Mukhammad Zamzami Santri PP Mambaus Sholihin Gresik; Executive Editor Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

KH. Masbuhin Faqih: Ajarkan Keteladanan dan Perjuangan

4 min read

Foto: KH. Masbuhin Faqih Berpeci Hijau Didampingi Gus Baha (Sebelah Kanan Kiai). Dok. Irul Project Photography
Foto: KH. Masbuhin Faqih Berpeci Hijau Didampingi Gus Baha (Sebelah Kanan Kiai). Dok. Irul Project Photography

KH. Masbuhin Faqih (l.1947) adalah pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin di desa Suci Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Lahir dari pasangan KH. Abdullah Faqih dan Hj. Tswaibah, Kiai Buhin—sapaan akrab Kiai Masbuhin—mendasari awal pendidikan agamanya di dua pesantren besar, PP Langitan Tuban dan PP Darussalam Gontor. Di Gontor, Kiai Buhin memperdalam ilmu bahasa, Arab dan Inggris. Sedangkan di PP Langitan—yang diasuh oleh KH. Abdul Hadi dan KH. Abdullah Faqih—beliau mendalami literatur kitab klasik, mulai fiqh, nahwu, sharaf, tauhid, hingga tasawuf selama 17 tahun. Saat nyantri, Kiai Buhin dikenal figur yang sangat tekun, optimis, dan pekerja keras dalam kondisi apapun.

Saat menginjak umur 29 tahun di tahun 1976, Kiai Faqih Langitan mendorong Kiai Buhin untuk mengawali perjuangan dakwahnya di tanah kelahirannya, desa Suci. Akhirnya, bersama dengan sang abah, Kiai Abdullah Faqih dari Suci, berdirilah pesantren yang awalnya diberi nama At-Thohiriyyah yang berarti “suci”, tetapi di kemudian hari bermetamorfosis menjadi Manbaus/Mambaus Sholihin—selanjutnya disebut MBS—yang bermakna “Sumber Orang-orang Saleh”. Penamaan terakhir ini sesungguhnya adalah rekomendasi KH. Usman al-Ishaqi—mursyid Kiai Buhin dalam Tarekat Qādirīyah wa Naqsyabandīyah—yang disampaikannya pada tahun 1980. Bagi Kiai Usman, nama identik dengan doa, di mana kelak pesantren ini diharapkan mencetak para santri yang ‘ālim, sālih, dan kāfī.

Ada tiga fondasi utama yang didesain dan diadopsi pada sistem pendidikan di MBS, antara lain: 1) PP Darussalam Gontor sebagai kiblat pengembangan dan penguasaan dwi bahasa, Arab dan Inggris, dan sistem organisasi sosial kepesantrenan, 2). Pondok Pesantren Langitan sebagai design pengembangan kurikulum Salafiyah; dan 3). Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimin Sawahpolo Surabaya dalam rujukan ihwal ritual ‘ubūdīyah.

Seiring perkembangan pengelolaannya, MBS mampu meluluskan ribuan alumni dan mampu melebarkan dakwahnya dalam pendirian cabang, seperti di Benjeng Gresik, Masohi Maluku, Balongpanggang Gresik, Jimbrana Bali, Bintan Riau, dan Senori Tuban. Eksistensi MBS kini menjelma menjadi pesantren terbesar di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa yang menyediakan level pembelajaran mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga perguruan tinggi strata satu dan dua di bawah naungan Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA).

Baca Juga  KHR. Mudhar Tamim (1916-2000): Ulama Sekaligus Pejuang dari Pamekasan Madura

Apa yang menjadi rahasia keberhasilan pondok pesantren ini hingga seperti sekarang ini? Pendirian pondok tersebut adalah perintah guru. Melalui doa-doa guru beliau, eksistensi pesantren bisa seperti ini. Lawlā al-murabbī mā `araftu rabbī [Kalau bukan karena guruku, maka aku tidak akan mengenal tuhanku] dan al-murīd bayna yadayy syaikhihi ka al-mayyit bayna yadayy al-ghāsil [Seorang murid dihadapan gurunya adalah seperti mayat ketika dimandikan] adalah wujud implementasi kepatuhan Kiai Buhin kepada guru-gurunya. Ekspresi kepatuhan ini menjadi titik pijak beliau dalam mengelola pesantren. Karenanya, guru harus selalu didengar dan ditaati agar selamat di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebegitu kuatnya relasi guru-murid, Kiai Buhin bahkan tidak pernah tidak menuruti apa yang disampaikan gurunya. Yang ada hanyalah kepatuhan absolut untuk menjalankan perintahnya. Jikapun ada rintangan menghadang, semuanya diserahkan kepada Allah yang Mahakuasa. Tawakal dan ikhitar adalah kuncinya. Beliau menegaskan, “Aku iki opo jare guruku. Guruku ngomong A”, mesti ta turut. Urusan liyane ora ta pikir. Mesti ono dalane”. [Saya ini terserah guruku. Guru memerintahkan melakukan “A”, saya akan menurutinya. Masalah lainnya [kesulitan yang dihadapi, red.] saya tidak memikirkannya. [Karena] Pasti ada jalan [memenuhi perintah guru].

Penghormatan berbalut tawaduk kepada guru-guru inilah yang yang kadang sering terekam oleh beberapa santri di banyak kesempatan. Kiai Buhin tidak hanya sekadar menghormati gurunya saja, tapi putra, cucu, menantu guru-gurunya pun sangat dihormati. Seperti saat Kiai Masbuhin bertemu Prof. Dr. Abd A’la, M.Ag kala berkunjung memberi kuliah umum di Inkafa, sembari duduk ala santri saat bertemu dengan kiai, Kiai Buhin menuturkan bahwa “pesantren ini adalah pesantren guru-guru beliau dan juga pesantren panjenengan juga”. Perlu diketahui bahwa Prof. A’la adalah menantu dari guru beliau di Langitan, KH. Ahmad Marzuki Zahid.

Pun demikian saat Kiai Buhin disowani oleh Dr. KH. M. Afifuddin Dimyati bin KH. Dimyati Romli bin KH. M. Romli Tamim, pengasuh PP Hidayatul Quran Rejoso Peterongan Jombang yang juga dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, beliau berusaha mencium tangan Gus Awis—panggilan akrab Kiai Afifuddin Dimyati—untuk tabbaruk sembari mengatakan “Kulo yang seharusnya mencium tangan panjenengan”. Hal itu lantas dinegasikan secara halus oleh Gus Awis. Kakek Gus Awis sendiri adalah guru dari KH Usman al-Ishaqi yang tak lain guru mursyid tarekat Kiai Buhin. Pun kakek Gus Awis dari jalur ibu juga guru Kiai Buhin saat nyantri di Langitan, Kiai Ahmad Marzuki. Menghormati sang cucu adalah ibarat menghormati guru beliau sendiri.

Baca Juga  Mengenal KH. Dahlan Salim Zarkasy, Founder Metode Qiroati

Kejadian serupa juga terjadi di beberapa bulan belakangan ini, saat MBS kedatangan K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim—atau yang familiar disapa Gus Baha—saat mengisi studium generale di Inkafa. Antara Kiai Buhin dan Gus Baha saling berebut mencium tangan. Abah Gus Baha, KH. Nursalim al-Hafizh dari Narukan Rembang, adalah rekan karib dari Kiai Buhin semasa sama-sama nyantri di Langitan. Penghormatan kepada putra sahabat karib pun dilakukan oleh Kiai Buhin.

Ekspresi-ekspresi ketawadukan Kiai Buhin ini seringkali dijumpai di beberapa kesempatan seperti saat pesantren MBS dikunjungi ulama dari dzurriyah Rasulullah, Habaib. Kiai Buhin selalu berharap bahwa para habaib dan kiai selalu mendoakan pesantren dan santri-santrinya. Seringkali para ulama dalam dan luar negeri, seperti dari Yaman dan Suriah, singgah dan bersilaturahim dengan Kiai. Harapan beliau hanya satu, doa mereka teremanasi dalam bentuk berkah untuk pesantren.

Saat beliau diwawancarai terkait sebegitu kuat cintanya kepada dzurriyah Rasul, beliau menjawab bahwa itu adalah wujud mahabbah kepada Rasulullah. Mahabbah kepada Rasulullah itu berimplikasi pada sikap tawaduk dan hormat kepada dzurriyah Rasul sebagaimana beliau kutipkan firman Allah Alquran surah al-Syūrā [42]: 23 yang artinya: “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-Qurbā”/Keluarga”. Perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam itulah yang memantik kasih sayang Kiai terhadap para dzurriyah Rasulullah.

Perjuangan beliau kepada perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) pun sangat dirasakan masyarakat, baik di wilayah Gresik ataupun Jawa Timur. “Gandol sarunge Mbah Hasyim Asy’ari” adalah bagian dari falsafah hidup beliau, di mana jika dilacak dari genealogi keilmuan guru-guru beliau pastinya sampai kepada sang pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, yang pastinya akan selalu dihormati dan akan ditiru perjuangan dakwahnya.

Baca Juga  Merawat Semangat Keindonesiaan dan Keislaman: Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang

Perjuangan Kiai Buhin dalam mengembangkan aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah al-Nahdliyyah sangat kentara. Segala hal yang bertalian dengan kemajuan dan perkembangan NU, pasti akan didukungnya lahir-batin. Selama itu untuk kemajuan dan kemaslahatan NU, beliau akan selalu menjadi garda terdepan mendukung dan mensupportnya secara maksimal.

Di mata para santri, karisma, ketawadukan, dan perjuangan Kiai Buhin adalah contoh konkret bagaimana santri harus memformat dirinya. Kepada para santri, Kiai Buhin selalu menyatakan bahwa beliau adalah abū al-rūh (bapak spiritual dan rohani, red.) santrinya. Jika bapak kita ibarat bapak biologis-fisik, maka kiai lah bapak rohani para santri. Menjadi santri tidak hanya membangun bonding (ikatan) dengan orang tua, tetapi bonding dengan guru/kiai selalu menjadi elemen penting dalam segala tindak-tanduknya. Setidaknya santri ingin meniru perjuangan dan teladan kiai dalam menjalani hidupnya. Ini menjadi ciri khas santri, di mana ikatan emosional santri selalu tertaut dengan keridaan sang guru; apapun, di manapun, bagaimanapun, dan kapanpun.

Hubungan kiai-santri pun rasa-rasanya tidak terputus walaupun santri sudah lulus dari pesantren. Saat sowan, para santri/alumni pun akan ditanya apakah sudah memberi kemanfaatan pada masyarakat, apapun bentuknya. Kalaupun ada kesulitan yang dihadapi santri, tak segan Kiai turun tangan atau bahkan mencarikan solusi untuk santrinya. Sebagaimana yang ditegaskan oleh salah satu santri kinasih beliau, Muhammad Muhibbudin yang berkarir di Jakarta. Mas Budin—begitulah saya memanggilnya—akan diminta Kiai membantu saat ada kesulitan pengembangan lembaga yang dialami para alumni. Sebagai santri, Mas Budin akan selalu sami‘ahu wa atāahu. Sebisa mungkin kendala yang dihadapi oleh para santri dicarikan jalan keluarnya oleh Kiai. Support kiai kepada santri sungguh tak terbatas.

Akhirnya, teladan dan perjuangan kiai membuat kami, para santri, begitu mencintainya pula. Kiai, semoga engkau selalu dianugerahi Allah kesehatan dan panjang umur. Amin.

Mukhammad Zamzami Santri PP Mambaus Sholihin Gresik; Executive Editor Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *