang mudah melemparkan tuduhan kafir kepada muslim lain yang memiliki perbedaan paham keagamaan. Meraka akan dengan sangat mudah menuduh kelompok lain degan label kafir, bahkan dengan gampangnya juga melakukan tindakan keji yang bertentangan dengan ajaran agama sekalipun.

Kedua kasus tersebut mengingatkan kembali dengan peristiwa kelam dalam sejarah umat Islam. Persitiwa itu tidak lain adalah terbunuhnya sahabat Ali Ibn Abi Thalib ra., khalifah keempat sekaligus sahabat dan menantu Rasulullah SAW, oleh sosok ahli Alquran dan seorang yang gemar beribadah namun dangkal dalam pemahaman ilmu agama yakni, Abdurrahman bin Muljam Al Muradi.

Baca Juga  Normal Baru, Jangan Ikut Mengubah Pemahamanmu [Bag 2-habis]

Mengenal Sosok Abdurrahman Ibnu Muljam

Dia adalah Lelaki yang Shaleh, Zuhud dan Bertakwa, mendapat Julukan Al-Maqri’. Dia merupakan seorang Huffazh alias penghafal Alquran. Dalam kitab al-A’lam karya al-Zarakly Khalifah Amirul Mu’minin Umar bin Khatttab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amru bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri Piramida itu. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khaththab bahkan menyatakan:

Abdurrahman bin Muljam, Salah Seorang Ahli Alquran yang Aku Prioritaskan Untukmu daripada untuk Diriku Sendiri. Jika Dia telah datang kepadamu, maka siapkan Rumah untuknya, untuk Dia mengajarkan Alquran kepada Kaum Muslimin, dan Muliakanlah Dia Wahai ‘Amru bin ‘Ash”.

Ibnu Muljam sebenarnya adalah sosok pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib. Sikap politiknya yang berbeda ketika terjadi perang Shiffin yang mengawali ketidakberpihakannya. Ketika kelompok Ali hampir menang dalam perang Shiffin (37 H/ 648 M.), Muawiyah menawarkan perundingan (tahkim) sebagai penyelesaian dan Ali pun menerimanya. Hal itu menyebabkan 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal Khawarij (berasal dari kata kharaja artinya keluar/membelot) termasuk di dalamnya adalah Ibnu Muljam.

Kelompok Khawarij dengan pemikiran radikalnya menyatakan bahwa permusuhan harus diselesaikan dengan kehendak Tuhan, bukan perundingan (arbitrase). Mereka berpegang teguh dengan dalil “lā hukma illa Allah” (tidak ada hukum yang harus ditaati kecuali hukum Allah) yang digunakan untuk menolak kebijakan Ali. Karena melawan kehendak Tuhan, Khawarij kemudian mengkafirkan (takfir) kepada Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Khawarij ini juga mengkafirkan terhadap mayoritas umat muslim yang moderat. saat melakukan Aksinya, Abdurrahman Ibnu Muljam juga tidak berhenti Merapal Surat Al Baqarah ayat 207 :

Baca Juga  Huluisasi dan Hilirisasi Integrasi Keilmuan di PTKI [Bagian 1]

Dan di antara Manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari Keridhoan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada Hamba-hamba-Nya.”

Lalu pada hari Jumat 17 Ramadhan–sebagian  riwayat menyatakan tanggal 22 Ramadhan– teriakan Abdurrahman bin Muljam Al Muradi membunuh khalifah Ali Ibn Abi Thalib saat waktu subuh. Sebagai hukuman atas tindakannya itu, ia kemudian dieksekusi mati dengan cara qishas. Namun, Ibnu Muljam tetap meyakini dengan sepenuh hati bahwa tindakannya itu adalah sebuah bentuk jihad.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam dewasa ini. Generasi pemuda yang mewarisi watak dan pemikiran Ibnu Muljam hari ini rajin untuk memprovokasi berjihad di jalan Allah dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama muslim sekalipun.

Paham radikalisme dan terorisme yang muncul belakangan ini merupakan generasi baru penerus ideologi Ibnu Muljam yang jauh melenceng dari nilai-nilai Islam yang mulia. Mereka merupakan golongan orang-orang saleh yang menyuarakan pembebasan umat Islam dari kesesatan; menawarkan jalan kebenaran menuju surga dengan cara mengkafirkan sesama Muslim.

Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Islam. Mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim. mereka dengan ringan menyebut sesat pada para ulama. Raut wajah mereka memancarkan kesalehan, bahkan tampak pada bekas sujud di dahi mereka. mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam.  Namun, sejatinya mereka adalah kelompok yang merugi. Rasulullah dalam sebuah hadis telah memperingatkan kelahiran generasi ibnu muljam ini:

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran, dimana bacaan Alquran kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Alquran, dan mereka menyangka bahwa Alquran itu adalah hujjah bagi mereka, namun ternyata Alquran itu adalah bencana atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka Keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya” (Hadits Sahih Riwayat Imam Muslim)

Baca Juga  Ilmu Catur Murti: Belajar dari Sosrokartono Bagaimana Melawan Covid-19

Kembali lagi soal rangkaian aksi teror yang telah saya singgung di atas; saya kira tragedi memilukan ini harus dijadikan pelajaran bagi kita generasi muslim hari ini agar belajar agama kepada para ulama yang benar-benar mengerti agama. Sehingga akhirnya tidak terjerumus ke dalam kebodohan yang menggiring pada aksi-aksi yang diyakini sebagai perjuangan membela kepentingan agama dan Tuhan. Padahal, sejatinya justru sebaliknya.

Dalam hal ini semua pihak harus berperan dari mulai masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan negara pun harus turut hadir dalam pencegahan dan penanganan ideologi takfiri yang melenceng jauh dari nilai-nilai dan ajaran Islam. [AA]

Ahmad Baedowi
Ahmad Baedowi Dosen Tidak Tetap di Universitas Indonesia