Nur Rif’ah Hasaniy Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

[Cerpen] Senja di Hari Sabtu

5 min read

Foto: phinemo.com
Foto: phinemo.com

Pada senja di hari Sabtu ini, akan kuceritakan padamu, Sahabat. Kau selalu bertanya bukan, mengapa selalu kunikmati nuansa senja dengan secangkir kopi di kafe ini? Kau selalu bertanya bukan, siapa sesunggguhnya lelaki yang senantiasa kautemui dalam buku-bukuku? Lelaki yang membuat kumenangis diam-diam saat malam sunyi. Lelaki yang kulukis misterius dengan pena hitam.

Maka, sadarkan aku, Sahabat. Agar nanti aku tak menitikkan kembali butir-butir harapan dari mataku. Sadarkan aku bahwa tak boleh ada air mata di sini. Baik. Akan kumulai.

~(***)~

Meskipun sudah seminggu terakhir langit Jogja diselimuti awan mendung, baru malam itu hujan sekonyong-konyong menggebuki jalanan Malioboro. Seolah sengaja memaksaku berteduh di kafe langganan kami dulu. Ah kafe ini, sedemikian rupa aku mengingatnya, padalah mungkin dia tak pernah mengenangnya.

Sore itu, aku sedang mengibas bekas cipratan air hujan di celana, dan tiba-tiba seorang lelaki datang. Aku terkejut. Namun aku yakin, meski samar, dapat kulihat seorang di depanku itu tengah tersenyum. Aku berdiri, berusaha agar mampu melihatnya lebih dekat. Lalu, kurasa aku telah lupa cara bernafas saat kutahu, itu benar dirinya. Jogja. Kembali mempertemukan kami.

Setelah beberapa menit kami terpaku dalam diam, lelaki itu meraih tanganku. Berisyarat agar aku mengikutinya. Kami masuk beriringan, masih dalam diam. Dia membimbingku menuju meja paling ujung dengan pemandangan langsung ke halaman kafe, yang sebenarnya hanya embun piasan hujanlah yang tampak di jendela.

‘’Kau masih kedinginan, Ay?’’

‘’Ah, enggak.’’

‘’Minumlah dulu cappucinonya. Kau sudah sedikit berubah ya, gak secerewet dulu.’’

‘’Berubah? Enggak Raf, cuma karena kita baru bertemu saja mungkin. Aku justru punya banyak pertanyaan untukmu. Tapi biarlah. Kita bicarakan nanti saja.’’

‘’Iya, Ay. Aku ngerti. Itulah mengapa aku kembali ke Jogja.’’

Aku memutuskan membuka percakapan dengan bertanya dari mana saja dia pergi tiga tahun terakhir. Dari situ aku tau, sejak kelas 2 SMA Raffa berhenti dari sekolah kemudian pindah ke pondok pesantren di Malang. Pondok pesantren khusus menghafal al-Qur’an.

‘’Kau tahu, Ay, al-Qur’an itu cantik. Jika kau mencintai seseorang karena kecantikan atau ketampanannya, maka tak ada alasan bagimu untuk tak mencintai al-Qur’an,’’ ujarnya.

Sedetik kemudian, kami larut dalam nostalgia gila. Saat kusadari malam mulai datang, kulirik jam di dinding kafe. Pukul tujuh dan kami masih sibuk menebus rindu yang baru saja menemukan jawaban.

‘’Sudah empat jam, Raf.’’ Aku menyela sebelum Raffa kembali bicara.

‘’Kau mau pulang, Ay? Mau kuantar?’’

‘’Gak perlu, Raf. Kosku dekat sini.’’

‘’Baiklah. Temui aku sabtu depan di tempat dan waktu yang sama, Ay.’’

Baca Juga  Alif dan Mim (8): Yang Hadir Tanpa Disadari

Aku tersenyum. Dan segera beranjak pergi setelah kubalas ucapan selamat tinggal darinya. Sabtu yang manis itu mengubah hidupku. Memulihkan jiwa yang merapuh sejak tiga tahun yang lalu. Untuk kali yang kedua, kami bertemu dan kembali jatuh cinta.

Sejak hari itu, Sabtu selalu menjadi akhir pekan yang menyenangkan. Kami terbiasa menghabiskan senja bersama, menyusuri jejalan kota Jogja seolah tanpa lelah, pun tanpa ujung. Hingga pada suatu Sabtu, saat hanya memilih duduk di taman, kami tenggelam dalam perbincangan yang dalam meski singkat.

‘’Raf, bagaimana harus kuartikan Sabtu-Sabtu kita?’’

‘’Ay, sekarang aku tanya. Kamu pilih kita yang dulu, ada ikatan tapi kita tidak bahagia. Atau kita yang sekarang, tidak ada ikatan tapi kita bahagia? Jujur, Ay. Kalo aku pilih kita yang sekarang.’’

Pertanyaan Raffa mengejutkanku. Tak mengertikah bahwa sebenarnya, aku hanya takut Raffa pergi lagi.

‘’A…aku juga pilih kita yang sekarang, Raf.’’

‘’Bagus.’’

‘’Tapi…aku…takut.’’

‘’Takut kenapa? Aku ngilang lagi?’’

‘’Ya.’’

‘’Bismillahirrahmannirrahim. Aku siap. Gak akan ngilang lagi.’’

‘’Baik, aku percaya Raf.’’

Kami saling menatap, tersenyum, lalu kembali menikmati lembayung senja di tanah Jogja. Lampu-lampu sekitar mulai dihidupkan. Menyaingi jingga yang masih menyirami taman kota. Sejak saat itu, aku merasa bahwa aku tak harus menatapnya hanya dalam sajak-sajak dan puisi-puisi saja. Aku tak perlu lagi hanya memandangnya melalui pena. Kini doaku menjelma Raffa yang nyata. Begitulah. Raffa salah satu alasan kupercaya pada harapan.

‘’Ay. Ayahku pernah bilang. ‘Jangan sampek salah pilih cewek Le. Nggolek sing bener-bener cinta ndek kowe, sing gelem diajak mlarat, gak sayang mek enek duwik tok… sing mapan ekonomine lan wong sing urip ora patek glamor’.’’

‘’Benarkah? Kau akan menemukannya saat kau bersamaku Raf.’’ Aku tersenyum, antusias dan percaya diri.

‘’Berarti kamu siap mlarat bareng?’’

‘’Aku gak mau janji. Gak perlu berlebihan yakinin kamu kalau aku terima kamu apa adanya. Lebih baik langsung aku buktikan saja.’’

‘’Bagus. Itu yang aku suka.’’

Kita tertawa bersama. Menyadari betapa sudah sejauh ini Tuhan membahagiakan kita. Aku mulai bisa menerima. Raffa tak pernah benar-benar pergi. Dia hanya ingin berfokus. Buktinya, saat ini dia kembali.

‘’Tahun depan aku berangkat ke Turki, Ay. Beasiswa sekaligus pengabdian.’’

‘’Aku mendukung apapun keputusanmu, Raf.’’

‘’Sabarlah menanti seperti yang pernah kau lakukan.’’

‘’Tentu. Tapi berjanjilah Raf. Kemana pun kau pergi, ingatlah selalu kemana kau harus kembali,’’ pintaku. Lalu disusul anggukan dari Raffa. Dalam beberapa detik, serangkaian kejadian yang kualami saat Raffa pergi, berkelebat di ingatanku. Ahh penantian, penantian memang tak akan mengkhianati.

Baca Juga  [Review Buku] NU dan Muhammadiyah Pionir Moderatisme Islam di Indonesia

Hingga kini, apapun tentangnya masih kupelihara dengan baik dan masih tetap cantik seperti dulu. Tak lain karena Raffa tetap saja seistimewa dahulu.

~(***)~

Hari itu Sabtu. Raffa menelepon agar aku menemuinya di kafe langganan kami. Sepulang kuliah, aku istirahat sejenak. Tepat pukul tiga sore, aku segera berangkat. Seperti pertemuan sebelumnya, Raffa datang lebih awal dariku.

Sesampainya di kafe, ku lihat Raffa di ujung ruangan duduk dengan dua cangkir cappucino. Tampak maskulin dengan T-shirt putih dan celana levis. Mendadak, kenangan putih abu-abu kita melintas di benakku. Sejauh yang aku ingat, sosoknya masih sama. Dingin tapi romantis. Cuek tapi menyenangkan.

‘’Sudah berapa menit yang lalu Raf?’’

‘’Gak lama. Untukmu, menunggu pun istimewa’’

‘’Ah, kau Raf! Ah, ya. Kemarin kau bilang ada yang akan kau bicarakan.’’

‘’Ya, Ay. Tapi aku belum siap kabari kamu.’’

‘’Kenapa begitu?’’

Raffa tersenyum. Alih-alih memberiku jawaban, dia justru membicarakan hal lain yang menurutku bukan tujuannya mengundangku ke sini. Tak apalah, pikirku. Memaksanya melakukan hal yang tak ingin ia lakukan bukanlah hal baik.

Raffa terus bicara, hingga kurasa ia mulai lelah. Ia meneguk cappucinonya yang tak lagi tampak mengepul. Entah mengapa, aku merasa ada hal yang tak biasa dari sikapnya hari ini.

Aku menatap Raffa yang sedang memandang jendela kafe, lalu menunduk seolah tak ingin dia tahu bahwa aku sedang memperhatikannya. Lagi dan lagi, aku memuja ketampanannya.

‘’Nayla.’’

Deg. Raffa tak pernah memanggilku dengan nama itu.

‘’Ya?’’

Raffa menatapku lekat-lekat.

‘’Katakan, Ay. Apa yang kau inginkan dari cinta kita?’’

‘’Surga.’’

‘’Ay, sebenarnya aku tak ingin memberitahumu. Tapi kau berhak untuk tahu.’’

‘’Katakan, Raf’’

‘’Ibuku ingin menantu anak seorang kyai.’’

Seketika, aku tak menemukan kata-kata. Aku tak tau bagaimana harus kurespon ucapannya. Bagaimana tidak, ini menyangkut perasaan dan tentunya kelanjutan hubungan kami.

Aku menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan mata. Perlahan, sesuatu mengalir hangat dari mataku. Diam-diam, aku bertanya. Sesulit inikah mencintaimu? Kau datang dan pergi seolah cinta dan kesempurnaan akannya adalah sesuatu tanpa harga.

‘’Ok, sebenarnya, saat aku pulang dari sini bersamamu dua minggu yang lalu, guru SD-ku datang ke rumah, kebetulan juga beliau akrab dengan ibu. Awalnya beliau basa-basi sampek akhirnya beliau bilang kalo pingin jodohin keponakannya denganku. Dan yang lebih bikin aku terkejut, ibu bilang, guruku itu bukan orang pertama yang kasih tawaran. Ibuku menolak tawaran itu dan ibu bilang, ibu sudah mengikatku dengan seseorang yang lain.’’

Baca Juga  Melihat Kembali Hadis-Hadis Populer tentang Ramadan Yang (Ternyata) Lemah

Aku membisu. Semakin lama, aku semakin tak sanggup mendengar penjelasan Raffa. Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Kedatangan Raffa ternyata bukan awal seperti yang selama ini aku pikirkan.

‘’Ini ujian, Ay. Bahkan kamu sendiri pernah bilang kan, bahwa cinta kita sebenarnya adalah tantangan? Jangan sedih. Masih ada aku yang insya Allah masih akan selalu nguatin kamu. Lebih baik kamu baca al-Qur’an dan shalat malam saja. Kau ingat bukan? Bagaimana aku menyatakan cintaku dengan mengirimimu pesan di al-Qur’an birumu? Ya, Ay. Saat kuselipkan surat.’’ Raffa menerawang. ‘’Lewat surat itu, aku ingin kau buka sebuah ayat yang artinya ‘Aku telah memilihmu untuk diriku’. Kau memilikiku Ay, hati ini akan selalu untukmu. Kau tau, Ay? Aku mencintai al-Qur’an. Dan mencintaimu adalah salah satu caraku memperdalam cinta itu.’’

‘’Cukup. Aku mengerti Raf. Aku akan segera pergi jika itu maumu.’’ Aku tidak kuat untuk tidak meninggalkan tempat itu dengan segera.

Aku pergi tanpa kudengar Raffa memanggilku agar aku tetap tinggal. Maka bisa kuartikan bahwa ia memang ingin melepasku. Tidak. Aku tidak akan menyesal. Aku pergi karena aku tahu. Tak bisa kulanjutkan hidup jika aku masih mencintainya.

~(***)~

‘’Begitulah, Gi. Semua sudah berakhir.’’ Aku menatap sahabatku.

‘’Kau hebat, Nay. Cinta yang kau miliki ternyata mampu membuatmu tak membencinya ya.’’ Anggi merangkulku.

‘’Bagiku, seperti tak ada alasan untuk membenci Raffa lebih dari satu detik saja.’’

‘’Aku yakin Nay, suatu saat nanti akan ada yang mampu membaca kesetiaanmu tanpa kau minta.’’

‘’Ya. Tapi, meski tulus, penantian harus tetap berlogika. I’ll go when I should go.’’

‘’Nah, maka dari itu. Ayo kita pergi. Aku gak mau kamu sedih hanya karena duduk di sini.’’

Aku mengangguk, lalu Anggi tersenyum dan menggenggam tanganku. Kuhirupi aroma kopi di kafe itu sebelum beranjak pulang. Ahh, Raffa, sedemikian rupa aku mencintaimu, padalah mungkin kau tak pernah mencintaiku.

Pada senja di hari Sabtu, Malioboro dan kopi di tanah Jogja adalah kenangan. Dan Raffa(ku) akan menjelma sajak-sajak dan puisi-puisi lagi dalam barisan hari ke depan. Karena begitulah, menulis tentang Raffa adalah hobiku, dan pena adalah tentang bagaimana aku mengenalnya.

~(***)~

Aku minta maaf, Nayla. Aku gak berani bilang dan tentu saja aku gak tega karena kamu sahabatku. Aku gak bisa bayangin kalau kamu tahu bahwa perempuan yang Ibu Raffa inginkan adalah aku. Sedangkan aku sendiri memang sudah lama menaruh hati pada Raffa. Aku sungguh minta maaf, sahabatku. [AZH, MZ]

Nur Rif’ah Hasaniy Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *