Rocky Gerung dan Problem Pengkultusan Tokoh
Rocky Gerung dan kontroversi perubahan sikapnya menjadi momentum untuk merefleksikan bahaya pengkultusan tokoh serta kecenderungan masyarakat menggantungkan harapan pada figur penyelamat.
Rocky Gerung dan kontroversi perubahan sikapnya menjadi momentum untuk merefleksikan bahaya pengkultusan tokoh serta kecenderungan masyarakat menggantungkan harapan pada figur penyelamat.


Ada sesuatu yang mengusik nalar saya ketika kritik terhadap seorang pemimpin justru dipandang sebagai serangan terhadap para pendukungnya. Pertanyaan tentang fakta dan proses hukum bergeser menjadi persoalan loyalitas dan harga diri kelompok. Polemik pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden (wapres), misalnya, menjadi salah satu konteks untuk melihat bagaimana perdebatan mengenai prosedur hukum dapat berkelindan […]


Perintah moral bukan sekadar soal memuaskan Tuhan, melainkan soal mengubah hubungan antara manusia dengan semua yang ada di dunia.


Organisasi keagamaan bukan makhluk abadi. Ia lahir, tumbuh, mencapai kemapanan, dan pada titik tertentu dapat kehilangan energi yang dahulu membuatnya hidup. Gagasan tentang siklus kehidupan semacam ini mengingatkan pada cara Oswald Spengler membaca kebudayaan: sesuatu yang lahir dengan energi kreatif dapat tumbuh, mencapai kematangan, lalu memasuki masa senja. Tentu saja organisasi keagamaan tidak dapat begitu […]


Akal imitasi berubah menjadi otoritas buatan bukan saat mesin memiliki kesadaran, melainkan saat manusia menjadi pasif secara intelektual di hadapannya.


Ada zaman ketika kewibawaan seorang kiai dibangun oleh kedalaman ilmu, ketajaman nalar, kesederhanaan laku, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Masyarakat datang kepadanya bukan karena atribut materi yang melekat padanya-seperti kendaraan yang ditumpangi atau pakaian yang dikenakan-namun, karena ilmu yang ia miliki, atau bahkan sekedar untuk mendapat ketenangan sejenak dari riuhnya problematika kehidupan melalui petuah-petuahnya. Cara masyarakat […]


Siapakah yang—dapat—menentukan di mana ranah privat berakhir dan ranah publik bermula?



Perguruan tinggi Islam semakin dituntut mengejar kompetensi, publikasi, akreditasi, dan reputasi. Di tengah tuntutan itu, ada satu hal yang perlu direnungkan: jangan sampai kampus berhasil membangun institusi, tetapi lupa membentuk manusia.



Kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih ramah lingkungan. Membawa tumbler, menolak sedotan plastik, membawa tas belanja sendiri, memilah sampah, dan menggunakan barang berulang kali kini menjadi bagian dari gaya hidup baru. Di balik perkembangan tersebut, terdapat persoalan yang tidak selalu terlihat. Sesuatu yang diberi label “hijau” tidak dengan sendirinya bebas dari persoalan ekologis maupun […]



Mengapa kita lebih malu terlihat gagal daripada berhasil dengan cara yang salah? Ketika keberhasilan lebih dihargai daripada kebenaran, jalan pintas pun perlahan kehilangan rasa malunya.


