Akhmad Siddiq Dosen Studi Agama-agama, bergiat di Moderate Muslim Institute UIN Sunan Ampel Surabaya

Keistimewaan Ramadan dan Ketakwaan yang Diharapkan

2 min read

Ada 12 bulan dalam setahun. Tapi kenapa Allah swt memilih Ramadan sebagai bulan diwajibkannya puasa?

Tidak ada teks yang secara sharīh (terang benderang) menjelaskan mengapa Ramadan yang terpilih menampung kewajiban puasa. Biasanya para ulama memilih untuk mengulas keistimewaan-keistimewaan Ramadan, untuk kemudian membuat simpulan logis mengapa Ramadan yang dipillih, bukan bulan-bulan lain. Apa keistimewaan Ramadan?

Pertama, Ramadan menjadi istimewa karena kitab suci agama samawi diturunkan di bulan ini. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Shuhuf (lembaran-lembaran kitab suci) diturunkan kepada Nabi Ibrahim di malam pertama bulan Ramadan. Kitab Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadan. Kitab Zabur diturunkan di hari ke-12 bulan Ramadan. Kitab Injil diturunkan di hari ke-18 bulan Ramadan. Dan Alquran diturunkan pada hari ke-24 dari bulan Ramadan.” (Lihat Tafsir al-Thabari, 24: 377)

Hadis ini menyebutkan bahwa tak hanya Alquran yang turun di bulan Ramadan, tapi juga Taurat, Zabur, dan Injil. Menariknya, sementara yang masyhur di kalangan ulama Alquran diturunkan pada tanggal 17 Ramadan, hadis ini menyebut versi lain, yakni 24 Ramadan. Peristiwa turunnya Alquran ini dikenal dengan istilah Nuzūl al-Qur’ān.

Perlu digarisbawahi bahwa Nuzūl al-Qur’ān menjadi penanda awal kenabian Muhammad. Sejak itulah seorang Muhammad tidak lagi sekadar menjadi suami dari seorang perempuan terhormat bernama Khadijah, tapi disiapkan menjadi seorang pemimpin bagi agama baru yang kelak dikenal dengan Islam. Sebagaimana lazimnya sebuah agama selalu bermula dari perenungan-perenungan, Muhammad melakukan tahannuts-nya di gua Hira, tempat di mana Alquran turun untuk pertama kali.

Kedua, di bulan ini Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka. Tidak hanya itu, setan-setan pun dibelenggu. Nabi bersabda, “Ketika datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari Muslim).

Baca Juga  Presiden Oleng di Persimpangan Jalan Otoriter, Oligarki dan Negara Hukum-Indonesia (2)

Hadis ini bisa dimaknai secara literal bahwa banyak pintu yang terbuka dan tertutup, bahwa setan dibelenggu, tapi juga diartikan sebagai metafora bahwa Ramadan membuat kehendak-kehendak saleh manusia tumbuh subur dan kehendak-kehendak jahat mereka mati. Dengan begitu, upaya apapun dari setan untuk memperdaya manusia tidak akan berhasil.

Kenapa demikian? Karena di bulan ini orang-orang berpuasa. Mereka mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan cara yang paling intim, sebab puasa adalah hubungan rahasia antara seorang hamba dengan Allah-nya. Dalam sebuah hadis qudsi Allah swt berkata, “Semua amal perbuatan Bani Adam (kembali) kepadanya. Kecuali puasa: ia untukku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang yang berpuasa bisa saja minum di sebuah ruang tersembunyi, di sebuah kamar yang terkunci, lalu keluar dan bersikap seolah berpuasa di hadapan rekan-rekannya. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari penglihatan Allah. Dalam kacamata ihsān, ketika seseorang berpuasa, maka dia harus bersikap “seolah-olah dia melihat Allah, dan jika tidak bisa, bersikaplah seakan Allah melihatnya.” Di ranah ini, riyā—sebagai penyakit hati yang kejam dan menyerang manusia atas nama eksistensi—mati kutu.

Ketiga, Ramadan memiliki sebuah malam istimewa yang diselimuti kedamaian, di mana para malaikat atas izin Allah turun menyejukkan bumi. Malam itu disebut Lailatul Qadar. Lihat bagaimana secara gamblang Alquran menjelaskannya. “Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Q.S. al-Qadr [97]: 3)

Lailatul Qadar adalah malam yang istimewa sekaligus misteri. Berdasarkan hadis-hadis Rasul, malam ini diyakini ada di antara sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis riwayat Aisyah Nabi bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh akhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).

Baca Juga  Puasa dan Jihad Ekologis

Banyak cara untuk menemukan Lailatul Qadar di antara malam-malam ganjil sepuluh akhir bulan Ramadan. Dalam kitab kuning bisa kita temukan ilmu hisāb (penghitungan) untuk menentukan Lailatul Qadar. Misalnya, jika awal puasa jatuh pada hari A, maka Lailatul Qadar adalah tanggal sekian; jika awal puasa adalah hari B, maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal sekian. Lailatul Qadar adalah puzzle yang menarik minat para penghamba kebaikan dan para pengharap kedekatan dengan Tuhannya.

Keempat, Ramadan adalah bulan pertobatan dan ampunan. Dalam sebuah hadis sahih Rasulullah bersabda, “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim) Harapan atas ampunan (dan pertobatan) adalah kata kunci, sebab tak ada satupun manusia yang luput dari perbuatan dosa. Setiap manusia membutuhkan ampunan. Mengandalkan perbuatan baik saja tidak cukup tanpa adanya pengampunan dari Allah swt. Dalam hadis lain disebutkan, “(Antara) Ramadan dengan Ramadan (berikutnya), menjadi pelebur dosa-dosa.”

Masih ada banyak keistimewaan Ramadan lainnya yang bisa kita baca dan pelajari dalam kitab para ulama. Tapi satu alasan saja, bahwa Ramadan adalah “rumah” bagi orang yang berpuasa sudah cukup menggambarkannya sebagai bulan teristimewa. Kenapa demikian? Sebab puasa adalah kawah candradimuka, tempat di mana setiap Muslim ditempa agar menjadi orang bertakwa. Lalu apalagi yang dicari setelah ketakwaan? Bukankah orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa? Inna akramakum ‘inda-Allah atqākum. [MZ]

Akhmad Siddiq Dosen Studi Agama-agama, bergiat di Moderate Muslim Institute UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *