Ketika Agama Menjadi Urusan Privat
Siapakah yang—dapat—menentukan di mana ranah privat berakhir dan ranah publik bermula?
Siapakah yang—dapat—menentukan di mana ranah privat berakhir dan ranah publik bermula?


Perguruan tinggi Islam semakin dituntut mengejar kompetensi, publikasi, akreditasi, dan reputasi. Di tengah tuntutan itu, ada satu hal yang perlu direnungkan: jangan sampai kampus berhasil membangun institusi, tetapi lupa membentuk manusia.


Kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih ramah lingkungan. Membawa tumbler, menolak sedotan plastik, membawa tas belanja sendiri, memilah sampah, dan menggunakan barang berulang kali kini menjadi bagian dari gaya hidup baru. Di balik perkembangan tersebut, terdapat persoalan yang tidak selalu terlihat. Sesuatu yang diberi label “hijau” tidak dengan sendirinya bebas dari persoalan ekologis maupun […]


Mengapa kita lebih malu terlihat gagal daripada berhasil dengan cara yang salah? Ketika keberhasilan lebih dihargai daripada kebenaran, jalan pintas pun perlahan kehilangan rasa malunya.


Pertanyaan dalam judul tulisan ini tampak hampir bertentangan dengan dirinya sendiri, karena menemukan biasanya mengandaikan adanya pencarian: seseorang mencari kunci yang hilang, mengikuti peta menuju tujuan yang belum diketahui, atau menyelidiki suatu pertanyaan karena ia sudah menduga bahwa jawabannya ada di suatu tempat di depan sana. Namun, bahasa pengalaman religius berulang kali menggoyahkan model penalaran […]


Ada Islam yang dibicarakan para ulama, ada Islam yang ditulis para akademisi, ada Islam yang diperdebatkan para aktivis. Tetapi ada pula Islam yang jauh lebih sunyi: Islam yang dijalani oleh jutaan manusia biasa. Ia hadir dalam tangan petani yang menyisihkan hasil panen untuk sedekah. Dalam pedagang kecil yang menolak mengurangi timbangan. Dalam ibu yang bangun […]


Debat dalam tradisi intelektual Islam tidak dimaksudkan sebagai pertandingan siapa yang lebih lihai membuat lawannya diam. Tujuannya hanyalah menampakkan kebenaran.



Pengentasan masalah ekologi selalu melahirkan dilema kompleks yang tak mudah diselesaikan hanya dalam sekali keputusan



Sebagai seorang aktivis Muhammadiyah, saya melihat NU sebagai raksasa sosial-keagamaan dengan potensi besar. Muktamar menjadi momentum penting untuk mengubah kebesaran itu menjadi kekuatan kolektif.



Ungkapan “Islam mengatakan” terdengar berwibawa, tetapi siapa sebenarnya yang sedang berbicara?


