Humor sebagai Cara Merawat Kewarasan di Era Meme

Menggulir media sosial saat ini terasa seperti memasuki ruang publik yang sesak dan pengap. Berita perang, bencana ekologis, kecemasan ekonomi, dan ketidaknyamanan pribadi mengalir tanpa henti bersama video kucing dan lelucon absurd lainnya.

Dalam hal, ini meme muncul tepat di saat keseriusan terasa tak tertahankan. Meme mengejek otoritas, mengartikan ulang kekacauan politik, dan mengubah keputusasaan pribadi menjadi tawa kolektif.

Bagi banyak orang, humor yang terus-menerus ini tampak dangkal atau seperti bentuk pelarian. Namun, di balik permukaan, meme dapat berfungsi secara lebih dalam. Meme menawarkan cara untuk bertahan hidup secara emosional dan spiritual di era yang dipenuhi krisis.

Kehidupan modern menuntut paparan terus-menerus terhadap kesulitan tanpa memberikan ruang yang memadai untuk memaknai sesuatu. Bahasa spiritual tradisional, yang dulunya bertugas menyerap ketakutan eksistensial, sering kali terasa jauh atau tidak memadai bagi generasi muda yang dibentuk oleh kecepatan digital. Meme mengisi kekosongan ini.

Humor anak muda kini bukan sekadar hiburan. Humor mereka dalah bentuk refleksi yang terkompresi. Sebuah gambar tunggal, dipadukan dengn beberapa kata, dapat menangkap kelelahan, ironi, harapan, dan keputusasaan sekaligus. Dengan demikian, meme menerjemahkan realitas yang luar biasa menjadi sesuatu yang dapat dibagikan dan ditanggung dengan tawa.

Humor telah lama menempati tempat yang ambigu dalam tradisi spiritual. Humor umumnya diperlakukan sebagai ancaman terhadap keseriusan dan juga sebagai bentuk kebijaksanaan yang halus.

Dalam banyak tradisi mistik, tawa muncul pada saat-saat ketika konsistensi dari rasionalitas bahasa gagal. Absurditas eksistensi, ketika dihadapi secara langsung, dapat memicu keputusasaan atau tawa. Meme cenderung condong ke arah yang terakhir.

Memang betul bahwa meme tidak menyelesaikan penderitaan, tetapi ia menembus kekuatan totalitasnya. Dengan membuat rasa sakit menjadi bahan tertawaan, humor mengembalikan rasa keberdayaan, betapapun rapuhnya.

Yang membedakan meme dari bentuk humor sebelumnya adalah sifat kolektif dan pengulangannya. Sebuah meme tidak pernah final, terus-menerus di-remix, diinterpretasikan ulang, dan diedarkan. Dengan kata lain, meme mengumpulkan lapisan makna melalui pengulangan. Proses ini mencerminkan spiritualitas kontemporer, yang semakin komunal tetapi terdesentralisasi.

Makna muncul bukan dari deklarasi otoritatif, tetapi dari pengakuan bersama di jagat medsos. Ketika ribuan orang beresonansi dengan lelucon yang sama tentang kelelahan, kesepian, atau kebingungan eksistensial, solidaritas dapat terbentuk. Tawa justru menjadi ritual pengakuan bersama.

Dalam pengertian ini, meme berfungsi sebagai praktik mikro kehadiran. Ia mengundang jeda sesaat, pengakuan singkat atas keadaan batin seseorang yang tecermin secara eksternal. Humornya sering kali mengandung nada pengakuan, mengakui kegagalan, kebingungan, atau kelelahan tanpa penilaian moral.

Alih-alih menawarkan solusi, meme seolah mengatakan, “Anda tidak sendirian dalam merasakan hal ini.” Pengakuan seperti itu memiliki bobot spiritual dalam budaya yang tanpa henti mempromosikan optimalisasi diri dan ketenangan emosional.

Ironi yang tertanam dalam meme juga memiliki fungsi kritis. Ironi mengungkap kesenjangan antara harapan atau cita-cita dan realitas yang dialami. Dalam istilah spiritual, ironi menolak transendensi palsu. Meme menolak narasi besar tentang kendali, dan kepastian.

Meme menyoroti kontradiksi, yaitu menginginkan makna sementara merasa mati rasa, mencari tujuan sementara hampir tidak berfungsi. Ketegangan ini beresonansi dengan tradisi apofatik, yang mendekati kebenaran melalui negasi dan paradoks daripada afirmasi. Humor meme terletak pada pengakuan atas apa yang tidak dapat diselesaikan dengan rapi.

Namun, ada risiko jika terlalu bergantung pada humor. Ketika ironi menjadi permanen, hal itu dapat melindungi individu dari keterlibatan yang lebih praktis. Tawa mungkin melindungi dari keputusasaan, tetapi juga dapat mematikan kerinduan. Tradisi spiritual memperingatkan agar tidak salah mengartikan mekanisme penanggulangan sebagai transformasi.

Dalam kondisi terbaiknya, meme membuka ruang untuk refleksi, sedangkan dalam kondisi terburuknya, meme membekukan refleksi menjadi pengulangan tanpa akhir. Perbedaannya terletak pada apakah humor tetap terbuka terhadap keheningan, kesedihan, dan kerentanan.

Menariknya, budaya meme sering kali kembali ke tema-tema spiritual, bahkan ketika dibingkai secara sekuler. Lelucon tentang takdir, kekacauan, penderitaan, dan harapan yang absurd muncul kembali secara berulang. Tema-tema ini menggemakan pertanyaan-pertanyan kuno tentang makna dan keberlanjutan. Meme tidak menjawabnya, sebab ia  hanya mengisyaratkannya secara tidak langsung. Dengan demikian, ia mencerminkan kepekaan spiritual yang dibentuk kurang oleh doktrin dan lebih oleh kerapuhan bersama.

Bagi banyak anak muda, meme telah menjadi cara berbahasa untuk mengartikulasikan apa yang sulit diatasi oleh wacana keagamaan formal: kecemasan kronis, ketidakpastian ekonomi, kelelahan emosional, krisis politik, dan ketakutan ekologis.

Humor menjadi cara untuk menghadapi ragam realitas semacam itu tanpa runtuh di bawah bebannya. Lebih jauh, humor memungkinkan individu untuk tetap responsif secara emosional tanpa merasa kewalahan. Dalam konteks ini, meme dapat dilihat sebagai liturgi bertahan hidup di zaman yang terfragmentasi.

Spiritualitas di era meme tidak mengumumkan dirinya dengan penuh hormat atau kepastian. Ia berbisik melalui lelucon, ironi, dan tawa bersama. Ia muncul dalam pengakuan bahwa eksistensi itu berat dan kadang absurd, dan bahwa ketahanan terkadang dimulai dengan senyuman dan tawa.

Meme menawarkan jeda sesaat. Memang ia tidak menyelamatkan, menebus, atau menyelesaikan masalah. Yang meme dapat tawarkan justru vital meski sederhana, bahwa bahkan dalam kebingungan dan kesulitan multidimensi, tawa tetap mungkin, dan melalui tawa, makna yang rapuh pun masih dapat bertahan.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.