

Setiap orang tentu pernah memanjatkan doa kepada Allah dengan berbagai harapan. Berdoa merupakan wujud pengakuan seorang hamba atas kebutuhan dan ketergantungannya kepada Sang Pencipta. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa sebelum seorang hamba memohon pertolongan, ada satu fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu, yaitu penghambaan yang tulus kepada-Nya. Isyarat ini tampak dalam susunan QS. Al-Fatihah ayat 5:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Urutan ini bukan sekadar susunan bahasa, melainkan mengandung pelajaran penting bahwa ibadah didahulukan sebelum permohonan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas penghambaan merupakan jalan yang mengantarkan seorang hamba kepada pertolongan dan karunia Allah.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan meminta kepada Allah. Seorang hamba berdoa karena menyadari kebutuhannya kepada-Nya, sedangkan Allah berhak mengabulkan permintaan sesuai dengan hikmah-Nya, baik dalam bentuk yang sama seperti yang diminta maupun dalam bentuk lain yang lebih baik.
Konstruksi ayat yang mendahulukan al-ibadah (penghambaan atau ibadah) atas al-isti’anah (permohonan pertolongan) bukanlah suatu kebetulan. Susunan ini memberikan isyarat bahwa mendahulukan wasilah, yakni sarana atau jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, sebelum yaitu menyampaikan permohonan atau hajat kepada-Nya, merupakan adab yang dapat mengantarkan seorang hamba pada terkabulnya doa.
Penghambaan merupakan perantara untuk mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan. Bayangkan, seorang yang dengan senang hati mengabdi kepada raja dan mengerahkan segala kemampuannya untuk melaksanakan tugas yang diberikan. Kemudian, dia memohon bantuan untuk melaksanakan tugasnya, maka raja pun dengan senang hati akan mengabulkan segala permintaannya.
Lain halnya, ketika seseorang tersebut mengabdi dengan terpaksa, lalu ia berkata, “Berikanlah aku bantuan untuk melaksanakan tugasku”. Tentu saja, sang raja akan lebih memprioritaskan permintaan seorang yang dengan senang hati dan mengerahkan segala kemampuan untuk melaksanakan titah raja daripada yang terpaksa.
Analogi sederhana ini menggambarkan bagaimana posisi kita di hadapan Allah. Meskipun secara hakikat Allah sama sekali tidak membutuhkan ibadah kita, justru kitalah yang butuh kepada-Nya.
Ibadah yang dilandasi cinta tentu memiliki kedudukan yang berbeda dengan yang dilandasi keterpaksaan. Dengan demikian, langkah awal yang harus ditempuh adalah memperbaiki kualitas ibadah kita di hadapan Zat Yang Maha Kuasa.
Definisi ibadah itu sendiri dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama ditinjau dari objek yang dilakukan, yaitu segala sesuatu yang disenangi dan diridai oleh Allah, berupa ucapan dan perbuatan fisik maupun batin.
Kedua ditinjau dari subjek yang melakukan, yaitu ketundukan dan kepatuhan kepada Allah.[1] Dari sisi objek, Allah memberi resep berupa amal yang dapat mengantarkan kepada sesuatu yang berada di luar ekspektasi kita. Ini lah yang penulis maksud dengan “minta minimal, diberi maksimal”, tentunya jika telah menempuh langkah awal yang telah disampaikan.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:[2]
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ الرَّبُّ: مَنْ شَغَلَهُ القُرْآنُ وذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالدَّارِمِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي شُعَبِ الْإِيمَانِ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِسْنَادًا).
“Siapa pun yang disibukkan dengan Al-Qur’an dan mengingatku, sampai lupa meminta kepadaku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik pemberian yang diberikan kepada orang-orang yang meminta.”
Allah menjanjikan suatu yang lebih sempurna dari pada permintaannya orang-orang yang berdoa, karena sibuk berkhidmat kepada Kalāmullah dengan menghafal, mempelajari, memahami, dan mengamalkannya sampai lupa meminta kepada Allah adalah puncak penghambaan kepada-Nya.
Syaikh Muhammad bin Khafif mengatakan:
شُغْلُ الْقُرْآنِ الْقِيَامُ بِمُوجِبَاتِهِ مِنْ إِقَامَةِ فَرَائِضِهِ وَالِاجْتِنَابِ عَنْ مَحَارِمِهِ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا أَطَاعَ اللَّهَ ذَكَرَهُ وَإِنْ قَلَّتْ صَلَاتُهُ وَصَوْمُهُ، وَإِذَا عَصَاهُ فَقَدْ نَسِيَهُ وَإِنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ وَصَوْمُهُ
“Sibuk dengan Al-Qur’an yaitu melaksanakan kewajiban terhadap Al-Qur’an, berupa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan dan menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebab seorang yang taat kepada Allah, dia akan senantiasa mengingat-Nya walau salat dan puasanya sedikit, sementara seorang yang maksiat kepada Allah, maka dia akan lupa dengan-Nya walau salat dan puasanya banyak.”
Sibuk di sini adalah ibadah yang berkualitas, di mana seorang hamba hanyut dan asyik berdialog dengan Allah sampai tidak terbesit satu pun keinginan untuk bermaksiat kepada-Nya hingga lupa dengan hal yang diperbolehkan dan dianjurkan oleh-Nya, yakni berdoa. Bukan berarti kita dilarang untuk berdoa, tetapi doa orang yang sibuk beribadah adalah doa yang lahir dari keheningan jiwa, bukan dari kegelisahan nafsu.
Dalam hal ini ‘minta minimal, diberi maksimal’ bukanlah hal yang instan, melainkan proses panjang pendekatan diri kepada Allah. Saat kita sibuk menghamba murni karena-Nya, kita akan diprioritaskan dengan karunia-Nya. Maka, jangan pernah berhenti beribadah dan jangan pernah bosan berdoa, karena janji Allah adalah sebaik-baik janji. Wallahu a’lam…
Pengajar Al-Qur’an di pondok Tahfidzul Qur’an Yasinat, Jember