Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Alissa Wahid: Penting Mengetahui Fungsi TNI Agar Kejadian Pahit Tak Terulang

1 min read

3 hari sebelum menuju puncak Festival GUSDURian semakin terasa ramai dan hangat di berbagai forum diskusi yang berlangsung baik secara zoominar maupun live streaming facebook. pagi ini zoominar Ziarah Pemikiran Gus Dur mengangkat tema diskusi “Gus Dur Dan Militerisme” yang dibuka langsung oleh Alissa Wahid selaku Koordinator Jaringan GUSDURian Nasional sekaligus Putri dari mendiang KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Alissa membuka diskusi pagi ini dengan menjelaskan fungsi militer sebenarnya yang diupayakan oleh Gus Dur ketika menjabat Presiden RI yaitu sebagai kekuatan untuk pertahanan negara dan bangsa, bukan sebagai kekuatan yang malah ikut mengatur masyarakat sipil. Beliau juga menegaskan upaya itu sebagai koreksi atas puluhan tahun keberadaan rezim yang menempatkan posisi militer tidak secara proporsional sampai harus megatur kehidupan bangsa dan negara secara penuh dari pertahanan sampai kehidupan sehari-hari.

“Catatannya banyak sekali terutama tentang melawan penggunaan militerisme dan opresi ala militer dalam ruang-ruang pembangunan seperti, saat pembangunan Waduk Kedung Ombo dan kecenderungan penggunaan militerisme dalam berbagai hal termasuk dalam memilih mentri, kemudian gubernur, dan lainnya”. Papar Alissa.

Putri sulung dari mendiang Gus Dur itu juga menerangkan bahwa yang demikian itu merupakan satu hal utama usaha Presiden Gus Dur secara sistematis dan délibératif untuk menempatkan kembali militer pada porsinya, karena hanya pada zaman kepemimpinan Gus Dur lah posisi militer dan kepolisian dipisahkan. Kemudian beliau menceritakan kenapa perlu ada pemisahan antara TNI dan Kepolisian.

Alissa melanjutkan dengan jawaban yang disampaikan oleh Gus Dur “Ya dipisah. Karena gak ada mabok Polisi. Lalu, Apa maksudnya? Jadi, dulu terkenal sekali ada iklan Antimo (obat untuk mabuk perjalanan) dan lagunya seperti ini, Antimo obat anti mabuk, mabuk laut, darat, dan udara. TNI itu kan ada Angkatan Darat, Laut dan Udara, tapi, tidak ada angkatan kepolisian. Jadi, harus dipisah memang! ” Jelasnya disertai tawa kecil.

Baca Juga  Istiqlal Tidak Gelar Salat Idul Adha 1441H?

Point pentingnya adalah jika yang diberikan otoritas untuk memegang senjata itu dijadikan satu komando maka dampaknya akan berbahaya sekali.

Dalam diskusi Tunas 2020 Ziarah Pemikiran Gus Dur dan Militerisme (13/12) yang diberlangsung tadi pagi, koordinator jaringan GUSDURian Nasional itu pun menyampaikan alasan kenapa diskusi ini perlu dilakukan, melihat saat ini kecenderungan para pemimpin yang berlatarbelakang TNI hadir kembali dalam masyarakat sipil, serta mengingat dampak yang terjadi pada kontestasi politik dan pelengseran Gus Dur kala itu.

“Upaya kita untuk mendiskusikan ini bukan untuk mencari kesalahan, tetapi kita ingin belajar dari masalalu. Gus Dur selalu mengingatkan bahwa apapun ruang perjuangan beliau adalah pelajaran untuk perjuangan masa depan, perjuangan kita belum selesai masyarakat, rakyat, dan bangsa Indonesia masih belum mencapai kondisi yang kita idealkan dan masih banyak proses yang kita harus lakukan dan kawal, karena itu sangat penting bagi GUSDURian, terutama. Untuk memahami (mendudukan) persoalan dengan lebih komprehensif, dari sana kita gunakan sebagai modal berkontribusi dalam perjuangan sejarah bangsa dan negara Indonesia.” Pungkas Alissa di acara diskusi Ziarah Pemikiran yang diselenggarakan pada pukul 10.00 s.d. 12.00 WIB tadi.

Pewarta: Syifa Arrahmah

Redaksi Redaksi Arrahim.ID