Solidaritas Berdaulat: Menjaga Persatuan Indonesia di Era Digital

Para pemuda Indonesia yang beragam menganalisis geopolitik global sembari tetap menjaga kedaulatan dan solidaritas nasional

Ketika berita internasional mencuat, baik mengenai krisis kemanusiaan di Palestina, dinamika keamanan yang kompleks di Timur Tengah, maupun konflik wilayah di Kaukasus, ruang digital di Indonesia seketika dipenuhi oleh gejolak emosional.

Bagi generasi yang tumbuh di era konektivitas global, menutup mata terhadap penderitaan di luar negeri bukanlah pilihan yang mungkin maupun diinginkan. Kaum muda Indonesia sangat peduli pada keadilan global.

Meskipun begitu, empati yang mulia semacam itu sering kali menghadapi ancaman terselubung yang berbahaya, yaitu jaringan propaganda asing yang berupaya membajak kepedulian lokal untuk kemudian mengubahnya menjadi radikalisasi di dalam negeri.

Selama bertahun-tahun, perdebatan publik mengenai urusan global di Indonesia terjebak dalam pilihan yang keliru. Di satu sisi terdapat sikap netral yang acuh tak acuh terhadap penindasan global, dan di sisi lain terdapat adopsi narasi ideologis transnasional secara tidak kritis, yang mendorong delegitimasi terhadap negara-bangsa.

Dikotomi ini keliru, berbahaya, dan sudah usang. Kini, muncul gelombang baru pemikir muda, kreator digital, dan aktivis sipil Indonesia yang merintis jalan ketiga, yaitu solidaritas berdaulat.

solidaritas berdaulat adalah praktik untuk berdiri teguh melawan ketidakadilan global, pelanggaran hak asasi manusia, dan penindasan, sembari tetap berpijak kokoh pada konsensus konstitusional, identitas sejarah, dan kepentingan berdaulat Indonesia. Pendekatan ini menyadari bahwa kepedulian terhadap dunia tidak mengharuskan kita untuk “membakar rumah kita sendiri”.

Secara historis, kerangka kebijakan luar negeri Indonesia selalu berakar pada prinsip “bebas-aktif”, sebuah sikap yang menolak untuk memihak pada blok geopolitik tertentu, tetapi tetap berkomitmen kuat terhadap perdamaian dunia dan semangat anti-kolonialisme. Solidaritas berdaulat menerjemahkan tradisi diplomatik historis ini ke dalam era digital.

Ketika pihak-pihak dengan niat buruk mencoba mengimpor konflik politik dari jauh dan mengemasnya kembali sebagai “perang suci” lokal atau ancaman eksistensial terhadap keyakinan, solidaritas berdaulat berfungsi sebagai perisai intelektual.

Hal tersebut memungkinkan kaum muda untuk mencermati video viral dari zona perang di luar negeri, menganalisis politik yang mendasarinya tanpa terjebak dalam provokasi sektarian, serta menyalurkan dukungan mereka melalui kanal-kanal kemanusiaan yang sah dan transparan, alih-alih mendukung gerakan yang telah teradikalisasi.

Yang terpenting, pendekatan ini mendorong kaum muda dari sekadar konsumen pasif propaganda asing menjadi agen aktif yang terlibat dalam kancah global secara bermartabat. Di berbagai platform digital, para kreator muda menunjukkan bagaimana hal ini diterapkan dalam praktiknya.

Alih-alih memperkuat tagar provokatif yang dirancang untuk memicu perpecahan di dalam negeri, mereka memanfaatkan jangkauan mereka untuk menggalang dana untuk bantuan medis, memproduksi konten edukatif yang menjelaskan akar geopolitik suatu konflik, serta melobi solusi diplomatik melalui hukum internasional.

Pada dasarnya, mereka menyuarakan pembelaan bagi para korban kekerasan di negeri asing tanpa mengadopsi atau terjerembap pada retorika destruktif yang anti terhadap negara-bangsa, seperti yang kerap diusung oleh kelompok ekstremis transnasional.

Lebih jauh lagi, solidaritas yang berlandaskan kedaulatan memberikan napas baru bagi semangat Sumpah Pemuda 1928. Para pendiri Indonesia memahami bahwa persatuan nasional bukanlah penghalang bagi persaudaraan internasional, melainkan justru prasyaratnya.

Indonesia yang kuat, stabil, dan bersatu memiliki daya tawar yang jauh lebih besar untuk memperjuangkan keadilan internasional di panggung dunia, dibandingkan dengan bangsa yang terpecah-belah akibat konflik proksi yang diimpor dari luar.

Dengan menjaga batasan yang tegas antara empati kemanusiaan yang adil dan intervensi ideologi asing, generasi muda Indonesia mampu menjaga kedamaian di dalam negeri sekaligus menunjukkan ketegasan moral di kancah internasional.

Pergeseran perspektif ini sangat krusial bagi masa depan terutama bagi ruang publik digital Indonesia. Ketika kita membiarkan propaganda asing mendikte cara kita merasakan, berpikir, dan bereaksi terhadap peristiwa dunia, kita sebenarnya sedang menyerahkan kedaulatan intelektual kita.

Namun demikian, ketika kita melandaskan empati pada literasi geopolitik yang kritis dan evaluatif, kesadaran nasional, dan hak asasi manusia universal, kita berhasil merebut kembali kendali atas diri kita sendiri.

Tantangan yang dihadapi tatanan internasional sangatlah besar, dan godaan untuk terjerumus ke dalam narasi yang disederhanakan serta penuh muatan emosional akan terus ada. Meski demikian, jalan ke depan sudah jelas. Pemuda Indonesia tidak membutuhkan ideolog asing untuk mengajari mereka cara peduli terhadap keadilan.

Dengan mempraktikkan solidaritas yang penuh empati sekaligus menjunjung tinggi kedaulatan, para pemuda Indonesia membuktikan bahwa sebuah bangsa besar dapat berdiri dalam harmoni yang teguh bersama mereka yang tertindas di seluruh dunia, tanpa harus mengorbankan kedamaian, persatuan, dan integritas tanah airnya sendiri.

0

Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.