Mendampingi Anak Gamer agar Terhindar dari Radikalisasi Digital

Seorang ayah yang menemani anak remajanya, berinteraksi dengan hangat saat sang anak bermain gim di lingkungan rumah yang aman

Ketika melewati pintu kamar seorang remaja di malam yang tenang, kita mungkin tak lagi menemukan keheningan total. Yang terdengar sering kali adalah bunyi keyboard, suara percakapan, atau alunan musik latar dari sebuah gim (game).

Bagi orang tua, hal ini mungkin tampak sekadar hiburan, atau bahkan obsesi yang tidak sehat terhadap layar. Akan tetapi, mari kita sejenak menyelami dunia digital mereka. Kita akan menyadari bahwa kamar anak itu menjadi tempat yang paling nyaman, alih-alih sekadar kamar tidur belaka.

Selama bertahun-tahun, respons kolektif kita sebagai orang dewasa terhadap pergeseran ini berakar pada kecemasan dan keinginan untuk mengendalikan. Kita memasang perangkat lunak pemantau, menetapkan batasan waktu layar yang ketat, atau melarang penggunaan platform gim sepenuhnya.

Kita menganggap dunia digital sebagai wilayah berbahaya yang mestinya tak dimasuki oleh anak-anak kita, dan kita merasa tugas kita hanyalah menjadi penjaga yang mengawasi mereka. Padahal, pendekatan ini mengabaikan satu hal mendasar, yakni kita tidak bisa mengawasi ruang yang tidak ingin kita pahami.

Bahaya nyata yang dihadapi anak-anak di dunia maya saat ini jarang sekali muncul dalam bentuk ancaman yang tiba-tiba atau mencolok. Bahaya itu justru menyelinap melalui celah-celah kecil akibat isolasi emosional.

Ketika seorang remaja merasa tidak dipahami di sekolah atau merasa jauh dari keluarganya di rumah, hal itu dapat dimanfaatkan dengan segera oleh kelompok-kelompok ekstrem atau radikal dan pihak-pihak yang berniat jahat di dunia maya.

Penting dicatat bahwa kelompok-kelompok semacam itu tidak langsung datang dengan menyodorkan ideologi agresif, melainkan mereka justru hadir dengan halus sebagai rekan bermain yang ramah.

Mereka memberikan pujian setelah sesi permainan yang seru, mau menjadi pendengar yang handal, dan akhirnya perlahan membangun kedekatan emosional. Pada titik ini, muncullah kesan bagi anak remaja bahwa hanya mereka yang benar-benar dapat memahami dirinya, sehingga perlahan menarik seorang anak menjauh dari ikatan di dunia nyata, masuk ke kanal pribadi yang tidak terpantau.

Ketika radikalisasi atau eksploitasi terjadi, kita tak bisa serta-merta menyalahkan teknologi, melainkan itu merupakan eksploitasi terhadap kerentanan manusia. Sebab, tidak ada penyaring konten apa pun di dunia ini yang mampu menambal celah dalam hubungan emosional, terutama anak-anak.

Inilah alasan mengapa kita sangat perlu beralih dari sekadar melakukan pengawasan digital menjadi pendampingan digital.

Pola asuh digital yang berlandaskan kepercayaan bukan berarti menutup mata atau meniadakan batasan. Hal ini berarti mengubah pendekatan utama kita, dari pengawasan menjadi rasa ingin tahu.

Alih-alih bertanya pada anak kita, “Mengapa kamu membuang-buang waktu untuk bermain gim itu lagi?”, kita bisa bertanya, “Apa misi tersulit yang berhasil kamu selesaikan akhir pekan ini?” atau “Dengan siapa kamu bermain, dan apa yang membuat gim itu seru?”

Saat kita menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan daring mereka tanpa langsung menghakimi, kita meruntuhkan tembok jarak dan kerahasiaan.

Kita seyogianya menjadikan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak remaja agar mau datang kepada kita, misalnya saat mereka merasa ada interaksi yang ganjil, saat orang asing menanyakan hal-hal pribadi yang tak sepatutnya, atau saat seorang “teman” daring mulai melontarkan ide yang meresahkan.

Mengenali tanda-tanda dari online grooming (upaya memanipulasi anak secara daring untuk tujuan eksploitasi) membutuhkan kepekaan emosional, bukan sekadar kecanggihan teknis. Tanda-tandanya bukan sebatas penurunan nilai di sekolah saja.

Lebih dari itu, tanda-tanda tersebut dapat terlihat dari perubahan-perubahan kecil, seperti tiba-tiba menarik diri dari percakapan saat makan bersama keluarga, sikap sangat waspada untuk menyembunyikan layar gawai, penggunaan istilah atau bahasa gaul yang asing dan ekstrem, candaan kelam yang menormalisasi pandangan radikal, atau munculnya sikap sinis yang tidak biasa terhadap dunia luar.

Dalam konteks ini, sekolah dan para guru juga memegang peran yang sama pentingnya. Maka dari itu, pendidikan seyogianya berperan membekali anak dengan imunitas emosional dan kemampuan berpikir kritis.

Anak-anak perlu tahu cara mengenali manipulasi emosional, melindungi privasi mereka secara naluriah, serta merasa berdaya untuk menolak permintaan yang membuat mereka tidak nyaman tanpa rasa takut bahwa gawai mereka akan disita sebagai hukuman.

Ketika sekolah dan rumah menyediakan kanal yang aman, anak-anak mendapatkan jaring pengaman tambahan, alih-alih sekadar menambah intensitas pendisiplinan. Pada akhirnya, perlindungan tidak dibangun melalui paranoia atau dengan membatasi akses internet secara total.

Perlindungan justru dibangun di dalam rumah melalui percakapan sehari-hari. Saat orang tua duduk bersama anak untuk memainkan gim, menertawakan kesalahan langkah dalam permainan, dan merayakan kemenangan anak bersama-sama, maka sesuatu yang luar biasa terjadi.

Layar yang tadinya menjadi penghalang antargenerasi pun berubah menjadi jembatan. Perisai paling efektif yang bisa kita berikan kepada anak-anak di era gim dunia maya bukanlah perangkat yang terkunci atau aplikasi yang membatasi.

Perisai itu justru adalah keyakinan yang teguh bahwa apa pun yang terjadi di dunia maya, rumah tetaplah “zona aman” utama bagi mereka, sebuah tempat di mana mereka selalu didengarkan, dipahami, dan tidak perlu menghadapi sisi kelam sendirian.

0

Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.