Zillul 'Ain Mahasantri Mahad Aly Nurul Jadid

Tingkatan Bersuci Menurut Imam Al-Ghazali

1 min read

islami.co

Kita sering mendengar bahwa kebersihan adalah sebagian dari pada iman. Meskipun kita tidak tahu secara persis makna kebersihan yang sesungguhnya. Makna kebersihan juga sering diidentikkan dengan suci. Kesucian dan kebersihan merupakan bagian dari ajaran Islam. Bahkan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menulis bab tersendiri terkait rahasia bersesuci dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin.

Imam Ghazali dalam kitab mukhtasor ihya’ halaman 25 (cet. Dar Al-Kutub Islamiyah) menukil beberapa hadits dan ayat al-Qur’an yang bersinggungan dengan bersuci. Di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW. :

اَلْوُضُوْءُ سَطْرُالْإِيْمَانِ

Artinya : Wudhu adalah sebagian dari iman.

Wudhu yang dimaksud adalah membersihkan diri ketika hendak melaksanakan sholat. Dalam hadis lain juga disebutkan :

بُنِيَ الدِّيْنُ عَلَى النَّظَافَةِ

Artinya : Agama dibangun diatas kebersihan.

Allah swt juga berfirman dalam surat At-Taubah ayat 108 :

فِيْهِ رِجَالٌ يُحِبُّوْنَ اَنْ يَتَطَهَّرُوْا

Artinya : Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri

Dari dalil-dalil di atas kita bisa mengetahui pentingnya kebersihan. Allah menyukai orang-orang yang bersih dan suci. Untuk itu dalam Islam diajarkan tentang berwudhu sebagai salah satu cara untuk membersihkan diri dan bersuci. Lebih lanjut lagi, Imam Ghazali lalu membagi tingkatan bersesuci dalam empat tingkatan :

Pertama adalah mensucikan dzohir dari hadas. Artinya kita membersihkan fisik atau tubuh kita dari sesuatu yang menghalangi terhadap sahnya sholat. Baik itu hadas besar ataupun hadas kecil. Baik kesucian tempat, pakaian ataupun perlengkapan yang digunakan untuk sholat.

Kedua adalah mensucikan fisik kita dari perilaku jahat, buruk atau perbuatan yang menimbulkan dosa. Memang, pada tingkatan yang kedua ini adalah dari dorongan hati, namun dalam pekerjaanya dilakukan oleh fisik itu sendiri, seperti mencuri, berzina dan lain-lain.

Baca Juga  Lebih Utama Mana Wiridan atau Belajar?

Ketiga adalah membersihkan hati dari akhlak yang buruk. Artinya perbuatan tercela yang ada di dalam hati, yang tidak tampak oleh mata, seperti iri, dengki, dan suudzon. Keempat itu lebih dalam lagi, yakni  membersihkan hati dari selain Allah. Tingkatan yang ke empat ini adalah bersucinya para nabi dan para shodiqin.

Pada masing-masing tingkatan bersuci tersebut mengandung dua hal, yaitu takhliah dan tahliah. Takhliah dengan menggunakan kho’ bermakna mengosongkan atau membersihkan. Sedangkan tahliah menggunakan ha’ bermakna menghiasi.

Sehingga, selain harus membersihkan diri dari sifat sifat yang buruk, juga diharuskan untuk menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji. Selain membersihkan anggota jiwa kita dari dosa, tapi juga menghiasi diri kita dengan perbuatan taat.

Maka hendaknya kita tidak menyangka bahwa apa yang dimaksud dengan kebersihan tidak hanya kebersihan secara dzohir saja melainkan juga batin. Serta jangan pula menyangka bahwa untuk melalui empat tingkatan bersuci tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Bahkan seandainya umur kita panjang, paling tidak kita mencapai sebagian empat tingkatan tersebut.

Kiai Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid (Probolinggo) sering mencontohkan timbal balik kita dengan lingkungan ketika kita menjaga kebersihan. Jika kita tidak peduli terhadap lingkungan dan membiarkan lingkungan kita kotor begitu saja, maka akibatnya akan kembali kepada diri kita, seperti timbulnya berbagi macam penyakit.

Demikianlah ulasan singkat mengenai tingkatan bersuci menurut Imamuna Al-Ghazali. Semoga hal ini dapat menjadi wawasan yang bermanfaat dan berkah kepada kita. Amiin. (mmsm)

Zillul 'Ain Mahasantri Mahad Aly Nurul Jadid