Ahmad Baedowi Dosen Universitas Indonesia

Etika Mengkritik Pemimpin Dalam Islam

2 min read

Source: ranahriau.com

Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang atau badan hukum yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi dan mengorganisir orang lain. Pemimpin mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena peran pemimpin akan sangat berpengaruh pada keamanan rakyat dan stabilitas negara. Jika bangsa aman, maka rakyat akan dapat beribadah dengan tenang. Oleh karenanya, para ulama mengatakan, “Tujuh puluh tahun berada dibawah pemimpin yang zalim lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin.”

Dalam pandangan Islam, pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin, minimal terhadap dirinya sendiri. Sehingga, setiap individu mempunyai kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar yakni dengan yang wajib untuk memerangi kedzaliman dan menegakkan keadilan dan perdamaian demi terwujudnya tujuan penciptaan manusia.

Hidup bermasyarakat memang tidak mudah. Masyarakat merupakan kelompok manusia yang memiliki kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama dan terdiri dari kelompok yang terkecil hingga yang paling besar. Untuk menciptakan kondisi yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang haruslah saling menghormati dan menghargai, termasuk dalam hal menyampaikan kritik.

Misalnya, seorang pemimpin dalam membuat suatu kebijakan terkadang melahirkan pro dan kontra dari kalangan masyarakat. Dalam kehidupans sehari-hari kita, seringkali terjadi aksi mengkritik yang ditujukan kepada pemimpin namun terkadang mereka tidak mengindahkan dasar-dasar atau etika dalam mengkritik. Hal ini kerap terjadi didasarkan karena kita hidup di alam demokrasi yang mana telah diberikan ruang bebas untuk menyampaikan sebuah kritikan atau ketidakpuasan terhadap sebuah kebijakan.

Jika dilihat dari sudut pandan Islam, sebenarnya, menasehati atau menyampaikan kritikan pada pemimpin adalah bagian dari ibadah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Kanjeng Nabi saw:

وقال صلى الله عليه وسلم: أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

Baca Juga  Muhammad Asad Shahab: Kemerdekaan dan Proklamasi Berbahasa Arab

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik jihad adalah ucapan yang hak disisi pemimpin yang zalim. (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Memberikan kritik, nasihat dan masukan kepada pemimpin dalam iklim demokrasi merupakan hal yang sah, namun dalam hal ini perlu diingat bahwa cara untuk menyampaikan juga perlu diperhatikan. Imam Sufyan Ats Tsauri pernah berkata:

Seseorang tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah, adil ketika menyeru dan mencegah, mengilmui sesuatu yang diseru dan dicegahnya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ul Ulum wal Hikam).

Dikisahkan bahwa pada masa dinasti Abbasiyah, Khalifah Ma’mun Ar-Rasyid merupakan pemimpin yang kurang disukai oleh rakyatnya, bahkan banyak ulama yang memusuhinya. Pada masa itu, seringkali mimbar-mimbar agama dimanfaatkan oleh para mubaligh untuk menyerukan masyarakat agar melawan kemungkaran dan kedzaliman para penguasa. Hingga pada suatu hari ketika khalifah al-Ma’mun berkunjung di Basrah dan mengikuti salat Jumat di Masjid kota tersebut, tiba-tiba khatib menyebut nama sang Khalifah dengan nada tidak sopan dan kasar.

Khalifah kemudian memanggil khatib tersebut ke istana kemudian mengingatkannya dengan menceritakan kisah Fir’aun yang pada saat itu dikenal sebagai pemimpin yang kejam, dholim serta melampaui batas. Namun, nabi Musa dan Harun yang diutus oleh Allah mengingatkan Fir’aun diperintahkan untuk menggunakan cara yang lemah lembut. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Thaha ayat 44:

ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ٤٣ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ ٤٤

Pergilah kamu berdua kepada Fir´aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut

Baca Juga  Demokrasi di Indonesia Sudah Kehilangan Keseimbangan?

Ayat di atas, menguraikan salah satu sikap ataupun etika tentang kritik terhadap pemimpin sebagaimana kisah Fir’aun yang melampaui batas dalam memimpin. Dalam ayat tersebut, dijelaskan perintah Allah kepada Nabi Musa dalam menyampaikan perkara kebaikan terhadap raja Fir’aun untuk berbicara lemah lembut agar Fir’aun bisa memahami dan menerima kritikan dalam hal etika sebagai pemimpin.

Dalam hal mengkritik, saya kira banyak sekali hal yang harus diperhatikan; pertama, pahami dan kuasai terlebih dahulu permasalahan yang akan dikritisi, sehingga tidak muncul kesalahpahaman. kedua, menyampaikannya dengan santun seperti telah dijelaskan dalm ayat di atas yakni dengan perkataan yang baik (qaulan ma’rufa), benar (sadidan), mudah dipahami (baligha), pantas (maysura) dan yang lemah lembut (layyina) sehingga nasihat, masukan dan kritik tersebut  tersebut bisa tersampaikan dengan baik sesuai dengan agama dan dapat dipertimbangkan oleh sang pemimpin. [AA]

Ahmad Baedowi
Ahmad Baedowi Dosen Universitas Indonesia