Ketika Orang Tua Durhaka kepada Anaknya

3 min read

Sumber: halodok.com

Jika orang tua terus menuntut untuk mendapat ketaatan, kepatuhan, dan kehormatan, tapi mereka tidak memberikan hak kasih sayang, perlindungan, dan kesejahteraan pada anaknya, bukankah mereka berlaku durhaka?

Saya ingin membuka tulisan ini dengan salah satu firman Allah SWT dalam QS Al-Ahqaf ayat 35

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Ayat di atas biasanya menjadi dalil anak untuk berbakti kepada kedua orang tua yang telah bersusah payah untuk melahirkan, merawat, hingga membesarkannya. Lantas pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah, apakah dalil ini bersifat saklek?

Bagaimana dengan para orang tua yang tidak memikirkan kebutuhan dan hak anak? Bahkan mereka tidak berusaha untuk memenuhinya sama sekali, atau malah ada yang berlaku zalim terhadap anaknya, Apakah mereka masih wajib untuk anak hormati dan taati?

Mungkin itulah yang ini saya diskusikan di sini. Kebetulan saya memiliki seorang murid yang baru berusia 16 tahun. ketika kita melihatnya melalui kaca mata general, ia terlihat seperti seorang remaja lelaki normal selayaknya teman yang lain.

Baca Juga  Membincang Soal Aliran Islam dan Pembunuhan atas Nama Tuhan di Prancis dan Austria

Perspektif saya kemudian berubah ketika pada suatu waktu dia menunjukkan hasil psikotes dan bertanya, “Miss, Bagaimana ya cara menghilangkan trauma?”

Sontak saya kaget dengan pertanyaan yang ia ajukan. Lantas saya menyuruhnya duduk dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Ia kemudian bercerita tentang keadaan rumah yang tidak baik-baik saja. Berawal dari ayahnya yang temperamental, hingga tak jarang melakukan kekerasan kepada ibu, kakak, serta dirinya sendiri.

Hal ini terjadi selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. Namun ada sebuah kejadian yang paling ia ingat hingga kini. Yakni ketika ia masih kecil dan menangis karena suatu hal. Tapi ayahnya tiba-tiba menariknya ke dalam mobil dan mencekiknya.

Ia berpikir, apakah waktu itu ayahnya akan membunuhnya? Mengapa demikian? Dan pertanyaan itu tak pernah ia dapatkan jawabannya.

Lantas peristiwa ini benar-benar menggerogoti psikisnya. Ia sampai tidak tahu bagaimana cara bersikap baik kepada orang tua yang hampir menghabisi nyawanya. Hubungan mereka pun tak pernah baik-baik saja selama bertahun-tahun lamanya.

Saya bertanya-tanya di sini, apakah orang tua yang durhaka seperti demikian tetap harus mendapatkan kebaktian dari anak? Mungkin ia telah memenuhi nafkah lahiriyah, selayaknya pangan, tempat tinggal, ataupun sekolah. Namun untuk nafkah batin bagaimana kabarnya? Bukankah itu juga termasuk hak anak untuk mendapatkannya secara penuh?

Hak anak-anak pun secara hukum telah ada dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak. Yakni hak atas identitas, kebebasan, kasih sayang, kesehatan, privasi, mendapatkan perlindungan, memperoleh pendidikan, mengenal orang tua, bermain, dan memperoleh kesejahteraan.

Mungkin ada yang berpendapat, bahwa anak juga punya kewajiban di atas haknya. Tapi  lagi-lagi coba kita nalar lebih lanjut, bahwa usia anak-anak, menurut UNICEF, bermula sejak ia baru saja dilahirkan hingga usia 18 tahun.

Baca Juga  Gus Dur sang Ksatria Kemanusiaan dan Keadilan

Saat usia 0, tentu mereka belum mampu melakukan apa-apa, bahkan ketika usia SD dan SMP, nalar mereka belum bermain dengan baik. Sehingga peran orang tua / dewasa sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.

Lantas jika pada usia ini, orang tua lebih mendahulukan kewajiban anak sebelum haknya, bagaimana mereka bisa melakukannya dengan baik? Jika orang tua terus menuntut untuk mendapat ketaatan, kepatuhan, dan kehormatan, tapi mereka tidak memberikan hak kasih sayang, perlindungan, dan kesejahteraan pada anaknya, bukankah mereka berlaku durhaka? Bahkan rasa bahagia saja tidak mereka dapatkan.

Salah satu kasus lain yang saya dapatkan tentang kedurhakaan orang tua terhadap anak adalah ketika ada seorang ibu yang melindungi suami dan menantu lelakinya ketimbang anak kandungnya sendiri. Alasannya sendiri adalah karena ekonomi yang pas-pasan. Sedangkan tulang punggung dalam keluarga tersebut hanyalah dua orang lelaki tersebut.

Padahal, suami dan menantu lelaki tersebut telah melakukan perkosaan kepada anak perempuannya yang baru berusia 14 tahun. Mereka telah melakukannya berkali-kali, hingga anak tersebut hamil. Bahkan setelah ketahuan hamil, malangnya gadis ini masih menjadi korban perkosaan dari lelaki hidung belang itu.

Tak sampai di sini, ketika gadis korban telah mengakui bahwa yang menghamilinya adalah ayah tiri dan kakak iparnya, ibunya gopoh membelikan obat penggugur dari toko daring tanpa resep dokter. Alhasil anaknya harus menanggung dosis besar dalam tubuhnya sampai pingsan beberapa kali.

Agar menghilangkan jejak, ibunya pun berinisiatif untuk menyuruh kabur suami dan menantunya. Sehingga mereka bisa aman dari kejaran polisi. Bahkan ia pun berencana untuk menikahkan anak perempuannya dengan lelaki yang tidak jelas bibit, bebet, dan bobotnya.

Baca Juga  Menggunakan Perspektif Sufi untuk Bertahan di Tengah Pandemi 

Tak hanya itu, setelah pelaku telah polisi tangkap. Ibu si gadis masih meminta mengajukan pertimbangan untuk membebaskan suaminya. Ia tidak berpikir bagaimana jika nanti lagi-lagi anaknya harus tinggal satu rumah dengan orang yang pernah memperkosanya.

Sungguh saya sangat prihatin dengan para orang tua yang berlaku zalim kepada anaknya. Apa yang mereka pikirkan hanya untuk kepentingan pribadi semata. Tanpa berpikir bahwa yang mereka lakukan sangat berpengaruh pada kondisi mental anak selanjutnya.

Urgensi edukasi parenting kepada orang tua sangat berperan di sini. Sehingga dapat mereduksi kelahiran orang tua yang durhaka kepada anaknya. Yakni mereka yang hanya memahami kewajiban anak kepadanya, tapi tidak paham bahwa mereka juga memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak anak sejak usia 0 hingga menginjak dewasa.