Stigma Negatif terhadap Ulama: Perlunya Berpikir Kritis dan Tabayyun

Prof. M. Quraish Shihab Saat Menerima Penghargaan dari Universitas al-Azhar Mesir Karena Dinilai Telah Berkontribusi Besar bagi Pengembangan Ilmu Keislaman

Belum lama ini penulis mengalami kejadian yang membuat mengernyitkan dahi. Ada seseorang yang mengomentari tentang Prof. M. Quraish Shihab pada saat saya mencoba menjual buku beliau: bahwa beliau itu Syiah, tafsirnya banyak yang menyimpang, dan beliau tidak mewajibkan jilbab.

Stigma ini sudah beredar mungkin sejak 10 tahun yang lalu, akan tetapi masih banyak yang percaya begitu saja tanpa menelusuri apakah hal tersebut benar atau tidak.

Padahal, sudah banyak video dan artikel “Benarkah Quraish Shihab Tidak-Mewajibkan Perempuan untuk Berjilbab” yang menyanggah stigma negatif itu. Apalagi ini zamannya internet, pasti mudah untuk menemukan informasi tersebut.

Namun, untuk menemukan informasi yang tepat, selain harus kritis, kita harus juga tabayyun kepada orang yang lebih mengerti agama, kalau tidak bisa bertanya kepada orangnya langsung, minimal bisa tanya pendapat ulama yang ada di sekitar kita dulu.

Tidak hanya Prof. Quraish, ada banyak ulama-ulama yang sudah terlanjur “distempel” dengan sebutan-sebutan yang tidak pantas, misalnya liberal, sesat, maupun dicap kafir.

Tentunya hal ini membuat penulis makin penasaran, apakah sebutan itu benar adanya? Karena menurut penulis, seharusnya sebutan tidak pantas itu tidak disematkan kepada ulama.

Penulis memulai dengan tabayyun dengan saudara yang kebetulan aktif di LDNU. Beliau bilang, bahwa Prof. Quraish merupakan seorang ulama dan mufassir besar yang ada di Indonesia. Keilmuan beliau sangat mumpuni dalam bidang tafsir Alquran, dan beliau selalu berbicara dengan lemah lembut, menandakan beliau memiliki akhlak yang mulia.

Penulis lega mendengar penjelasan ini. Saudara saya mengatakan, misalpun ada pendapat Prof Quraish yang kurang cocok dengan kita, maka lebih baik kita husnuzan saja kepada beliau. Barangkali karena kita sebagai orang awam belum paham apa-apa.

Poin ini yang selalu pegang teguh sebagai prinsip. Agar kita tak mudah berprasangka buruk terhadap orang lain, apalagi kepada orang yang tidak kita kenal secara langsung.

Setelah tabayyun, kita bisa memulai dengan menelaah pemikiran Prof Quraish, yaitu dengan membaca buku atau mendengarkan ceramah beliau. Sudah banyak buku-buku beliau dijual di toko online maupun toko buku fisik.

Dari membaca kita bisa menilai sendiri, apakah benar Prof Quraish itu tidak mewajibkan jilbab, atau apakah beliau ini Syiah. Beliau juga punya channel youtube sendiri, dan ada segmen tanya jawab di Shihab & Shihab seputar isu terkini, dikemas dengan sangat menarik dan kekinian.

Selain membaca buku Prof. Quraish, penulis juga membaca buku-buku keislaman lain, dan ternyata, banyak buku yang mengutip pendapat Prof Quraish. Ini menjadi bukti bahwa keilmuan beliau benar-benar diakui.

Seseorang kalau tidak memiliki ilmu yang tidak tinggi, tidak mungkin pendapatnya dijadikan referensi berbagai buku dan literatur lain. Hal ini membuat saya semakin percaya dengan ketinggian ilmu yang dimiliki Prof. Quraish.

Serangkaian langkah di atas adalah bentuk verifikasi yang penulis lakukan. Saya selalu tidak puas dengan pendapat orang lain berdasarkan “katanya katanya”.

Seharusnya hal inilah yang wajar kita lakukan, selalu melakukan mencerna, membandingkan, dan menelusuri lebih jauh terhadap informasi yang kita terima.

Dari proses tersebut, kita dapat menghasilkan kesimpulan minimal untuk diri sendiri. Saya lebih memilih untuk tidak gegabah menyebarkan isu tidak jelas, apalagi kita tidak benar-benar kenal dekat dengan orang yang dibicarakan, karena rawan menjadi fitnah.

Selain dapat menimbulkan fitnah, menurut penulis stigma negatif terhadap ulama di atas tidak menunjukkan adab yang baik terhadap ulama. Padahal, sebagai orang awam perlu tahu diri akan ketidaktahuannya terhadap ilmu agama, bukan malah menyebarkan stigma yang belum pasti kebenarannya.

Kita hormati pendapat para ulama, mereka lebih sepuh dan jelas lebih berilmu dari kita orang awam ini. Adab seperti inilah yang sudah mulai pudar di masa sekarang ini, karena banyak kandungan negatif di dalam pusaran media sosial.

Memang tidak mudah untuk merubah stigma negatif terhadap seseorang, apalagi stigma negatif itu menempel dan digaungkan terus menerus selama bertahun-tahun. Diperlukan usaha lebih untuk merubah stigma negatif tersebut agar orang lain mengerti, namun bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Salah satu cara yang penulis sarankan adalah membuka pikiran dengan membaca. Bacalah suatu informasi dari berbagai sudut pandang, banyaklah baca dan baca, dari buku, esai, artikel koran, apapun bisa. Perbanyaklah data-data yang bisa dijadikan acuan. Lalu kritislah dalam membaca itu, tariklah kesimpulan. Anggaplah yang sudah dilakukan itu merupakan riset kecil.

Lalu, untuk melatih agar selalu berprasangka baik, cobalah selalu tabayyun dengan orang yang lebih memiliki ilmu. Dengan berdialog dua arah, akan menemukan perspektif dan pandangan baru tentang suatu hal. Niscaya akan dibuka hati yang akan selalu menerima perbedaan, bukan hati yang dipenuhi kebencian.

Editor: MZ

0

Sarjana Teknik yang Menyukai Tema Keislaman; Berdomisili di Balikpapan

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.