Resensi “Tangan Kotor di Balik Layar” karya Putut EA

ilustrasi Resensi Tangan Kotor di Balik Layar

Judul: Tangan Kotor di Balik Layar
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Shira Media
Tahun Terbit: 2024
Cetakan: Cetakan pertama
Tebal: 180 halaman
ISBN: 978-602-7760-80-6
Kategori: Novel

Kekuasaan sering kali tampil rapi di hadapan publik. Ia hadir melalui pidato, kebijakan, dan jargon-jargon kemajuan. Di layar depan, semuanya tampak tertata dan bermoral. Namun Puthut EA, melalui buku “Tangan Kotor di Balik Layar,” mengajak pembaca masuk ke ruang yang jarang disorot: ruang gelap tempat keputusan dibuat, kepentingan dirajut, dan etika sering kali dikorbankan.

Buku ini tidak dibangun sebagai laporan jurnalistik kaku, juga bukan khotbah moral yang menggurui. Ia lebih menyerupai catatan kegelisahan seorang warga yang terus bertanya tentang siapa sebenarnya yang bekerja di balik sistem yang kita patuhi, dan dengan cara apa kekuasaan mempertahankan dirinya.

Puthut EA menulis dengan gaya yang jujur dan berjarak. Ia tidak sibuk menunjuk hidung individu, tetapi memperlihatkan pola. Bahwa di balik kebijakan yang tampak legal, sering kali ada praktik yang tidak etis. Bahwa di balik prosedur yang sah, kerap tersembunyi transaksi kepentingan. Tangan-tangan itu mungkin tidak terlihat di layar utama, tetapi jejaknya nyata dalam kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif etika Islam, kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah. Ia mengandung tanggung jawab yang berat, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Buku ini, meski tidak menggunakan bahasa teologis secara langsung, sejatinya bergerak dalam spirit yang sama yakni, mempertanyakan bagaimana amanah dikelola, dan siapa yang menanggung akibat ketika amanah itu diselewengkan.

Yang menarik, Puthut EA tidak menggambarkan kekuasaan sebagai sesuatu yang sepenuhnya jahat. Ia justru menunjukkan bahwa masalah sering kali lahir dari kompromi kecil yang dibiarkan terus-menerus.

Dari pembiaran, dari sikap “sekadar menjalankan perintah”, dari keengganan untuk bertanya lebih jauh. Dalam ruang semacam itulah tangan-tangan kotor bekerja, bukan selalu dengan kekerasan, tetapi dengan normalisasi.

Buku ini mengingatkan bahwa kejahatan struktural jarang hadir dalam bentuk dramatis. Ia tumbuh dalam rutinitas, dalam rapat-rapat tertutup, dalam bahasa administratif yang dingin. Ketika nurani digantikan oleh efisiensi, dan etika dikalahkan oleh target, maka kekuasaan kehilangan arah moralnya.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, “Tangan Kotor di Balik Layar” terasa relevan sekaligus menyesakkan. Kita hidup dalam sistem yang menuntut kepatuhan, tetapi sering kali tidak menyediakan ruang bagi keberanian moral.

Orang-orang baik bisa terjebak menjadi bagian dari sistem yang buruk, bukan karena niat jahat, tetapi karena takut kehilangan posisi, penghidupan, atau rasa aman.

Di sinilah buku ini menjadi penting bagi pembaca muslim. Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan personal, tetapi juga tanggung jawab sosial. Amar ma’ruf nahi munkar tidak selalu berarti teriak di jalan, tetapi bisa bermula dari keberanian bersikap jujur, menolak manipulasi, dan tidak ikut membersihkan tangan yang kotor.

Puthut EA juga menyentuh persoalan bahasa kekuasaan. Bagaimana istilah-istilah teknokratis sering digunakan untuk menutupi kenyataan pahit di lapangan. Kata “penyesuaian”, “optimalisasi”, atau “kepentingan strategis” bisa menjadi selimut yang menyamarkan ketidakadilan. Bahasa, dalam konteks ini, bukan lagi alat komunikasi, melainkan alat pembenaran.

Buku ini tidak menawarkan solusi instan. Ia tidak memberikan panduan praktis untuk “membersihkan” sistem. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia memaksa pembaca bercermin: di posisi mana kita berdiri? Apakah kita penonton yang diam, pelaku yang ikut bermain, atau individu yang masih berusaha menjaga batas etika?

Dalam tradisi Islam, diam terhadap ketidakadilan bukanlah sikap netral. Diam adalah pilihan moral. Buku ini, dengan caranya sendiri, mengajak pembaca keluar dari kenyamanan sikap netral tersebut. Bahwa menjadi manusia beriman berarti bersedia gelisah ketika melihat ketidakberesan, meski kita tidak selalu punya kuasa untuk mengubah segalanya.

Di tengah budaya yang memuja stabilitas dan harmoni semu, “Tangan Kotor di Balik Layar” hadir sebagai pengganggu yang perlu. Ia mengusik keyakinan bahwa selama prosedur dipatuhi, maka semuanya sah. Padahal keadilan tidak selalu identik dengan legalitas.

Pada akhirnya, buku ini bukan sekadar tentang mereka yang berkuasa, tetapi juga tentang kita semua yang hidup di dalam sistem. Tentang pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari: ikut arus atau bertanya, menutup mata atau membuka suara. Puthut EA seolah mengingatkan bahwa kekuasaan tidak akan pernah bersih jika masyarakatnya berhenti peduli.

Membaca buku ini berarti bersedia menerima ketidaknyamanan, namun, mungkin, ketidaknyamanan itulah tanda bahwa nurani kita masih bekerja. Selama nurani belum sepenuhnya mati, selalu ada harapan bahwa tangan-tangan kotor itu suatu hari bisa dikenali dan dipertanggung jawabkan. [AA]

11

Pengajar Sastra di Sekolah Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.