Ketika Kontroversi Dakwah Terjebak Polarisasi Media Sosial

Kontroversi dakwah Gus Iqdam memicu beragam respons publik dan perdebatan di media sosial.

Sebagian orang sering kali terjebak pada ‘dikotomi biner’ yang kaku, hitam-putih, dalam melihat realitas sosial. Kondisi ini semakin diperparah dengan  hadirnya lini masa media sosial hari ini yang berpotensi tinggi membuat pengguna digital melihat segala sesuatu terkotak-kotak antara kita (us) dan mereka (them).

Dalam hal beragama, problem dikotomi biner ini pun tidak luput menyerang para pemeluk agama. Seringkali pemberitaan media kita diwarnai dengan ketegangan-ketegangan lahir dari pandangan semacam ini.

Salah satu contoh kasus yang masih hangat diperbincangkan di media sosial belakangan ini adalah tentang peringatan Hari Lahir (Harlah) Sabilut Taubah 2026, Majlis Taklim yang dibina oleh Muhammad Iqdam Kholid, lebih dikenal dengan nama Gus Iqdam. Dalam Harlah tersebut, Sabilut Taubah menghadirkan konser musik dangdut dengan menampilkan penyanyi perempuan.

Banyak kalangan baik dari tokoh agama maupun masyarakat awam mengkritik acara tersebut. Umumnya, mereka memandang bahwasannya pertunjukan semacam itu, menampilkan biduan yang berjoget ‘tipis-tipis’ dan lagu yang dianggap kurang sopan, selayaknya tidak ditampilkan dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh majlis keagamaan atau tokoh pendakwah seperti Gus Iqdam.

Mereka yang tidak sepakat menganggap bahwasannya hal itu bertolak belakang dengan nilai luhur dakwah Islam yang mengedepankan etika dan kesopanan.

Dalam kasus kontroversi Harlah Sabilut Taubah ini, penulis tidak bermaksud menjatuhkan vonis benar atau salah atas penampilan penyanyi perempuan acara tersebut. Namun, netral sepenuhnya juga bukan posisi yang jujur.

Penulis melihat bahwa kritik terhadap acara tersebut “sah-sah saja”, namun cara publik menyampaikan kritik seringkali mengabaikan konteks dakwah yang dilakukan oleh Sabilut Taubah.

Penulis lebih menyoroti soal pola respon publik, terutama di wilayah media digital yang terjebak pada dikotomi biner “us vs them” tanpa memahami konteks,  bukan melulu soal pertunjukan semata.

Jika melihat metode dan target dakwah Sabilut Taubah, pertunjukan semacam ini dianggap sebagai hal yang ‘biasa’ mengingat majelis taklim ini sendiri memang menyasar kelompok-kelompok masyarakat awam dan kelompok subkultur marjinal dengan pendekatan yang lebih merangkul dan bertahap.

Tentu hal ini sangat berbeda dengan metode dakwah yang lazimnya dilakukan oleh tokoh agama lainnya, yang pada umumnya menyasar kelompok awam arus utama. Dengan kata lain, konflik ini timbul akibat benturan antara pendekatan dakwah berbasis subkultur marjinal dengan ekpekstasi moral masyarakat beragama arus utama (mainstream).

Dalam studi kultural Stuart Hall, teori encoding-decoding, fenomena ini memperlihatkan keberagaman posisi tawar penonton (decoding). Masyarakat arus utama membaca panggung dangdut tersebut secara oposisional, menolak karena dianggap melanggar norma.

Dengan kata lain, kontroversi ini merupakan perjumpaan berbagai cara memaknai praktik dakwah. Sebagian orang menafsirkannya sebagai persoalan etika keagamaan, sementara yang lain mungkin melihatnya dalam konteks strategi dakwah dan kedekatan sosial dengan jamaah.

Di sisi lain, kelompok subkultur menerimanya secara negosiatif bahkan dominan sebagai bentuk kegembiraan dakwah. Sayangnya, media sosial mereduksi ruang “negosiasi” ini dan memaksa publik mengambil sikap ekstrem menerima total atau menolak mentah-mentah.

Pada titik ini lah logika hitam-putih terjadi. Perbedaan pandangan mengenai etika panggung dakwah, yang sejatinya merupakan ruang diskusi sosiologis dan fikih yang kaya konteks seketika direduksi oleh publik menjadi perang moral yang serba biner.

Ketika isu ini masuk ke dalam arena digital, kompleksitas pendekatan dakwah bertahap (tadarruj) yang menyasar kelompok subkultur marjinal seperti yang selama ini dilakukan oleh Gus Iqdam mendadak sirna. Terlebih lagi ketika fenomena semacam ini sudah masuk di ruang-ruang lini masa digital.

Respons publik di ruang digital cenderung terpolarisasi, sementara suara yang terukur justru kurang terdengar, seperti Plt. Kepala Kantor Kemenag Blitar yang menilai penampilan itu kurang tepat seraya mengakui belum melihat video utuh, dan MUI Jatim yang akan mengkaji lebih dulu sebelum menegur.

Di kolom komentar media sosial, penyelenggara dan jamaah kerap dilabeli mempertontonkan kemaksiatan, sedangkan pengkritik dicap kaku dan “sok suci”.

Pola itu tampak pada sebuah unggahan di X yang mengubah kritik atas satu penampilan menjadi sebuah vonis pertunjukan kemaksiatan. Di kubu seberang, pengkritik dicap sok suci. Keduanya sama-sama memampatkan perbedaan menjadi pertarungan antara yang suci dan yang bejat.

Perlu dipahami bahwa polemik ini bukanlah persoalan ideologi ekstremisme; baik pengkritik maupun pembela sama-sama berangkat dari kepedulian terhadap agama. Namun, fenomena semacam ini memiliki pola yang sama yang kerap menjadi pintu masuk narasi ekstrem, penyederhanaan antara yang “benar” dan “salah”, sedangkan konteks perbedaan dianggap sebagai kelemahan iman.

Di ruang digital, para pengguna mudah tergoda dengan cara pandang semacam ini sebagai jalan pintas menuju kepastian. Sehingga, dibutuhkan kemampuan untuk tidak memberikan vonis dan menggali konteks agar dapat menjadi benteng awal agar tidak terjerumus pada permusuhan terhadap mereka yang berbeda.

Di sisi lain, respon dari Gus Iqdam sendiri cukup menarik untuk dicermati; bagaimana ia menerima setiap kritik yang disampaikan dan bahkan hujatan. Ia bahkan berterima kasih atas kritik yang disampaikan.

Sikap ini dapat dibaca sebagai kerendahan hati, tetapi juga dapat dibaca sebagai pengalihan sebagian tanggung jawab kepada panitia. Terlepas dari itu, sikap yang lapang membantu meredam eskalasi, meski satu pernyataan tidak serta-merta meruntuhkan polarisasi yang dibentuk logika media sosial.

Kedewasaan sikap semacam ini pula yang tampaknya kita perlukan dalam beragama. Sebagaimana prinsip moderat yang mengedepankan sikap menghormati perbedaan pendapat (tasamuh) yang diiringi dengan  keberimbangan dalam melihat suatu masalah (tawazun), sikap yang ditunjukkan Gus Iqdam merupakan teladan bagaimana menyikapi sebuah kritik dan hujatan dari mereka yang tidak sependapat.

Jika hal demikian dapat dilakukan oleh masyarakat kita, terlebih lagi oleh para tokoh agama lainnya, saya kira dikotomi biner dan pengkotak-ngotakan antara benar dan salah dalam beragama dapat dihindari.

0

Editor arrahim.id, dapat disapa melalui Twitter @aminuddinhamid

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.