Mengapa Gagak Dipilih dalam Kisah Qabil dan Habil?

Momen saat Qabil belajar dari kecerdasan burung gagak tentang cara memakamkan jasad, sebuah titik balik penyesalan dalam sejarah manusia.

Al-Qur’an menyebut manusia sebagai makhluk terbaik (QS. At-Tin: 4). Namun dalam satu kisah, manusia justru belajar dari seekor burung.

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. At-Tin [95]: 4)  

Bagaimanapun manusia tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan. Kadang manusia lalai dalam menjalankan sesuatu kewajiban; kadang berbuat keburukan karena dikuasai oleh nafsu; kadang juga bertindak sembrono atau ceroboh karena ketidaktahuannya.

Sebagai manusia tentunya kita perlu sadar diri dan tahu diri bahwa kita ini adalah makhluk biasa yang pastinya tidak luput dari kesalahan, dan selalu memiliki kekurangan dan keterbatasan. Dengan begitu kita akan belajar, mengisi otak dengan ilmu pengetahuan, memoles diri dengan akhlak yang mulia, dan senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia yang mendatangkan manfaat pada orang lain.

Kisah Qabil dan Habil merupakan tragedi pembunuhan pertama dalam sejarah manusia, yang dipicu oleh rasa iri. Setelah membunuh saudaranya, Qabil justru kebingungan bagaimana memperlakukan jasad tersebut.

Allah pun kemudian mengirim dua burung gagak di hadapan Qabil. Dua ekor gagak tersebut bertengkar hingga salah satu dari mereka mati. Burung gagak yang masih hidup menggali tanah, lalu menguburkan jasad gagak yang mati.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al Maidah (5): 31.

فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِى ٱلْأَرْضِ لِيُرِيَهُۥ كَيْفَ يُوَٰرِى سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَٰوَيْلَتَىٰٓ أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا ٱلْغُرَابِ فَأُوَٰرِىَ سَوْءَةَ أَخِى ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.”

Melihat kejadian itu Qabil meniru apa yang telah dilakukan oleh burung gagak tadi, Qabil menggali tanah, mengubur jasad Habil. Meski sudah mengubur Habil, tetap rasa bersalah dan dosa besar selalu ada di setiap saat dalam benak Qabil.

Akhirnya dia memutuskan untuk mengasingkan diri, dia pergi menjauh dari ayahnya untuk menyendiri sebagai bentuk penebusan dosa.

Dari cerita ini, saya sebenarnya penasaran; kenapa yang dikirim sebagai contoh adalah burung gagak, bukan hewan lain? Kenapa bukan kera atau monyet yang memiliki anatomi tubuh yang mirip manusia, dengan bentuk dan fungsi tangan dan kakinya hampir mirip dengan manusia?

Mungkin, tidak hanya saya yang bertanya-tanya akan hal itu; bisa jadi banyak orang juga pernah terbesit pertanyaan serupa. Jawabannya bukan pada kemiripan fisik, tetapi pada kecerdasan dan kemampuan belajar.

Faktanya, gagak adalah salah satu hewan yang memiliki kecerdasan yang tinggi. Sejumlah penelitian neuroanatomi mengemukakan bahwa gagak memiliki rasio otak terhadap tubuh yang relatif tinggi dibandingkan banyak hewan mamalia. Selain itu, otak depan burung mengandung jumlah neuron yang sangat padat, bahkan sebanding dengan primata, meskipun ukuran otaknya lebih kecil.

Dalam beberapa kasus, di Amerika dan Jepang misalnya, burung gagak yang hidup di perkotaan belajar membuka makanan yang berkulit keras dengan meletakkannya di tengah jalan yang padat kendaraan agar terlindas dan isinya keluar.

Setelah makanan tersebut pecah, gagak akan menunggu lampu lalu lintas berwarna merah sehingga kendaraan berhenti dan dia bisa mengambil makanannya yang telah terbuka akibat lindasan ban kendaraan tadi.

Tak hanya itu, pada tahun 2011 sebuah tim di  University of Washington melakukan percobaan pada gagak dan ternyata gagak bisa mengenali dan mengingat wajah orang yang berbahaya. Satu orang memakai topeng, lalu mengambil beberapa gagak di suatu tempat, kemudian di lepas.

Gagak yang lepas itu mengeluarkan suara keras seperti memberi peringatan pada kelompoknya. Sedangkan satu orang lagi hanya lewat tanpa melakukan apa pun di tempat yang sama.

Setelah lima tahun orang yang memakai topeng kembali datang ke tempat itu dengan topeng yang sama. Alhasil, ia didatangi banyak gagak sembari meneriakinya lalu menyerangnya. Sedangkan orang yang  hanya lewat saja, tidak mendapat perlakuan yang sama. Mereka membiarkan orang ini lewat begitu saja.

Hal ini membuktikan bahwa gagak memiliki ingatan yang kuat meski telah lewat beberapa tahun yang lalu, dan bisa memberikan peringatan pada kawanannya untuk berhati-hati.

Gagak dalam kisah ini menjadi simbol bahwa hikmah bisa datang dari mana saja. Bahkan dari seekor burung, manusia belajar tentang kematian, penyesalan, dan tanggung jawab. Al-Qur’an mengajarkan manusia bukan hanya melalui wahyu, tetapi juga melalui alam.

0

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.