Pendirian IAIN Bima dan Multikulturalisme Indonesia Timur

MASYARAKAT Bima di Nusa Tenggara Barat adalah salah satu masyarakat Muslim di Nusantara khususnya kawasan timur Indonesia. Identitas keIslaman dibangun oleh episode sejarah yang panjang dari pergulatan budaya-peradaban yang dilibati oleh Kesultanan Bima tempo dulu (abad 16-20). Ini menjadi khazanah yang kemudian diwariskan sebagai legasi bagi generasi setelahnya sampai kini.

Berbagai transformasi sosial-budaya telah dilewati, baik sebelum atau sesudah masa kesultanan. Sampai saat ini, warisan budaya Islam telah membentuk kepribadian komunal yang menandai masyarakat Bima berkarakter relijius dengan identitas keislaman yang kental. Sebagai daerah jangkar dan tapal batas budaya (cultural border) Bima menjadi tempat pertemuan budaya-tradisi dari berbagai khazanah di Indonesia. Ini menjadi wahana yang memicu perubahan demi perubahan secara dinamis.

Perubahan budaya dan identitas terus berlangsung seiring dengan perkembangan sosial, politik, dan ekonomi mengikuti konteks dan semangat zaman. Perkembangan ini membentuk konfigurasi masyarakat Bima kontemporer yang menerima perkembangan dari luar. Budaya baru dikreasikan dan diberi label lalu dibagikan dengan masyarakat lain di sekitarnya, baik dalam spektrum lokal maupun global.

Masyarakat Islam Bima menjadi masyarakat terbuka yang secara sadar menerima dinamika perkembangan zaman dan menjadikannya sebagai masyarakat baru yang bisa beradaptasi dengan masyarakat dinamis lainnya. Gambaran masyarakat baru itu adalah masyarakat dengan peradaban eklektik dengan corak multikultural yang kental.

Sambil mempertahankan identitas lama (Islam), memodifikasi, memaduserasikan dengan elemen luar, dan mempromosikannya, masyarakat Bima dan sekitarnya bergerak dinamis ke arah transisi sosial-budaya yang intens dan progresif.

Situasi dan dinamika sosial seperti ini tidak bisa ditampik mengingat posisi geografis-geopolitis Pulau Sumbawa – khusunya Bima – sebagai kawasan budaya (culture area) bagi pertautan budaya. Pergulatan sosial dan budaya menjadi tantangan keseharian masyarakat yang mendewasakan, sekaligus sebagai arena kontestasi yang menggelisahkan. Maka di berbagai sisi kehidupan masyarakat terdapat transformasi ke arah yang progresif sesuai tuntutan zaman, tetapi juga di sana-sini penuh kemusykilan dan konflik.

Konflik sosial dalam konteks kekinian disemarakkan dengan menguatnya sentimen-sentimen primordial dan identitas politik, juga kehadiran elemen-elemen gerakan keagamaan transnasional yang mengusung ideologi radikal melalui politik identitas yang sangat kental. Akibat intensnya gerakan ini, maka daerah Bima dan sekitarnya dikenal di media dan wacana publik sebagai “zona merah”.

Perkembangan masyarakat seperti ini, mengikuti pengalaman (praktis) masyarakat modern dan teori sosial, perlu panduan yang memproyeksikan masyarakat ke arah perubahan sosial-budaya-ekonomi-politik yang berperadaban. Hadirnya kelas menengah yang menjadi agen perubahan sosial adalah keniscayaan. Mereka ini adalah komponen masyarakat yang memiliki kapasitas dan integritas untuk memecahkan berbagai persoalan yang tumbuh bersama dinamika masyarakat, sekaligus kemampuan untuk menciptakan peluang kemajuan.

Kelahiran kelas menengah sosial ini tidak bisa diserahkan kepada hukum alam, tetapi harus melalui upaya sistematis, terstruktur, dan massif. Mesin rekayasa sosial yang dapat menggerakkan ini adalah sistem pendidikan dengan kualifikasi tinggi, dan itu tidak lain perguruan tinggi modern yang berkualitas dan unggul. Terbukti di berbagai masyarakat berkemajuan, berdirinya perguruan tinggi tidak terlepas dari konteks masyarakat dan daerah di mana dan kapan lembaga itu berdiri. Perguruan tinggi unggul selalu tumbuh di atas kepentingan masyarakat di mana lembaga itu berfungsi sebagai pemberi arah bagi perubahan sosial, dan keberadaannya menjadi petanda (indikator) kemajuan daerah.

Adapun perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) –sebutlah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang akan didirikan, dimandatkan untuk memenuhi kebutuhan dan menjadi bagian dari perkembangan masyarakat Bima dan sekitarnya yang sedang tumbuh dalam dinamika lokal, regional, nasional, dan global. Perlu ditegaskan, bahwa lokus ke-Bima-an diartikan sebagai episentrum gerakan kebudayaan yang mewarnai dinamika regional di kawasan Pulau Sumbawa dan masyarakat kawasan timur Indonesia.

Kehadiran IAIN BIMA yang secara khusus menggerakkan studi keagamaan Islam (Islamic studies) sebagaimana kebutuhan masyarakat Muslim Bima dan masyarakat multikultural di sekitarnya, adalah jawaban atau pengisi berbagai kesenjangan pengetahuan dan penggerak peran sosial yang masih terbatas di kawasan timur Indonesia.

IAIN BIMA akan menjadi bagian penting dalam rekayasa sosial berbasis ilmu pengatahuan dengan semangat nilai Islam yang kental, sehingga masyarakat Bima dan sekitarnya sebagai sebuah entitas sosio-kultural yang sedang tumbuh, bisa menjadi bagian dari warga dunia yang memiliki daya saing dan budaya maju (literate).

Bersama perguruan tinggi keagamaan lain (seperti UIN Mataram, UIN Alaudin Makassar, STAHN Mataram, PTKI lain yang ada di Bima) serta perguruan tinggi umum yang ada, IAIN BIMA bisa hadir dengan cara kerja sistem pengetahuan multidisplin, interdisiplin, dan transdisiplin  dalam mempercepat perubahan sosial di kawasan tonggak budaya (cultural border) ini. Selain itu, IAIN BIMA akan menjadi katalisator yang bekerja secara sinergis dengan komponen dan institusi sosial-ekonomi lainnya untuk memastikan kontribusi sistem pengetahuan dalam pembangunan peradaban di wilayah Bima dan sekitarnya, juga Indonesia, bahkan dunia.

Ini tuntutan, hajat, dan pekerjaan besar. Maka perlu gagasan cerdas dan langkah-langkah besar. Kebutuhan sosial untuk pengembangan wilayah pembangunan sudah memenuhi. Aspirasi elemen masyarakat untuk mewujudkan lembaga pendidikan tinggi Islam sudah lama bersemai, di-speak-up, dan diupayakan. Kerja-kerja akademik sudah dan sedang dilakukan, elemen pemerintah sudah bergerak. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat sudah terkoneksi. Bahkan menteri Agama sudah hadir di Kota Bima untuk memastikan lahan siap bangun yang dihibahkan oleh Pemerintah Kota Bima.

Partisipasi masyarakat lebih luas masih perlu dibangun. Perlu sosialisasi yang intens agar semua elemen terlibat, tau rima. Proses ini harus nihil social resistances, sehingga energi sosial semata dikerahkan untuk ini. Upaya ini – meminjam ucapan Prof Ahmad Thib Raya (ketua forum ilmuan Bima yang menginiasi proses pendirian IAIN Bima) – “tidak boleh gagal lagi.” Sebab masyarakat Muslim Bima sudah lama rindu dan berjuang untuk hadirnya petanda dan penebar Islam rahmatan lil alamin, Islam washatiyah (moderat).

Semua harus belajar dari pengalaman kegagalan yang lalu. Kerja komprhensif harus digalang. Sebisa mungkin hindari cara kerja sektarian dan ekslusif yang memaksa satu pihak banting tulang sendirian (single fighter) sementara yang lain berpangku tangan, apatah lagi jadi oponen. Karena hal itu hanya akan membuat “keberpihakan” berpaling.

Kita berdoa, “kemesraan ini” (antara masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah pusat, kelompok kerja) “janganlah cepat berlalu.”. Pndemi Corona-lah yang kita doakan cepat berlalu, agar anggaran bisa kembali menyebar ke sektor yang lain. Agar kampus kualifikasi tinggi dengan visi “Perguruan Islam Terkemuka yang Terkemuka Memadukan Iman, Ilmu, dan Amal dalam Pengajaran, Penelitian, dan Pengembangan Masyarakat di Kawasan Timur Indonesia ” bisa segera terwujud.

0

Pengkaji Agama dan Budaya di UIN Mataram dan Alamtara Institute; Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana Bali

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.