Konflik Berdarah Palestina-Israel: Pandangan Prof Rashid Khalidi dan Sikap Kita (3)

Sebelumnya: Konflik Berdarah Palestina-Israel… (2)

Beberapa tahun lalu, Israel meninggalkan Gaza setelah daerah pesisir itu hancur akibat ofensif 22 hari. Mereka menyelesaikan penarikan pasukan dari wilayah yang dikuasai Hamas itu pekan lalu.

Jumlah korban tewas Palestina mencapai sedikitnya 1.300, termasuk lebih dari 400 anak, dan 5.300 orang cedera di Gaza sejak Israel meluncurkan ofensif terhadap Hamas pada 27 Desember. Di pihak Israel, hanya tiga warga sipil dan 10 prajurit tewas dalam pertempuran dan serangan roket. Selama perang 22 hari itu, sekolah, rumah sakit, bangunan PBB dan ribuan rumah rusak parah terkena gempuran Israel, dan Pemerintah Palestina menyatakan bahwa jumlah kerugian prasarana saja mencapai 476 juta dolar.

Penghentian serangan Israel dilakukan setelah negara Yahudi tersebut memperoleh janji dari Washington dan Kairo untuk membantu mencegah penyelundupan senjata ke Gaza, hal utama yang dituntut Israel bagi penghentian perang.

Kekerasan Israel-Hamas meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember tahun lalu. Namun peta kekuatan antara Hamas dan Israel sangatlah timpang. Bagai bumi dan langit, ketimpangan itu.

Israel Defence Forces (IDF- angkatan bersenjata Israel) setidaknya berkekuatan 176 ribu infantri bersenjata lengkap. IDF juga mendapat dukungan serangan udara dari 286 helikopter serbu, dan 875 jet tempur berkecepatan supersonik. Juga, 2800 tank dan 1.800 senjata artileri (meriam, rudal, peluncur roket) yang semuanya on load (siap digunakan).

Sebaliknya, Hamas hanya berkekuatan maksimal 20.000 pejuang. Tanpa pesawat tempur, jet, atau helikopter patroli satu pun. Mereka hanya memakai roket Al Banna dan Al Yaasin, modifikasi rudal PG-2 Rusia yang mampu menghancurkan tank Merkava dalam radius 500 meter. Roket lainnya, yang juga hasil modifikasi, maksimal hanya bisa meluncur 55 kilometer. Itu hanya cukup sampai Kota Sderoth, yang bukan jantung komando Israel.

Untuk pertahanan anti serangan udara, Hamas mengandalkan rudal Rayyan, modifikasi dari rudal SA-7 Rusia yang dulu digunakan Hizbullah (Lebanon) untuk merontokkan helikopter dan UAV Israel.

Tapi, Hamas memang tak pernah percaya statistik. Apalagi cuma di atas kertas. Buktinya, sejak didirikan Syekh Ahmad Yasin pada 14 Desember 1987,  Hamas terus membesar. Untuk  melawan Israel, Hamas membentuk sayap militer Brigade Izzudin Al Qassam.

Anggotanya harus melalui seleksi superketat. Mereka diambil dari pemuda-pemuda yang lulus ujian akhlak dan keimanan.

Para recruiter Al Qassam, misalnya, akan mencari calon pejuang dari jamaah salat Subuh di masjid-masjid Gaza dan seluruh kawasan tepi Barat. Pemuda yang tak pernah ketinggalan salat Subuh berjamaah adalah bibit terbaik prajurit Hamas. Jadi, pemuda Palestina yang suka merokok, suka berbual kosong dan apalagi minuman keras, jangan harap dapat diterima sebagai personel Al Qassam.

Prajurit ikhlas dan bebas maksiat memang jadi modal utama. Sebab,  Hamas yakin kemenangan tidak semata-mata dengan kekuatan senjata, tapi juga faktor “langit”. Mereka percaya dengan perlindungan malaikat yang sudah tahu siapa yang bakal unggul. Seperti saat 300 prajurit Nabi Muhammad sukses  melawan 1300 musuh dalam Perang Badar (2 Hijriah).

Sikap itu merupakan buah gemblengan dan didikan gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan Hasan Al Banna di Mesir pada 1948. Syeikh Ahmad Yasin adalah kader IM sejak dipenjara karena ceramahnya pada 1965. Di penjara, putra Palestina asli kelahiran Desa Jaurah, 20 kilometer utara Gaza 1936 itu, bergabung dengan cabang IM Palestina yang berdiri pada 1935. Syeikh Yasin syahid diserang rudal Israel pada subuh, 22 Maret 2004.

Pola latihan Al Qasaam juga merupakan pengembangan dari Nizham Khash (Biro Khusus) IM yang dibentuk di Kairo, Mesir, 1940. Pada perang Arab-Israel pertama 1948, Nizham mengirim 3.000 prajuritnya melawan Israel. Nizham juga berperan dalam perang Terusan Suez  melawan Inggris, 1951. Dalam aktivitas keseharian, Nizham memakai sistem sel tertutup. Satu anggota tak mengenal anggota lain, kecuali dalam satu usroh (grup) yang terdiri atas tujuh sampai 10 orang.

Menurut Utsman Abdul Mu’iz Ruslan ( At Tarbiyah As Siyasiyah ‘Inda Jamaah Al Ikhwan Al Muslimin, 2000), latihan Nizham dijabarkan dengan detail. Di antaranya, mereka mempelajari bela diri, senjata api, perang gerilya, bom dan bahan peledak, topografi, menyelam, serta infiltrasi (penyusupan) ketenteraan.

Mereka juga ahli ilmu sandi, terlatih memublikasikan selebaran (propaganda) dan punya data semua institusi Yahudi di Mesir dan Timur Tengah. Selain itu, anggota Nizham mempelajari tafsir Alquran, menghafal 40 hadits Imam Nawawi, berpuasa sunah, dan disiplin membaca Al-Quran minimal 1 juz per hari.

Sistem Nizham ditiru Al Qassam. Bekal mental penting karena tiap hari mereka diburu pasukan khusus Israel, Sayerat Matkal. Tapi, kematian memang jadi slogan impian tiap anggota Hamas (as syahid asma’ amanina).

Selain operasi militer,  Hamas berhadapan dengan agen perisik terhebat di dunia HaMossad leModi’in uleTafkidim Meyuhadim (Mossad). Guru MI5 Inggris dan CIA itu sangat mahir menyamar. Seorang agen Mossad boleh tampil dngan berbagai rupa bersurban dan berjenggot laksana Syeikh, tapi berceramah tentang hidup damai bersama Israel.

Agen Mossad juga dapat tampil sepertinya Bernard Madoff, konglomerat perayu kelas kakap yang berjaya menciptakan krisis kewangan finansial dunia. Senyum manis ditambah taburan dolar sehingga membuat ahli politik, parlemen dan berbagai fraksi politik lain di Palestina berpecah belah teradu domba.

Untuk  melawan agen Israel, Mossad,  Hamas mengandalkan dukungan total dari rakyat Palestina.  Hamas memang tinggal bersama mereka. Hamas membantu rakyat saat krisis kelaparan, menjadi guru madrasah anak-anak mereka, dan membangun terowongan jalur penyelundupan bawah tanah Rafah (Mesir)-Gaza agar bayi-bayi Palestina punya susu untuk diminum. Hamas juga santun kepada 3.000 warga Kristiani di Gaza. Tak heran, dalam pemilu pada 25 Januari 2006, Hamas memungut suara terbanyak.

Hamas juga punya jaringan gerakan di luar negeri yang solid. Ulama Hamas Dr Nawwaf Takruri, pensyarah Universiti An-Najah Nablus. Beliau mengatakan Dalam perang kali ini, mereka juga dibantu faksi jihad lain di Gaza.

Karena itu, banyak pengamat militer menilai agresi ini bakal sambung menyambung sepanjang 2021. Sebab, kader-kader Hamas dan Jihad Islami di Palestina dan seluruh dunia sudah berjanji tak akan mengibarkan bendera putih. Mereka yang hanya punya batu akan terus melemparkan batu dan pakai ketapel, mereka juga akan gunakan roket, dan roket-roket  akan terus diluncurkan Hamas dan Jihad Islami, dan senjata-senjata selundupan sudah terkokang lagi.

Bagi Hamas dan Jihad Islami, pilihannya hidup atau mati, ketimbang dicap/distigmatisasi AS/Barat sebagai organisasi teroris dari Palestina, sebuah vonis keji yang sarat purbasangka dan sarat ketidakwarasan elite Amerika dan sekutu Baratnya. Padahal, bukankah Israel itu sendiri jelas pelaku terorisme negara?

Sekali lagi, dunia sudah berubah dan  dalam konflik Palestina-Israel 2021 ini, pertanyaan klise kita adalah: Quo vadis AS dan Eropa? Mau terus dukung Israel? Sungguh, kalau tetap demikian itu posisi AS/Eropa, maka di hadapan adalah jalan tiada ujung, bahkan mungkin hanya jalan petaka. Wallahualambisawab. (mmsm)

Tepi Barat 1990-an- Paramadina 2021

1

Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.