Mendekonstruksi Propaganda Geopolitik Impor di Ruang Digital

Propaganda geopolitik impor di ruang digital

Ketika kita menelusuri linimasa media sosial pada suatu sore, kita melihat batas-batas dunia seolah memudar. Konflik yang terjadi ribuan mil jauhnya—di Timur Tengah misalnya—tidak lagi dipandang sebagai jalinan rumit sengketa wilayah, kepentingan ekonomi, dan dendam sejarah.

Konflik tersebut seketika diringkas menjadi grafik digital yang provokatif dan hitam-putih, sebuah kemutlakan moral yang dibingkai bukan sebagai perjuangan antarnegara, melainkan sebagai perang kosmis atas nama keyakinan.

Bagi generasi muda yang tumbuh di era digital di Indonesia—yang memiliki empati luas dan sangat terikat pada solidaritas keagamaan—layar gawai pintar dapat malah berfungsi layaknya pengeras suara emosional.

Kendati demikian, di balik tagar yang sedang tren dan potongan video yang viral, terdapat mekanisme yang terencana dan senyap, yaitu upaya sengaja untuk mengimpor konflik global guna membentuk ulang pola pikir masyarakat lokal.

Kita hidup di era di saat kemarahan bisa menyebar lebih cepat daripada pemahaman yang bernuansa dan berlapis. Perjuangan politik di luar negeri—mulai dari faksi-faksi di Timur Tengah hingga titik-titik panas sistemik di Eropa dan Asia—dikemas ulang secara sistematis untuk audiens Indonesia.

Pada umumnya, konteks lokal dihilangkan, dan realitas rumit dalam tata kelola negara dihapus begitu saja. Yang tersisa hanyalah komoditas ideologis yang ampuh, narasi tentang “perang suci” atau perang universal melawan keyakinan.

Mengapa hal ini dilakukan? Karena para penggerak ideologi tahu bahwa argumen politik bisa diperdebatkan, tetapi sentimen keagamaan menuntut kesetiaan mutlak. Dengan membingkai ulang perebutan kekuasaan geopolitik sebagai pertempuran teologis, para propagandis berhasil memintas dan membekuk pemikiran kritis.

Mereka langsung menyasar rasa kewajiban seorang penganut, mengubah krisis politik yang jauh menjadi keharusan moral pribadi yang diperjuangkan di layar gawai pintar.

Mekanisme infiltrasi digital ini sangat bergantung pada eksploitasi algoritma moderasi konten dan psikologi manusia. Para propagandis menggunakan apa yang bisa disebut sebagai “koreografi untuk mengelabui kebijakan”, memanfaatkan bahasa berkode, ejaan yang diubah, meme viral, serta simbol-simbol bermuatan emosional yang mampu lolos dari sistem moderasi otomatis, tetapi tetap cukup lantang untuk memicu kemarahan publik.

Yang lebih berbahaya, jaringan ini mengeksploitasi kerinduan manusia akan kepastian di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Mereka membangun dikotomi hitam-putih yang kaku, seperti Anda berada di pihak umat beriman yang tertindas, atau Anda dianggap terlibat mendukung pihak penindas.

Melalui pelabelan politik semacam itu, siapa pun yang mengusulkan solusi yang bernuansa dan penafsiran berwarna, diplomatis, atau bersifat kelembagaan akan langsung disingkirkan dan dianggap tidak islami atau dituding memiliki integritas moral yang cacat.

Lebih buruk lagi adalah penggunaan eskatologi, narasi tentang hari akhir, sebagai senjata. Para propagandis sering memanipulasi nubuat keagamaan yang autentik dengan mencocokkan teks-teks kuno tersebut ke dalam titik-titik panas geopolitik modern.

Dengan meyakinkan kaum muda yang religius bahwa aktor-aktor politik saat ini merupakan perwujudan dari nubuat profetik, mereka menciptakan rasa akan datangnya kiamat dan ancaman eksistensial yang sengaja direkayasa.

Kondisi pengepungan yang terus-menerus diciptakan ini memiliki satu tujuan tunggal, yaitu menumbuhkan antagonisme yang mendalam dan terus membara terhadap tatanan sosial-politik yang ada. Hal ini membawa kita pada tujuan akhir dari propaganda digital tersebut, tak lain dan tak bukan adalah delegitimasi sistematis terhadap negara-bangsa.

Ketika kaum muda terus-menerus disuguhi narasi bahwa pemerintah nasional, konsensus konstitusional, dan institusi sipil dianggap korup atau tidak relevan dalam menghadapi perjuangan keagamaan global, maka terjadi keretakan secara diam-diam. Konsensus dasar sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia—yang dibangun di atas kewarganegaraan bersama dan sikap saling mengakomodasi—menjadi tergerogoti.

Tujuan utama dari propaganda transnasional ini bukan sekadar menunjukkan simpati terhadap perjuangan di tempat yang jauh, melainkan lebih tepatnay menjauhkan warga negara dari tanah airnya sendiri, serta mengganti loyalitas nasional dengan kesetiaan pada agenda-agenda transnasional yang radikal.

Menyadari adanya manipulasi ini bukan berarti membuat kita menutup mata terhadap penderitaan global atau mengabaikan empati kemanusiaan. Solidaritas sejati menuntut kejernihan moral, bukan jalan pintas intelektual.

Kita bisa, dan seyogianya harus, bersikap tegas melawan ketidakadilan, penindasan, dan krisis kemanusiaan di seluruh dunia, mulai dari Palestina hingga di mana pun, tanpa harus terjebak dalam upaya meruntuhkan rumah kita sendiri.

Penawar bagi propaganda yang diimpor dari luar tidaklah dengan upaya penyensoran atau sikap diam yang defensif, melainkan pada literasi geopolitik yang kuat serta komitmen yang teguh terhadap kerangka kebangsaan kita.

Dengan kata lain, kita memerlukan ketahanan intelektual yang mampu mencermati video viral, menanggalkan dramatisasi emosional di dalamnya, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap propaganda geopolitik, seperti siapa yang diuntungkan dari kemarahan ini? Konteks apa yang sedang disembunyikan? Bagaimana hal ini berpengaruh pada kemanusiaan kita bersama?

Keadilan sejati tidak akan pernah tercapai dengan mengimpor kekacauan dari luar atau menukar kedamaian nasional kita dengan radikalisme yang viral.

Dengan mendasarkan empati kita pada pemikiran kritis, konteks historis, serta pemahaman yang matang mengenai iman dan kewarganegaraan, kita dapat merebut kembali ruang digital kita. Kita bisa sangat peduli terhadap dunia di luar batas negara kita, tanpa harus membiarkan pihak-pihak manipulatif yang tak terlihat mengubah jiwa bangsa kita sendiri.

0

Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.