Islam dan Pascakolonialisme antara Perlawanan dan Kekuasaan
Islam dan pascakolonialisme mengungkapkan ketegangan kompleks di mana agama menjadi bahasa perlawanan sekaligus alat yang dapat mereproduksi kekuasaan.
Islam dan pascakolonialisme mengungkapkan ketegangan kompleks di mana agama menjadi bahasa perlawanan sekaligus alat yang dapat mereproduksi kekuasaan.


Melepaskan dalam Islam berarti belajar untuk bergerak maju tanpa kehilangan makna. Ini tentang menerima perubahan tanpa meninggalkan niat.


Makna spiritual menunggu di bulan Ramadan menjadi begitu terasa dalam menit-menit menjelang Magrib, ketika kesabaran menjadi bentuk ibadah.


Ketika rasa lapar atau haus datang, jarang sekali ia mengetuk dengan sopan. Ia mengganggu pikiran, memperpendek kesabaran, dan mengungkap arsitektur rapuh dari pengendalian diri kita. Selama Ramadan, gangguan ini bukanlah suatu kebetulan. Puasa bukan hanya penangguhan nafsu makan, karena ia adalah pengungkapan diri secara sengaja. Rasa lapar menjadi cermin, dan dalam pantulannya kita menemukan sesuatu […]


Cinta diri (self-love) dalam Islam bukanlah entah pemujaan terhadap diri sendiri ataupun pengabaian diri


Menghentikan perbandingan bukan menurunkan ambisi atau menolak keunggulan. Ini tentang mengarahkan ambisi ke dalam dan ke atas daripada ke samping


Di era gawai, kebersamaan fisik tidak selalu berarti perjumpaan. Kita bersama, tetapi tidak benar-benar berbincang.


Dalam budaya yang tak pernah berhenti bergerak, penyederhanaan menjadi bentuk perlawanan spiritual, suatu tindakan untuk merebut kembali waktu, niat, dan kehadiran.


Media sosial kini menjadi ruang berbagi kebaikan, namun juga melahirkan praktik pamer sedekah. Artikel ini membahas fenomena tersebut menurut hukum Islam, termasuk riya’, tadlis, dan pengaruhnya terhadap kepercayaan masyarakat.


Kekuasaan sering tampil rapi di layar depan, tetapi di baliknya bekerja kompromi, normalisasi, dan tangan-tangan yang jarang disorot nurani.

