

Burnout telah menjadi salah satu suasana hati yang cukup menjamuri dan menjangkiti kehidupan kontemporer. Hal ini tidak lagi terbatas pada para profesional yang terlalu banyak bekerja atau lingkungan korporat, sebab burnout telah meresap ke dalam kehidupan mahasiswa, pekerjaan kreatif, aktivisme, dan bahkan praktik spiritual.
Orang-orang kelelahan bukan hanya karena apa yang mereka lakukan, tetapi utamanya karena tekanan untuk terus mengoptimalkan diri. Istirahat terasa tidak produktif, kelambatan tampak tidak bertanggung jawab, dan jeda sering kali disertai rasa bersalah.
Dalam iklim semacam itu, bahasa “kehidupan lambat” (slow living) telah mendapatkan popularitas sebagai respons terhadap kecepatan. Namun demikian, banyak ekspresinya tetap berorientasi pada estetika atau gaya hidup. Tradisi spiritual Islam menawarkan alternatif yang lebih dalam, yang berakar pada tumakninah, keadaan ketenangan batin yang berakar pada kehadiran, kepercayaan, dan ritme etis.
Burnout muncul ketika waktu diperlakukan sebagai musuh. Hari-hari menjadi rintangan yang harus ditaklukkan, jadwal semakin padat, dan nilai diukur berdasarkan hasil. Kecemasan temporal ini bahkan membentuk kembali kehidupan keagamaan. Ibadah dipersingkat di antara kewajiban, dibaca dengan cepat, dan dievaluasi berdasarkan penyelesaian daripada kehadiran dan kekhusyukan.
Etika Islam memandang waktu secara berbeda. Alih-alih sebagai musuh, waktu dipahami sebagai amanah, sesuatu yang harus dihayati dengan penuh perhatian, bukan didominasi. Al-Quran berulang kali menarik perhatian pada momen-momen, seperti fajar, malam, jeda di antara gerakan, menunjukkan bahwa makna muncul melalui ritme, bukan percepatan.
Tumakninah, yang sering diterjemahkan sebagai ketenangan atau jeda, menduduki tempat sentral dalam spiritualitas Islam. Ia bukanlah perasaan yang cepat berlalu, melainkan keadaan batin yang dipupuk. Dalam salat, tumakninah mengacu pada jeda dan keheningan yang disengaja di antara gerakan, penolakan untuk terburu-buru bahkan ketika kewajiban mendesak.
Penekanan pada jeda, keheningan, dan kelambatan ini bukanlah kebetulan. Ini melatih tubuh dan pikiran untuk menolak dorongan kecepatan. Ketika tubuh belajar untuk berhenti sejenak, jiwa akan mengikutinya.
Gerakan hidup lambat modern sering menekankan pengurangan konsumsi, penataan estetika, atau menjauhi kelebihan beban digital. Meskipun praktik-praktik ini dapat membantu, hidup lambat dalam Islam lebih tentang orientasi ulang daripada penarikan diri.
Hidup tidak melambat dengan menghindari tanggung jawab, tetapi dengan cara menghadapinya dengan sikap batin yang berbeda. Kehidupan Nabi Muhammad, yang sering disebut sebagai model keseimbangan, jauh dari kata santai.
Nabi merupakan pemimpin komunitas, menyelesaikan konflik dan menghadapi tekanan politik. Namun demikian, sikap beliau digambarkan sebagai tenang, tidak terburu-buru melainkan penuh perhatian. Dalam pengertian ini, kelambatan bersifat etis dan bukan karena keadaan.
Burnout berkembang karena ilusi kendali total. Individu diharapkan untuk mengelola setiap hasil, mengoptimalkan setiap keputusan, dan mengantisipasi setiap risiko di masa depan. Spiritualitas Islam memperkenalkan penyeimbang melalui tawakal, yang sering disalahpahami sebagai penyerahan pasif.
Pada kenyataannya, tawakal melibatkan tindakan konkret yang dikombinasikan dengan pelepasan kendali obsesif. Pelepasan ini menciptakan ruang psikologis. Ketika hasil tak lagi menjadi beban pribadi, tindakan dan upaya menjadi lebih ringan, bahkan ketika tuntutan tetap ada.
Tumakninah juga dapat mengubah kerangka istirahat. Dalam budaya produktivitas, istirahat hanya dibenarkan sebagai pemulihan untuk pekerjaan selanjutnya. Dalam pemikiran Islam, istirahat memiliki nilai intrinsik.
Salat malam bergantian dengan tidur; puasa bergantian dengan makan; diam bergantian dengan berbicara. Siklus ini mencegah kelelahan dengan menyadari batasan manusia. Sebaliknya, kelelahan (burnout) diteguhkan ketika batasan-batasan ditolak atau diabaikan secara moral.
Ada juga dimensi komunal dalam gaya hidup lambat ala Islam ini yang berlawanan dengan individualisme budaya kesehatan kontemporer. Tumalninah dipupuk melalui ritual bersama, jeda kolektif, dan ritme yang sinkron.
Contohnya, seruan azan mengganggu jadwal pribadi dan menyelaraskan tubuh melintasi batas-batas sosial. Gangguan ini bukan tidak efisien, melainkan justru membentuk. Ini mengingatkan individu bahwa mereka adalah bagian dari ekologi moral yang lebih besar daripada sekadar ambisi pribadi tanpa henti.
Yang terpenting, gaya hidup lambat islami ini tidak meromantisasi ketenangan sebagai keadaan emosional permanen. Kehidupan tetap ditandai oleh urgensi, krisis, dan kesedihan. Tumakninah tidak menghapus perjuangan; ia mengubah cara perjuangan itu dihadapi.
Seseorang mungkin merasa cemas, tetapi tetap bertindak dari tempat yang berlandaskan pada prinsip. Tujuannya bukanlah mati rasa emosional tetapi keteguhan etis. Oleh karena itu, perpindahan dari kelelahan (burnout) ke tumakninah bukanlah transformasi yang dramatis.
Hal ini terungkap secara bertahap melalui penolakan-penolakan kecil: menolak untuk terburu-buru dalam berdoa, menolak untuk mengukur nilai diri berdasarkan kecepatan, menolak untuk mereduksi identitas menjadi produktivitas.
Penolakan-penolakan demikian itu terakumulasi, membentuk kembali cara waktu dialami. Kelambatan muncul sebagai cara disiplin untuk menjalani kehidupan modern, bukan sebagai pelarian darinya.
Di dunia yang kecanduan percepatan, spiritualitas Islam menawarkan kebijaksanaan kontra-budaya. Ia mengajarkan bahwa kedamaian tidak ditemukan di akhir produktivitas, tetapi dalam kualitas kehadiran yang diinjeksikan pada setiap momen.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com