

Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah SWT turunkan sebagai petunjuk hidup bagi manusia, khususnya bagi umat Islam. Meskipun Al-Qur’an diturunkan berabad-abad yang lalu, nilai-nilai pokok yang terkandung di dalamnya tetap relevan dan tidak berubah hingga saat ini.
Di tengah perkembangan zaman yang berlangsung sangat pesat, Al-Qur’an tetap menjadi pedoman hidup umat Islam karena ia senantiasa membimbing manusia menuju jalan yang benar.
Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa ia adalah kitab suci yang berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 185.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ….
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)….”
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya ditujukan bagi umat manusia di masa lalu, tetapi juga bagi manusia di masa sekarang dan masa yang akan datang.
Namun demikian, agar fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk dapat dipahami dengan benar, diperlukan pemahaman yang mendalam melalui ilmu tafsir. Ilmu tafsir berperan penting dalam menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan konteks dan tujuan penurunannya, sehingga terhindar dari kesalahpahaman dalam penafsiran.
Salah satu pesan utama yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah pentingnya akhlak. Nabi Muhammad saw. dijadikan teladan utama dalam berperilaku, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qalam ayat 4 yang menyatakan bahwa beliau memiliki akhlak yang agung.
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 4)
Dalam kehidupan modern saat ini, banyak permasalahan muncul akibat rusaknya akhlak, seperti kebohongan, kekerasan, dan lunturnya sikap saling menghormati. Oleh karena itu, nilai-nilai akhlak yang diajarkan dalam Al-Qur’an sangat dibutuhkan agar manusia dapat hidup secara damai dan saling menghargai.
Selain akhlak, Al-Qur’an juga menekankan pentingnya keadilan. Dalam Surah An-Nisa ayat 135, Allah SWT memerintahkan manusia untuk menegakkan keadilan meskipun hal tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadi, keluarga, maupun golongan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَۚ…
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu.” (Q.S. An-Nisa [4]: 135)
Para ulama menafsirkan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa memandang status sosial, kekayaan, ataupun kekuasaan. Di era modern, ketidakadilan masih sering terjadi dalam berbagai bidang, seperti hukum dan ekonomi. Oleh sebab itu, ajaran Al-Qur’an tentang keadilan sangat relevan dan penting untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Al-Qur’an juga mendorong umat Islam untuk berpikir dan menuntut ilmu. Banyak ayat yang mengajak manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya. Wahyu pertama yang diturunkan, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1-5, memerintahkan manusia untuk membaca dan belajar.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Dalam kajian tafsir dijelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan bagian dari ibadah, selama ilmu tersebut digunakan untuk tujuan yang baik dan membawa kemaslahatan.
Dalam konteks kehidupan modern, manusia juga dihadapkan pada berbagai permasalahan lingkungan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 30.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30.)
Dari ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan bumi, bukan merusaknya. Kerusakan alam yang terjadi saat ini, seperti banjir, tanah longsor, dan pencemaran lingkungan, merupakan akibat dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi.
Agar ajaran Al-Qur’an dapat diterapkan secara tepat, diperlukan pemahaman yang mendalam melalui ilmu tafsir. Tafsir membantu menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan tujuan syariat Islam, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan memahami tujuan-tujuan tersebut, umat Islam dapat mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara seimbang dan bijaksana.
Akhirnya, penulis melihat bahwasannya Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang senantiasa relevan di setiap zaman, termasuk di era modern. Ajarannya tentang akhlak, keadilan, ilmu pengetahuan, serta tanggung jawab terhadap lingkungan sangat sesuai dengan kebutuhan manusia masa kini.
Dengan memahami Al-Qur’an melalui ilmu tafsir dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat menjalani kehidupan yang lebih baik, damai, dan bermakna. [AA]