Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Ibu, Ramadan, dan Covid-19

3 min read

Diakui atau tidak peran ibu sangat besar pada kesuksesan sebuah keluarga dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan. Di bulan yang mulia ini, ibu-ibu umumnya lebih sibuk dibanding bapak-bapak. Terutama dalam menyiapkan santapan untuk sahur dan berbuka. Sampai-sampai mau tidur aja ibu-ibu masih terpikir, apa yang mau mereka masak untuk keluarganya pada sahur di dini hari, serta untuk berbuka di sore hari.

Susah hati mereka jika tidak bisa menyediakan makanan untuk disantap keluarganya. Termasuk jika mereka yang akan memakan makanan yang sudah disiapkan, tampak tak berselera menyantapnya. Karenanya, wajar jika Rasulullah meminta setiap Muslim untuk hormat dan sayang pada ibunya. Begitu juga para suami, harus hormat dan sayang pada istrinya. Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang baik perlakuannya kepada istrinya, yang menyayangi istrinya.

Kegiatan dan kesibukan ibu-ibu di rumah pada bulan Ramadan bisa dikatakan bertambah banyak. Biasanya makanan yang dimasak akan bertambah variasinya. Selain makanan utama, biasanya mereka sediakan makanan kecil untuk membatalkan puasa. Biasanya kita sebut sebagai takjil. Ibu-ibu akan memasak juga untuk orang-orang lainnya, tidak hanya keluarganya.

Di perumahan tempat tinggal saya, misalnya, ibu-ibu akan menyediakan takjil mereka yang berbuka di masjid. Walaupun banyak kiai, ustaz atau pakar agama yang bilang tidak perlu menyediakan makanan yang berlebihan di bulan Ramadan, makan saja seadanya, dan seterusnya, pada kenyataannya tradisi menyediakan makanan yan bervariasi tetap saja terjadi. Ramadan adalah bulan yang istimewa, setiap Muslim tentu ingin berbuat hal-hal yang lebih dari biasanya di bulan ini. Termasuk para ibu.

Bulan ini adalah bulan tempat mempraktikkan keahlian mereka mengolah makanan, atau membeli makanan yang istimewa. Perhatikanlah postingan ibu-ibu teman anda di Facebook selama Ramadan ini, cukup banyak yang memposting makanan yang mereka siapkan untuk keluarga mereka. Ada juga yang memposting gambar makanan yang mereka siapkan untuk bapak Satpam di perumahannya.

Baca Juga  Perempuan dan Kerja-kerja Domestik dalam Pusaran COVID-19: Akankah Terjadi Perubahan Menuju Kesetaraan?

Ramadan di masa Covid-19 ini sangat berbeda dengan Ramadan di tahun-tahun sebelumnya. Jika di Ramadan yang lalu, ibu-ibu misalnya bisa buka puasa bersama dengan keluarga besar, bisa memamerkan masakan mereka pada keluarga besarnya, tidak begitu halnya pada Ramadan ini.

Jika Ramadan yang lalu sesekali bisa berbuka di masjid bersama anak-anak yatim atau di rumah makan bersama keluarga atau teman, tidak lagi sama halnya di tahun ini. Covid-19 ini meminta Ibu-ibu untuk setiap hari menyediakan makanan bagi keluarganya di rumah.

Ramadan ini terasa semakin berbeda lagi karena para ibu harus menyiapkan santapan sahur dan berbuka sambil memperhatikan protokol Covid-19: baik protokol yang ditetapkan pemerintah maupun upaya preventif pribadi untuk menjauhkan keluarganya dari serangan virus Corona ini.

Virus ini sudah merebak ke berbagai wilayah, membuat masyarakat harus berjaga-jaga. Ibu-ibu, misalnya, harus belanja kebutuhan sehari-hari dengan mempertimbangkan keamanan diri dari terkena virus Corona. Tidak sedikit pasar yang biasanya mereka kunjungi untuk membeli kebutuhan makan, dibuka dengan jam terbatas atau bahkan ditutup, tidak beroperasi sama sekali. Bapak penjual sayur yang biasanya lewat di depan rumah, sering-sering tidak datang dan tidak berkabar sebelumnya. Ketika keadaan seperti ini terjadi, suasana hati para ibu menjadi gundah, apa yang akan mereka persiapkan untuk sahur dan berbuka keluarganya.

Covid-19 ternyata juga menyebabkan pukulan ekonomi yang cukup besar pada sebagian keluarga, terutama mereka yang bekerja di sektor informal. Sebagian keluarga bahkan kehilangan pendapatan. Menurut Menteri Keuangan, jika pandemi COVID-19 ini berlangsung lama, Indonesia akan mendapat tambahan 3,78 juta orang miskin (Liputan6.com, 2020).

Keluarga yang kehilangan pekerjaan, jika memiliki tabungan maka mereka akan memenuhi kebutuhan dari tabungan tersebut. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang tidak punya tabungan, yang pendapatannya perhari hanya cukup untuk makan pada hari itu? Tak terbayang oleh saya cara apa yang ditempuh oleh para ibu yang berada dalam posisi ini untuk menyiapkan makanan sahur dan berbuka untuk keluarganya. Perlu penelitian yang mendalam untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan oleh para ibu ini.

Baca Juga  Media dan Framing Legitimasi KDRT di Indonesia

Bagaimanapun keadaannya, saya yakin dengan keimanan yang kuat di dada mereka, ibu-ibu yang terdampak Covid-19 ini tentu ingin tetap bisa memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Saya ceritakan sedikit kisah ibu A yang bertutur kepada saya: “suami saya tidak ada kerjaan sama sekali bu sejak Covid-19 ini. Tidak ada uang sama sekali. Tidak ada orang yang memintanya untuk ndandanin rumah atau perbaiki listrik. Akhirnya saya coba untuk buat sinom ini bu… agar kami tetap bisa makan. Anak-anak Alhamdulillah tetap sergep puasanya”. Suami ibu A adalah seorang tukang lepas yang bekerja jika ada orang yang memintanya. Rupanya selama Covid-19 ini tidak ada lagi yang meminta suaminya untuk bekerja.

Sekali lagi, ibu-ibu berperan sangat penting di keluarganya. Peran tersebut semakin terasa pentingnya pada bulan Ramadan. Ibu memberikan ketenangan bagi anggota keluarga dalam menjalankan ibadah puasa. Sungguh, takjub rasanya menelaah besarnya energi yang diberikan Allah kepada ibu. Mereka adalah “the latest person” yang merebahkan badannya di malam hari dan “the first person” yang harus bangun di dini hari. Hari-hari Ramadan menjadi saksi betapa mulianya peran seorang ibu. Hari-hari Ramadan pada masa pandemic Covid-19 ini menjadi saksi betapa kuatnya jiwa ibu menjaga keluarganya.

Kepala seorang ibu yang terasa berat tidak dihiraukannya ketika bangun untuk menyiapkan makan sahur bagi keluarganya. Kepala yang berat perlahan-lahan menjadi ringan karena semangat untuk menyiapkan makanan. Lebih kurang dua jam mereka beraktivitas, memasak untuk menyiapkan makan sahur tersebut. Setelah makanan selesai barulah mereka membangunkan anggota keluarga agar makan, mempersiapkan diri untuk berpuasa. Andaikan ibu bangun terlambat, jadilah seluruh keluarga berpuasa tanpa makan sahur. Ibu kemudian merasa sangat bersalah.

Baca Juga  Larangan Islam atas Pemerkosaan dalam Perkawinan

Menuliskan kalimat-kalimat ini mengingatkan saya pada almarhumah ibu saya. Ketika dia tak mampu berpuasa karena sakit, dia tetap bangun menyiapkan makanan sahur untuk suami dan anak-anaknya. Tak sekalipun beliau membangunkan saya dan kakak untuk membantunya memasak. Kami tidur nyenyak tanpa resah, ibu tentu akan membangunkan kami. Sering saya merasa bersalah karena tak bangun membantunya memasak makanan sahur, tetapi beliau sendiri yang menghendaki: memang sengaja tak membangunkan, sengaja memasak sendiri untuk makan sahur kami, “mamak tidak mampu berpuasa biarlah mamak siapkan makanan untuk yang berpuasa”.

Ramadan pada masa Covid-19 ini menjadi Ramadan yang sangat berbeda bagi kita semua. Ramadan yang dilakukan di dalam sunyi. Sunyi dari pertemuan fisik dengan teman dan sanak saudara. Tetapi Ramadan ini adalah Ramadan yang istimewa. Ramadan ini menjadi bukti bahwa ibu adalah seorang insan yang luar biasa. Makan sahur dan berbuka selalu menjadi bagian dari kerja dan bukti mereka mencintai keluarganya. Karenanya, sayangilah ibumu, ibumu, ibumu, baru kemudian ayahmu. [MZ]

Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *