Alissa Wahid Kenang Teladan Kesetaraan dan Keadilan Gus Dur saat Peringatan Haul ke-15
Alissa berharap perjuangan seorang Gus Dur bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk ikut memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan sesama manusia
Alissa berharap perjuangan seorang Gus Dur bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk ikut memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan sesama manusia

Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam melindungi kemerdekaan beragama dan berkeyakinan bagi warganya. Fenomena berkembangnya peraturan perundang-undangan diskriminatif, baik di tingkat nasional maupun lokal, memperlihatkan adanya kecenderungan mayoritarianisme.

Alissa Qotrunnada Wahid atau Alissa Wahid mengungkapkan empat faktor utama yang menyebabkan tren peningkatan intoleransi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, seperti eksklusifisme, desentralisasi pemerintah, problem penegakan hukum, dan pengabaian.

Di hari keempat Festival Beda Setara, pengunjung disuguhkan pengalaman unik melalui sesi Blind Date yang menawarkan kesempatan kepada dua orang pengunjung untuk bertukar pandangan terutama dalam topik demokrasi, pilkada, dan kebebasan beragama tanpa mengetahui identitas satu sama lain.

Festival Best diharapkan dapat menjadi ruang belajar dan berdialog tentang keberagaman antar umat beragama. Salah satu rangkaian dalam festival ini adalah Pasar Bestari yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang transaksi ekonomi tetapi juga sebagai wadah untuk dialog rasa dan keberagaman antar masyarakat.

Inayah Wahid: "Solidaritas kita, toleransi kita diukur pada apa yang kita lakukan kepada orang di sekitar kita – yang duduk di depan kita, di belakang kita, di samping kita, yang ada di rumah di samping kita, yang kita temui di pasar, di jalan, dalam kehidupan kita sehari-hari"

Pameran Best (Beda Setara) ini menampilkan situasi, faktor, dan resolusi tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan. Pengunjung yang hadir akan mendapatkan gambaran situasi kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, seperti penolakan pembangunan rumah ibadah

Melalui simposium ini kami ingin membuka ruang bagi kita semua yang berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya untuk bertemu dan berdialog. Kami percaya bahwa dialog adalah kunci dari terciptanya kesetaraan dan keadilan bagi semua sebagaimana dicontohkan oleh Gus Dur

Modul Kemenag awalnya hanya untuk remaja usia sekolah yang beragama Islam, kalau modul kerjasama Kemenag dan Lakpesdam PBNU ini untuk semua agama, jadi inklusif

perkawinan anak tidak hanya menghentikan akses pendidikan bagi anak-anak, tetapi juga menjerumuskan mereka ke dalam kemiskinan dan meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga.
