Sufisme Melampaui Mistisisme: Teknologi Diri dan Disiplin Spiritual
Menggambarkan sufisme hanya sebagai mistisisme berarti mengabaikan sebagian besar kekayaannya.
Menggambarkan sufisme hanya sebagai mistisisme berarti mengabaikan sebagian besar kekayaannya.


Pertimbangkan tubuh. Sebagian besar individu secara alami berbicara tentang “tubuhku”, tetapi tidak seorang pun memilih genetika, tempat kelahiran, keluarga, dan banyak kondisi lain yang membentuk keberadan mereka.


Pengorbanan sesungguhnya di Hari Raya Iduladha bukanlah sekadar hewan yang ada di luar diri kita, melainkan hewan yang gelisah di dalam diri kita.



Islam milik semua orang, tetapi semua orang berusaha mendefinisikannya untuk orang lain. Ketegangan ini mengungkapkan kebenaran yang tidak nyaman.


“Jangan mempertanyakan agama” merupakan salah satu ucapan yang tampaknya bernada saleh, rendah hati, dan protektif. Ucapan ini sering dilontarkan atas nama rasa hormat, iman, atau ketulusan spiritual. Dalam hal ini, pertanyaan digambarkan sebagai hal yang berbahaya karena dapat melemahkan keyakinan, mengganggu keharmonisan komunitas, atau menjauhkan individu dari Tuhan. Namun, di balik kekhawatiran yang tampaknya religius […]


Kekacauan mungkin adalah sesuatu yang memungkinkan kebebasan. Dunia yang sepenuhnya dapat diprediksi akan menyisakan sedikit ruang untuk pilihan yang autentik.


Agama tidak menggantikan logika, dan tidak perlu menggantikannya. Sebaliknya, agama melengkapinya, membahas dimensi yang tidak dapat sepenuhnya dicakup oleh logika saja.


Islam dan pascakolonialisme mengungkapkan ketegangan kompleks di mana agama menjadi bahasa perlawanan sekaligus alat yang dapat mereproduksi kekuasaan.


Melepaskan dalam Islam berarti belajar untuk bergerak maju tanpa kehilangan makna. Ini tentang menerima perubahan tanpa meninggalkan niat.


Makna spiritual menunggu di bulan Ramadan menjadi begitu terasa dalam menit-menit menjelang Magrib, ketika kesabaran menjadi bentuk ibadah.

