Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Mengenal Tafsir Rahmat: Tafsir Modernis Karya Oemar Bakry

2 min read

Sejak lahirnya kitab tafsir Tarjuman al-Mustafid karya ‘Abdurrauf as Singkel, penulisan kitab tafsir di Indonesia terus mengalami perkembangan. Para mufasir dengan ciri khas Nusantara terus bermunculan hingga hari ini.

Salah satu mufasir yang ikut andil dalam meramaikan khazanah tafsir di Indonesia adalah Oemar Bakry dengan karyanya Tafsir Rahmat. Tafsir ini merupakan salah satu karya tafsir yang hadir pascakemerdekaan.

Oemar Bakry bernama lengkap Oemar bakry Datu Tan Besar. Ia lahir pada 26 Juni 1916 di Desa Kacang, pinggir Danau Singkarak, Sumatera Barat. Bakry lahir ketika gerakan pembaharuan sedang dalam masa penguatan yang dipelopori oleh Jamal al-Din al-Afghani dan Muhammad Abduh ke wilayah Asia Tenggara termasuk Sumatera Barat. Oleh sebab itu, Bakry terlahir dari kalangan keluarga yang modernis dan agamis yang sadar akan pentingnya mencari ilmu.

Transmisi Keilmuan

Latar belakang keagamaan dari keluarga Bakry yang modernis mengantarkan perjalanan pendidikannya yang sangat gemilang. Transmisi keilmuannya diawali dengan menempuh pendidikan dasarnya di sekolah Sambungan Singkarak.

Kemudian ia melanjutkan ke sekolah Diniyah Putra padang Panjang. Bersamaan dengan itu, Bakry juga mengambil sekolah menengah di Thawalib School. Yang menjadi ciri utama Thawalib School adalah metode pembelajaran dengan cara menghafal dan menggunaakn buku-buku karya lama.

Semangat menuntut ilmu dalam diri Bakry tidak membuatnya berhenti begitu saja. Setelah lulus dari Thawlib School ia melanjutkan pendidikannya di Kulliyatul Mu’allimin Islamiyah Padang. Sambil menuntut di KMI Padang, Bakry menyempatkan dirinya untuk menjadi pengajar di Thawalib School tempat ia bersekolah dulu selama tiga tahun.

Pascalulus dari KMI perjalanan karir bakri mengalami peningkatan. Walaupun begitu, semangatnya dalam mencari ilmu tidak berhenti. Pada tahun 1954 Bakry melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia dengan mengambil konstentrasi pada bidang sastra.

Baca Juga  Genealogi Kesantrian Humanis Gus Dur: Menasabkan Humanisme Pada Pesantren (1)

Selain memfokuskan kiprahnya dalam dunia pendidikan, Bakry juga terjun pada bidang politik dan dakwah. Dalam bidang politik Bakry pernah menjadi anggota partai Politik Persatuan Muslim Indonesia (Permi), anggota pimpinan Masyumi, ketua IKAPI Jakarta Raya, dan lain-lain.

Dalam bidang dakwah ia pernah beberapa kali mengisi ceramah di al-Azhar Mesir, IAIN Sunan Ampel, IAIN Imam Bonjol dan Universitas Bung Hatta, kota Padang. Perjalanan karir dan keilmuan Bakry yang cukup panjang menjadikannya sebagai orang yang multitalenta.

Menulis Tafsir Rahmat

Kesibukannya dalam dunia politik, dawah, dan pendidikan tidak menjadikan Bakry lupa untuk menciptakan sebuah karya. Selama hidupnya, Bakry telah menulis berbagai tulisan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Arab. Salah satu karyanya yang cukup fenomenal dan menjadi magnum opus adalah adalah Tafsir Rahmat.

Tafsir ini ditulis kurang lebih dua tahun dimulai pada tahun 1981 dan selesai pada 1983. Ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia lengkap 30 Juz yang kemudian diterbitkan pada tahun 1983.

Tafsir Rahmat ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia agar mudah dipahami oleh masyarakat umum. Hal ini karena kebanyakan kaum muslimin pada waktu itu tidak paham dengan bahasa Arab.

Bakry menyajikan tafsirnya dengan dengan ringkas karena menyesuaikan dengan kebutuhan zaman yang menurutnya pada waktu itu orang-orang sangat sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk membaca tafsir yang panjang.

Meskipun menggunakan bahasa Indonesia, Bakry berusaha untuk memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terjemahan Al-Qur’an yang ada sebelumnya telah Bakry perbarui karena menurut Bakry struktur bahasa yang digunakan cukup rumit untuk dipahami.

Sebagai contoh, pada QS. Ali Imran ayat 123 yang artinya: “Dan, sesungguhnya telah menolong kamu akan Allah di Badar”. Padahal yang terjemahan yang benar dalam bahasa Indonesia adalah “dan sesunguhnya Allah telah menolong kamu di Badar.” Koreksi struktur bahasa seperti inilah yang banyak dilakukan oleh Bakry dalam kitab tafsirnya.

Baca Juga  Mengelola Problem Psikologis Saat New Normal

Jika diperhatikan, maka corak dalam Tafsir Rahmat adalah adabi ijtima’i (sosial kemasyarakatan). Dalam penafsirannya, Bakry berusaha untuk menafsirkan Al-Qur’an yang ditujukan kepada masyarakat yang tentu saja dikaitkan dengan konteks keilmuan modern.

Di sisi lain, Bakry juga menunjukkan latar belakang dirinya yang berangkat dari ruang sosial Muhammadiyah yang dikenal modernis. Oleh sebab itu, ajaran-ajaran modernis sangat kental dalam penafsirannya.

Dalam menafsirkan QS. al-Isra’ ayat 9-10, Bakry menyinggung teori-teori modern seperti komunisme dan kapitalisme. Kemudian penafsiran pada QS. Fushshilat ayat 9-12 tentang astronomi, Bakry mengutip karya Mary T. Bruch yang berjudul The Night Sky. Bahkan pengalamannya dalam dunia politik juga turut menghiasi penafsirannya dalam kitab tafsir tersebut.

Hemat penulis, Tafsir Rahmat ini merupakan kitab tafsir dengan corak modernis yang lahir pascakemerdekaan. sehingga penafsirannya banyak berbicara dalam konteks sosial-kemasyarkatan serta politik yang didukung dengan teori-teori modern. Wallahualam. [AR]

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta