Belajar Tenang Tanpa Membandingkan Diri

Ketenangan hati tumbuh ketika seseorang berhenti membandingkan hidupnya dengan orang lain dan kembali pada nilai syukur.

Perbandingan diam-diam  telah menjadi salah satu kebiasaan yang menentukan kehidupan modern. Media sosial terus bergulir tanpa henti dengan kesuksesan yang telah dikurasi, rutinitas yang dipoles, dan pencapaian yang mengundang pengukuran terus-menerus.

 Tanpa disadari, banyak orang mulai menilai nilai diri mereka sendiri melalui kehidupan orang lain. Dalam iklim semacam ini, perjuangan bukan lagi sekadar tentang ambisi atau peningkatan diri, tetapi tentang iri hati, satu emosi yang disikapi oleh Islam dengan kejelasan moral yang mencolok.

Dalam etika Islam, iri hati dikenal sebagai hasad dan dianggap sebagai perasaan yang berbahaya dan keadaan hati yang merusak. Tidak seperti kekaguman, yang dapat menginspirasi usaha seseorang, hasad melibatkan kebencian terhadap berkah orang lain dan, yang lebih berbahaya, keinginan agar berkah itu hilang.

Para sarjanawan klasik menggambarkan hasad sebagai penyakit spiritual karena merusak orang yang memendamnya jauh sebelum memengaruhi orang lain. Orang yang iri hati menjadi terjebak dalam logika perbandingan, tidak mampu dan mau melihat jalan mereka sendiri tanpa menyaringnya melalui keberuntungan orang lain.

Yang membuat hasad sangat relevan saat ini adalah betapa mudahnya hal itu dinormalisasi. Budaya kontemporer sering kali malah membingkai perbandingan sebagai motivasi. Kita diberitahu bahwa melihat orang lain berhasil seharusnya mendorong kita untuk berkembang, bekerja lebih keras, dan mengoptimalkan diri.

Namun demikian, Islam membedakan dengan cermat antara aspirasi yang sehat dan perbandingan yang destruktif. Pertumbuhan dalam Islam bukanlah bersifat kompetitif, melainkan bersifat relasional dan etis, berlandaskan rasa syukur, niat, dan kepercayaan pada kebijaksanaan ilahi, bukan persaingan.

Pandangan dunia Al-Qur’an menggoyang asumsi bahwa semua kehidupan berjalan sesuai dengan metrik yang sama. Perbedaan manusia dalam bakat, kesempatan, dan waktu bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari tatanan moral yang disengaja.

Ketika keberhasilan orang lain menimbulkan kepahitan, masalahnya bukanlah pencapaian mereka, tetapi keyakinan diam-diam bahwa hidup berutang simetri kepada kita. Hasad membisikkan bahwa keadilan berarti kesamaan, melupakan bahwa keadilan dalam Islam bukanlah keseragaman tetapi proporsi.

Pandangan ini membentuk kembali bagaimana pertumbuhan itu sendiri dipahami. Dalam wacana pengembangan diri modern, pertumbuhan sering dibayangkan sebagai kemajuan yang terlihat seperti jabatan yang lebih tinggi, hasil yang lebih jelas, atau pengakuan publik. Namun, tradisi Islam memperlakukan pertumbuhan sebagai kalibrasi ulang batin.

Seseorang mungkin mengalami kemajuan spiritual sementara tampak stagnan secara lahiriah. Orang lain mungkin dipuja secara sosial sementara mengalami kemerosotan etika dan budi pekerti. Oleh karena itu, perbandingan menjadi tidak hanya sia-sia tetapi juga menyesatkan. Perbandingan hanya mengevaluasi permukaan tanpa memperhatikan kedalaman.

Islam tidak menyangkal realitas emosional iri hati. Merasa sedikit cemburu bukanlah kegagalan moral itu sendiri. Yang penting adalah bagaimana seseorang meresponsnya. Islam menekankan transformasi iri hati menjadi pertanggungjawaban diri daripada kebencian lahiriah.

Alih-alih bertanya, “Mengapa mereka memiliki apa yang tidak saya miliki?” pertanyaan etisnya menjadi, “Tanggung jawab apa yang dibebankan dalam situasi ini kepada saya?” Pertumbuhan dimulai ketika perhatian beralih dari pengawasan terhadap orang lain ke pengembangan lanskap moral diri sendiri.

Rasa syukur memainkan peran sentral dalam transformasi ini. Dalam etika Islam, rasa syukur bukanlah kepuasan pasif tetapi pengakuan aktif. Ia menambatkan diri dari perbandingan tanpa akhir dengan mengingatkan bahwa setiap kehidupan membawa karunia dan batasan.

Rasa syukur tidak menyangkal keinginan, tetapi mencegah keinginan menjadi permusuhan. Ia mengajarkan bahwa berkah orang lain bukanlah pencurian dari bagian kita sendiri.

Obsesi terhadap perbandingan juga mengungkapkan kecemasan yang lebih dalam tentang harga diri. Ketika nilai diukur secara eksternal, diri menjadi rapuh, terus-menerus terancam oleh kesuksesan orang lain. Islam melawan rasa tidak aman ini dengan mendasarkan martabat pada ketakwaan daripada kepemilikan.

Nilai manusia tidak berasal dari mengungguli orang lain, tetapi dari perilaku etis, ketulusan, dan ketekunan. Pergeseran ini halus tetapi radikal. Ini mengalihkan pertumbuhan dari persaingan menuju koherensi, yaitu menjadi lebih selaras dengan nilai-nilai mulia seseorang daripada membandingkan kepemilikan.

Oleh karena itu, menghentikan perbandingan bukanlah tentang menurunkan ambisi atau menolak keunggulan. Ini tentang mengarahkan ambisi ke dalam dan ke atas daripada ke samping. Islam tidak meminta orang beriman untuk meninggalkan pertumbuhan, tetapi untuk memurnikan niat dan motifnya. Pertumbuhan yang didorong oleh rasa iri pada akhirnya akan habis. Pertumbuhan yang berakar pada niat akan terus bertahan.

Di dunia yang terus-menerus mengajak kita untuk mengukur hidup kita berdasarkan citra yang telah dikurasi, etika Islam menawarkan jalan yang lebih tenang. Ia meminta kita untuk menghadapi rasa iri bukan dengan penyangkalan tetapi dengan disiplin, untuk mengenali hasad sebagai sinyal bahwa hati tidak selaras.

Pertumbuhan yang paling bermakna sering terjadi jauh dari perbandingan, di tempat-tempat di mana tidak ada yang memperhatikan, dan di mana kesuksesan tidak dapat diukur. Mungkin kebebasan sejati dimulai bukan ketika kita melampaui orang lain, tetapi ketika kita akhirnya berhenti melihat ke samping untuk dapat menempuh jalan kita sendiri dengan lebih terfokus.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.