Abdurrahman Hidayat Ramadani Alumnus Pondok Pesantren Salaf Apik Kaliwungu dan saat ini menjadi Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Yogyakarta.

Genesis Spiritualisme di Bawah Bayang-bayang Media

2 min read

ltnnujabar.or.id

“Pergeseran komunikasi agama dari pola transfer pengetahuan yang bersifat tradisional-generik ke komunikasi agama berbasis internet merupakan tanda dari proses perubahan kebudayaan secara meluas, yang menyangkut ruang partisipasi publik yang terbuka. Media telah menempatkan agama sebagai objek pembicaraan sehari-hari dengan proses pemaknaan yang beragam dan kontestatif, tidak lagi bersifat absolut dan elitis. Partisipasi publik dalam produksi pengetahuan agama terseret ke dalam logika media yang menjadikan kebenaran agama bersifat deterministik, tidak partisipatif dan kontestatif, karena setiap media memikul beban ideologis.”

Itulah tulisan yang dikemukakan oleh Irwan Abdullah, seorang Guru Besar Antropologi, Universitas Gadjah Mada. Ya, perubahan budaya ini, saya menyebutnya dengan Genesis, yaitu; awal mula babakan baru dengan kelahiran baru. Di saat media sudah menjadi digital, kehidupan dikontrol oleh televisi, internet, dan gadget, tak terkecuali spiritualitas. Keterlibatan orang dalam partisipasi publik memungkinkan semua orang dengan mudah mendapatkan literatur yang dicari.

Dahulu ajaran agama bisa disampaikan karena melibatkan tokoh yang dianggap sebagai kunci dalam pewarisan nilai ajaran. Namun sekarang betapa multilateralnya komunikasi agama di media, baik yang berupa teks, gambar, suara, serta visual. Berbagai jenis media, semua informasi terkait agama jauh lebih mudah, lebih cepat, dan aksesibel untuk ditemukan. Bukan hanya itu, bahkan pengaruhnya memiliki kekuatan berlipat ganda, dianggap amat kohensif dari segi struktural maupun spiritual.

Lalu terlepas dari perubahan kebudayaan dan kemanfaatannya, apakah tetap ada dampak buruk dan dilemanya bagi kita semua? Menurut saya, redefinisi akan tetap mengantar kepada subjeknya yang bersifat paradoks. Internet tetaplah internet. Ia hanyalah sebuah alat. Tentang bagaimana dampak baik dan buruknya tergantung pada subjeknnya, yaitu si pengguna. Dalam entitas subjek terdapat kompleksitas perasaan, pengalaman, dan pengetahuan.

Baca Juga  Demokrasi di Indonesia Sudah Kehilangan Keseimbangan?

Selanjutnya, untuk mencerna fenomena genesis tersebut, alangkah baiknya kita menengok runtutan penggunaan teknologi informasi sekarang ini. Apakah kita sudah siap mempergunakannya? Atau justru kita yang belum siap menghadapi babakan baru? Kalau boleh jujur, sebenarnya saat ini media sosial lebih banyak dipergunakan untuk ajang adu populisme dengan kalimatnya yang rasis dan tak terpelajar.

Dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia, Haidar Bagir menganalogikan genesis ini dengan fenomena demokratisasi. Sebelumnya ia juga menegaskan bahwa dirinya tak mau bersifat nihilistik akan manfaat teknologi digital. Namun menurutnya, demokratisasi informasi yang lahir berkat internet dan teknologi digital ini telah menipiskan rasa “saling percaya” (trust).

Di satu sisi, walaupun penyamapaian informasi yang cenderung simpang siur, namun bagaimanapun ia tetaplah sebuah esensi demokrasi. Tapi, di sisi lain, suatu masyarakat atau negara juga tak mungkin bisa bertahan dengan trust yang terlalu tipis diantara warganya.

Seiring adanya pengamatan tentang luberan informasi, membuat orang mengalami kebingungan atau disorientasi. Perkara yang disampaikan secara bersamaan, namun dengan isi yang berbeda-beda, telah menyihir publik kedalam ketakutan dan kekhawatiran yang membelenggu. Lebih lagi, publik tidak memiliki cukup otoritas untuk melakukan resepsi sebagai khalayak aktif karena logika media bekerja secara determatif.

Senada dengan hal ini, Hjarvard juga mengatakan: “Agama yang terseret ke logika media maka agama akan lebih direpresentasikan melalui kode-kode pasar dan hiburan”. Fenomena gaya hijrah masa kini, misalnya, melalui kode-kode pasar, manusia seakan-akan dikontrol oleh kedahsyatan ruang digital, hal ini dibuktikan dengan role model yang dijadikan komodifikasi agama semakin marak lalu akibatnya manusia kehilangan kontrol terhadap apa yang mereka ciptakan sendiri.

Di bawah bayang-bayang media, acap kali agama kehilangan acuan norma, dari mulai kodifikasi agama, divergensi agama, bahkan sampai agama yang terkooptasi oleh kekuasaan. Semuanya disajikan serba materialistik. Sejauh ini teknologi digital telah melahirkan keaadan baru, yakni materialistik melesat jauh melampaui hal-hal yang bersifat spiritual, agama nampak kehilangan spiritualitasnya, agama yang dulunya di hegemoni oleh lembaga dan tokoh agama, sekarang khalayaklah yang terhegemoni oleh media.

Baca Juga  ‘Dosa-Dosa’ Media Massa di Era Pandemi Covid 19

Namun, terlepas dari semua konflik tersebut, bukanlah media yang salah, melainkan kita sebagai subjek yang belum siap. Subjek yang sifatnya kompleks tidak dihadirkan oleh kita ke dalam permenungan yang panjang, dari kesadaran dan kontrol diri, kehendak bebas, dan kreativitas. Generasi kita cenderung apatis tentang kedalaman berpikir dan terbiasa menyantap segala informasi secara instan. Memang barangkali generasi ini yang disebut oleh Nicholas Carr sebagai “orang-orang dangkal”.

Ogburn sebagai pakar sosiolog juga mengatakan, bahwa manusia modern mengalami gejala cultural leg atau kesenjangan budaya, dimana manusia kehilangan keseimbangan hidup dengan lenyapnya nilai-nilai tradisional yang luhur karena terdesak oleh watak modern-kapitalis. Hal ini, telah menelan korban spiritualitas, moralitas, kebenaran, dan rasa kindahan.

Abdurrahman Hidayat Ramadani
Abdurrahman Hidayat Ramadani Alumnus Pondok Pesantren Salaf Apik Kaliwungu dan saat ini menjadi Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Yogyakarta.