



Saat kaki melangkah di tanah Lamongan, ada satu pengalaman kuliner yang tak boleh dilewatkan—menikmati sepiring Nasi Boran dengan ragam lauk yang disebut “sepuluh jari.” Hidangan sederhana ini bukan sekadar pengganjal perut, tetapi juga pembawa pesan filosofis yang telah diwariskan turun-temurun. Setiap suapan Nasi Boran menawarkan lebih dari sekadar kelezatan; ia menyampaikan kearifan hidup yang telah lama dijaga oleh masyarakat pesisir utara Jawa ini.
Di tengah hiruk pikuk Pasar Lamongan, saya bertemu dengan Bu Marni, seorang penjual Nasi Boran yang telah 40 tahun menekuni profesi ini. Dengan tenggok bambu yang sudah menghitam dimakan usia, ia dengan telaten menyusun nasi dan aneka lauk di atas daun pisang. “Nasi Boran itu harus punya minimal lima macam lauk, tapi yang sempurna itu sepuluh macam,” jelasnya sambil tersenyum. “Makanya disebut ‘sepuluh jari’, seperti jari tangan kita yang lengkap.”
Filosofi “sepuluh jari” dalam Nasi Boran menyiratkan kelengkapan dan keseimbangan hidup. Setiap jenis lauk mewakili satu aspek kehidupan yang perlu diperhatikan. Ikan bandeng yang selalu hadir mewakili rezeki yang terus mengalir seperti air. Teksturnya yang lembut dengan tulang yang bisa dimakan mengajarkan bahwa tantangan hidup, jika dihadapi dengan sikap yang tepat, bisa menjadi kekuatan bukan kelemahan. Telur dadar yang diiris tipis melambangkan kesederhanaan yang bisa memberikan kecukupan jika dikelola dengan bijak.
Tempe dan tahu goreng yang hampir selalu hadir dalam komposisi Nasi Boran mengajarkan tentang transformasi—bagaimana sesuatu yang sederhana bisa menjadi bernilai melalui proses pengolahan yang tepat. Kedelai yang diolah menjadi tempe dan tahu adalah bentuk kebijaksanaan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. “Orang Lamongan itu harus seperti kedelai,” ujar Pak Wahid, seorang tetua di kampung Boran. “Bisa menyesuaikan diri dan tetap memberikan manfaat di manapun berada.”
Sambal terasi pedas yang menjadi pengikat cita rasa Nasi Boran mengandung filosofi bahwa kehidupan perlu dibumbui dengan semangat dan gairah. Pedasnya sambal mewakili tantangan hidup yang jika dihadapi dengan tepat akan menghasilkan kenikmatan, bukan penderitaan. Sayur bobor bayam yang segar melambangkan pentingnya menjaga keseimbangan dan kesegaran dalam hidup, seperti warna hijau yang memberi kesejukan di tengah panasnya kehidupan.
“Dulu, nenek moyang kita makan pakai tangan—sepuluh jari,” lanjut Bu Marni. “Itulah kenapa lauk Nasi Boran disebut ‘sepuluh jari’, karena idealnya kita makan dengan semua jari, merasakan tekstur setiap lauk, menghargai setiap proses pembuatannya.” Tradisi makan dengan tangan ini mengandung filosofi mendalam tentang koneksi langsung dengan makanan dan rasa syukur kepada alam dan Sang Pencipta yang telah menyediakan rezeki.
Perkedel jagung yang gurih dalam hidangan Nasi Boran mengajarkan tentang kreativitas dalam mengolah bahan sederhana menjadi sesuatu yang bernilai lebih. Urap sayuran dengan kelapa parut melambangkan keharmonisan hubungan sosial—berbagai jenis sayuran yang berbeda disatukan oleh kelapa parut, seperti masyarakat Lamongan yang beragam namun dipersatukan oleh identitas budaya yang sama. Kerupuk puli yang renyah mengingatkan bahwa hidup perlu diselingi momen-momen yang menyenangkan di tengah rutinitas.
Dr. Sutrisno, pakar antropologi kuliner dari Universitas Negeri Surabaya, dalam penelitiannya tentang filosofi kuliner tradisional Jawa menyebutkan bahwa Nasi Boran merupakan bentuk kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan hidup. “Dalam satu piring Nasi Boran terdapat unsur karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, dan bumbu-bumbu. Ini mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam hidup—tidak boleh berlebihan dalam satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya,” jelasnya.
Yang menarik, tradisi “sepuluh jari” dalam Nasi Boran juga mengajarkan filosofi berbagi. Di masa lalu, satu porsi Nasi Boran bisa dinikmati bersama-sama, dengan setiap orang mengambil lauk sesuai kebutuhannya. Ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang menjadi inti kehidupan masyarakat Lamongan. “Nasi boleh habis,” kata Bu Marni, “tapi kebersamaan dan filosofinya yang harus tetap ada.”
Di era modern, filosofi “sepuluh jari” dalam Nasi Boran menjadi semakin relevan. Di tengah gaya hidup yang serba cepat dan individualistis, hidangan ini mengingatkan kita untuk menjaga keseimbangan, menghargai proses, dan tidak melupakan akar budaya. Beberapa restoran modern di Lamongan kini mencoba menginterpretasikan kembali konsep “sepuluh jari” ini dengan penyajian yang lebih kontemporer, namun tetap mempertahankan esensi filosofisnya.
Menikmati sepiring Nasi Boran dengan lauk “sepuluh jari” bukan sekadar pengalaman kuliner, tetapi juga perjalanan filosofis yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Dalam kesederhanaan hidangan ini tersimpan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu—sebuah bukti bahwa kadang, pelajaran hidup terbaik bisa ditemukan dalam sepiring makanan tradisional yang disajikan dengan penuh cinta dan filosofi.
Referensi:
Sutrisno, A. (2020). Filosofi Kuliner Tradisional Jawa: Studi Antropologi Makanan di Pesisir Utara. Jurnal Kajian Budaya Indonesia, 12(3), 145-159.
Widyawati, R. (2019). Nasi Boran: Identitas Kuliner dan Nilai Filosofis Masyarakat Lamongan. Surabaya: Penerbit Revka Prima Media.
Nugroho, J. (2022). Kuliner Tradisional sebagai Medium Pewarisan Nilai-nilai Kearifan Lokal. Jurnal Gastronomi Nusantara, 5(1), 78-92.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lamongan. (2021). Inventarisasi Warisan Kuliner Tradisional Kabupaten Lamongan. Lamongan: Pemkab Lamongan.
Alumnus Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2016); Pendidik di MI Miftahul Ulum Lamongan; Mahasiswi S2 PAI UIN Sunan Ampel Surabaya; Anggota Komunitas Pondok Menulis.