



Sebelumnya: Inisiatif Perdamaian oleh… (1)
Narasi Damai
Pertemuan ini hanya akan tinggal jadi kenangan kalau kita tidak mengambil pembelajaran darinya. Di sini perkenankan saya mengangkat tiga pembelajaran dari pertemuan bersejarah itu: Agama yang Cinta Damai; Pentingnya Narasi Damai; Dunia ini punya masa depan.
Pertama, kita bisa membincang tentang agama yang cinta damai sebagai bahasa yang sama. Ada begitu banyak isu dan narasi yang membincang agama dalam kerangka perpecahan dan permusuhan. Ketersinggungan di sini atau di sana bisa membawa orang kepada permusuhan dalam berbagai bentuknya. Kekristenan dan Islam sebagai agama yang mendominasi dunia ini dalam sejarah sudah menuliskan banyak cerita cinta dan kebaikan, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan luka dan air mata.
Pertemuan pemimpin kedua agama menjadi simbol niat bersama untuk membangunkan kembali kesadaran bahwa agama-agama ini mengundang kita untuk berbagi mimpi bersama yaitu dunia yang penuh dengan kedamaian dan cinta. Orang lain mungkin menyebutnya sebagai utopi, tetapi pemimpin-pemimpin Katolik dan Islam ini menyatakan bahwa yang utopi itu adalah fitrah dari agama-agama yang bisa menyelamatkan dunia ini.
Kedua, kita perlu membincang narasi damai. Agama-agama yang semakin dikenang dengan berbagai tindak kekerasan itu harus kembali menyatakan citranya sebagai pembawa damai. Umat beragama harus bergandengan tangan untuk bersama-sama menyatakan bahwa dirinya adalah obat bagi penyakit yang dialami oleh dunia kita. Agama-agama tidak berseteru satu sama lain, melainkan bersama-sama melawan ketidakadilan, kekerasan dan berbagai kejahatan juga yang mengatasnamakan agama.
Agama tak lagi mau disamaratakan dengan berbagai bentuk kekerasan yang disematkan bersanding dengan misi damai yang dibawanya. Islam dengan misi sebagai Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi alam semesta) dan Kekristenan dengan mimpinya sebagai Injil (Kabar sukacita bagi dunia) tentu tak senada dengan berbagai bentuk kekerasan itu. Sembari koreksi diri, perjumpaan-perjumpaan antar pemimpin agama ini juga waspada terhadap berbagai pihak yang menggunakan kekerasan atas nama agam demi kepentingan-kepentingan tertentu.
Ketiga, dunia kita masih punya masa depan. Mengingat semakin masifnya inisiatif damai yang muncul di berbagai kalangan, kita melihat bahwa dunia kita masih punya masa depan. Pertemuan antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Ahmed Al-Tayeb telah melahirkan berbagai inisiatif positif untuk perdamaian di berbagai tempat.
Pertemuan dengan Ali Al-Sistani pun kiranya akan melahirkan berbagai inisiatif perdamaian yang bergulir laksana bola salju. Memang lebih sulit menggulirkan perdamaian dibanding menggulirkan permusuhan, tetapi kita yakin dunia ini masih punya masa depan. Pertemuan-pertemuan antara orang-orang yang punya inisiatif perdamaian semoga bisa membangunkan berbagai pihak yang masih yakin bahwa jalan perdamaian adalah jalan untuk dunia masa depan.
Inisiatif Damai
Di Indonesia, saya berharap inisiatif perdamaian yang terjadi di Irak sana juga bisa menggema secara luas. Harapan Gus Yaqut Cholil Quomas, sebagaimana yang ia sampaikan dalam pidatonya saat pertama kali diperkenalkan sebagai mentri agama rasa-rasanya menjadi guliran yang perlu terus didukung. Saat itu, ia mengatakan:
“Yang pertama-tama ingin saya lakukan adalah bagaimana menjadikan agama itu sebagai inspirasi bukan aspirasi. Artinya apa bahwa agama sebisa mungkin tidak lagi digunakan sebagai alat politik baik untuk menentang pemerintah atau untuk merebut kekuasaan atau mungkin untuk tujuan-tujuan yang lain. Agama bisa menjadi inspirasi dan biarkan agama itu membawa nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kedamaian dalam hidup berbangsa dan bernegara.”
Akhirnya, saya meyakini dan sangat berharap akan lahirnya kesadaran bersama di antara kita semua bahwa agama adalah sumber inspirasi yang telah membangkitkan inisiatif perdamaian–sebagaimana yang telah terjadi di luar sana–yang juga mampu membangkitkan inisiatif perdamaian di negeri kita. Tentu, semua itu akan terwujud jika kita semua mempunyai keinginan dan berusaha untuk mewujudkannya. Selesai… [AA]
Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma