Ahmad Baedowi Dosen Universitas Indonesia

Hakikat Spiritual Dalam Ibadah Sholat

3 min read

nu.or.id

Shalat merupakan salah satu bentuk ibadah sekaligus sebagai wujud kepercayaan, ketundukan dan kepatuhan seseorang hamba terhadap Tuhannya. Melalui ibadah kepada-Nya manusia dapat memperoleh keagungan dan kesempurnaan sebagai seorang hamba sejati.

Shalat adalah salah satu rukun agama terbesar yang bersifat praktik (amali), sedangkan diantara hal yang sangat dituntut di dalam pelaksanan shalat ialah “keKhusyuan‟. Begitu pentingnya shalat sampai Allah memerintahkan sendiri perintah ini kepada Nabi Muhammad Saw melalui perjalanan Isra‟ Mi‟raj Nabi Muhammad SAW.

Ibadah shalat juga merupakan sarana komunikasi antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai khalik, sebagai media untuk membangun manusia menjadi taqwa, sarana untuk berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah.

Di antara tujuan dari ibadah shalat salah satunya adalah takhsya ‘anil fahsya wal munkar, mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Orang yang mendirikan shalat seharusnya sudah bisa menjadikan dirinya lebih baik yakni dengan terhindar dari perbuatan yang jahat dan merugikan, dapat bertranformasi diri, menjadi naik, sebagai jalan menuju Allah, sebagai penenang hati dan sebagai penghilang kecemasan pada setiap orang yang menjalankannya.

Namun, pada kenyataannya masih banyak orang yang shalat namun tidak mendapatkan apa-apa dari ibadah shalatnya. Sehingga shalat tidak menjadikannya untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dalam Al-Qur’an Surat Al Ankabut ayat 45 Allah berfirman terkait dengan keutamaan sholat.

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dalam pandangan Islam, Shalat merupakan bentuk komunikasi antara makhluk dan khaliknya.  Komunikasi tersebut dimaksudkan untuk menghadap sungguh-sungguh dan ikhlas kepada Allah SWT. Di samping itu, shalat dimaksudkan juga untuk meneguhkan keesaan Allah, tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Baca Juga  Manfaat Kopi Menurut Pandangan Para Sufi

Ibadah shalat yang dilakukan dengan baik, akan berdampak bagi orang yang melakukannya. Ibadah yang dilakukannya akan membawa ketenangan, ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan manusia. Manusia yang tenang hatinya tidak akan goncang dan sedih hatinya ketika ditimpa musibah.

Melalui pelaksanaan ibadah shalat secara terus-menerus dari waktu kewaktu secara kontinu yang telah di tentukan syarat dan rukunnya diharapkan akan menjadi pengingat kepada sang Maha Pencipta, sehingga dalam melakukan segala aktivitas akan terasa diawasi dan di perhatikan oleh dzat yang maha mengetahui, maha melihat dan maha mendengar. Konsekuensi dari hal tersebut adalah terhindar dari melakukan segala perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Sebagaimana aktivitas duniawi, shalat membutuhkan partisipasi dari organ manusia, yakni dengan jasad dan hati. Walaupun telah menunaikan shalat lima waktu dalam sehari, shalatnya belum bisa dikatakan sempurna apabila tidak disertai “kehadiran” hati. Nilai hakiki dari suatu ibadah tidak dinilai dari semata-mata aktifitas fisik semata. namun Kehadiran “hati” juga merupakan wujud lain dari hubungan seorang hamba dengan Penciptanya.

Ibadah shalat bukan sekedar merupakan kegiatan ritual belaka. namun merupakan bentuk spiritualitas manusia. Hal ini dapat dilihat dari tujuan yang tampak secara lahiriah di mana seorang hamba yang bersangkutan berkeinginan agar memiliki kedekatan lebih kepada Allah Swt sang pencipta yang merupakan tujuan secara batin perjalanan seseorang mukmin menuju Tuhannya.

Di era modern ini banyak sekali gejala simbol pada shalat yang menghilangkan kedalam dan makna spiritualitas dari kehidupan beragama manusia. Karena kehilangan orientasi spiritual tersebut, hati manusia menjadi kering, gelisah dan tidak pernah berhasil merasakan ketentraman dan ketenangan hidup. Walaupun secara lahiriah seseorang itu rajin dalam menjalankan shalat namun, shalatnya baru dilaksanakan dari apa yang dipelajari dan dilihat, belum berupaya menumbuhkan dan menghidupkan makna sholat secara hakiki.

Baca Juga  Pandemi dan Lanskap Keberagamaan yang Berubah (Bag. 1)

Sebagai salah satu bagian penting ibadah dalam Islam sebagaimana bangunan ibadah yang lain sholat juga memiliki banyak keistimewaan. Shalat tidak hanya memiliki hikmah spesifik dalam setiap gerakan fisik dan bacaannya, namun secara umum shalat juga memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan kepribadian seorang muslim.

Hal ini tentu saja tidak serta merta dan langsung didapatkan dalam pelaksanaan shalat. Manfaatnya tanpa terasa dan secara perlahan akan masuk dalam diri seorang muslim yang taat melaksanakannya.

Apabila shalat wajib yang lima waktu kita tinjau dari segi kesehatan mental, maka akan dapat kita pahami mengapa shalat itu diwajibkan Allah dan apa sebab mengapa jumlahnya lima kali dalam shari semalam, mengapa waktu bagi masing-masingnya ditentukan pula dan tidak boleh didahului dan tidak boleh dilampaui.

Ibadah shalat adalah ajaran agama yang diwahyukan dari Al Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu ibadah shalat pasti mempunyai banyak hikmah di dalamnya. Jika kita pelajari Al Qur’an dan as-sunnah maka akan ditemukan penjelasan tentang hikmah dari setiap pelaksanaan shalat yang kita laksanakan, di antaranya adalah pengaruh pelaksanaan terhadap kesehatan mental dan spiritual manusia.

Dalam shalat terjadi hubungan rohani atau spiritual antara manusia dengan Allah. Dalam aksi spiritualisasi islam, shalat dipandang sebagai munajat (berdoa dalam hati dengan khusu‟) kepada Allah. Orang yang sedang shalat, dalam melakukan munajat, tidak merasa sendiri.

Ia akan merasa seolah-olah berhadapan dengan Allah, serta didengar dan diperhatikan munajatnya. Suasana spiritualitas shalat yang demikian, dapat menolong orang mengungkapkan segala perasaan, mencurahkan keluhan dan permasalahannya kepada Allah. Dengan suasana shalat yang khusyu itu pula orang memperoleh ketenangan jiwa (annafsul muthmainnah) karena merasa diri dekat dengan Allah dan memperoleh ampunannya.

Baca Juga  Tentang Hidayah Tuhan yang Selalu Menjadi Misteri

Dalam Ihya Ulumiddin Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa sesungguhnya shalat merupakan zikir, bacaan, munajat dan dialog. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan sempurna kecuali dengan kehadiran hati, dan kesempurnaannya diperoleh dengan pemahaman, pengagungan, takut, harapan, dan rasa malu. Setiap bertambah pengetahuan terhadap Allah, bertambah pula ketakutan dan akan dapat pula memperoleh kehadiran hati.

Begitu besar dan luasnya makna di balik pelaksanaan ibadah shalat, maka sangat perlu sedari dini di tanamkan pada setiap jiwa yang selama ini hanya mengetahui dan memahami pengertian sholat dari tata cara dan gerakan-gerakan saja tanpa mengetahui apa makna nilai-nilai spiritualitas yang dapat dirasakan dalam pengerjaan ibadah shalat. (mmsm)

Ahmad Baedowi
Ahmad Baedowi Dosen Universitas Indonesia