Moh. Syaeful Bahar Pengurus PCNU Bondowoso; Wakil Ketua Pembantu Pengurus PP. Nurul Jadid (P4NJ) Pusat.

Menjadi Pemimpin yang Amanah dalam Kondisi Susah

2 min read

“Saya kok tidak masuk daftar nama yang diajukan sebagai penerima bantuan ya Mas; Katanya ada bantuan pemerintah untuk kami warga miskin?”

Begitulah kurang lebihnya sambatan tetangga saya yang keseharianya mengayuh becak untuk menopang kehidupan keluarga kecilnya. Dengan adanya wabah pagebluk Covid-19 ini tak ada lagi orang yang memakai jasanya

Tentu sebagai sesama rakyat biasa, saya tak punya wewenang menjawab dan memberikan jaminan bahwa dia seharusnya berhak mendapatkan bantuan atau tidak. Saya sendiri tak mengerti program bantuan apa yang dimaksud. Tapi, sebagai sebuah tanggung jawab moral, saya terketuk untuk mencari informasi terkait kemungkinan adanya kesempatan bagi tetangga saya ini apakah berpeluang mendapatkan bantuan.

Setelah saya telisik lebih lanjut, ternyata bantuan yang dimaksud oleh tetangga saya ini adalah program pemerintah Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi mereka yang terdampak oleh Covid-19. Sebagaimana sudah mafhum bahwa sebaran virus Corona yang begitu cepat telah menjadi pandemi dunia. Pandemi ini menjadi tanda bahaya (hazard), sehingga memaksa pemerintah mengambil kebijakan seperti menghimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar rumah.

Seruan stay at home dan work from home menjadi kampanye yang tiap hari dilakukan oleh pemerintah dan banyak kalangan lainnya. Bahkan, belakangan ini, di beberapa daerah telah diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Terkait dengan hal itu, mereka yang selama ini bekerja di sektor informal tentu sangat merasakan dampak; termasuk tetangga saya tadi. Mereka adalah potret sempurna dari fenomena kerentanan sosial (social vulnerability) baru. Pandemi ini benar-benar telah mengancam ketahanan masyarakat (community resilience), termasuk ketahanan ekonomi.

Dalam menanggulangi dampak beruntun Covid-19 yang salah satunya terhadap ekonomi masyarakat, secara khusus, pemerintah pusat kemudian mengeluarkan kebijakan bantuan sosial sebagainmana yang telah saya singgung tadi. Hal ini tentu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dan kepedulian negara yang patut diapresisi. Namun, strategi implementasi dari program ini tak kalah penting untuk menjadi perhatian bersama agar program ini tak menjadi jauh panggang dari api.

Baca Juga  Hilangnya "Seni" dalam Integralisme Islam-Sains

Kembali ke cerita tentang tetangga saya tadi. Setelah mendapatkan sedikit informasi tentang program bantuan tersebut, ternyata memang benar, program ini masih mempunyai banyak masalah yang tidak sedikit di lapangan, khususnya terkait data penerima. Mulai dari persoalan yang paling remeh, salah ketik, hingga input data yang tak terkoordinasi dengan baik. Pun demikian dengan persoalan kepentingan kelompok.

Dalam kondisi yang serba mendesak dan membutuhkan penanganan cepat ini, kesalahan sasaran sangat mungkin terjadi. Kesalahan yang benar-benar terjadi karena tak disengaja atau malah kesalahan yang disengaja–kepentingan kelompok.

Pada level ini, sosok pemimpin yang amanah sangat dibutuhkan. Pemimpin tentu tidak melulu merujuk mereka yang memiliki jabatan tertinggi. Namun, lebih pada setiap orang dengan posisi dan amanah yang diemban.

Memang tak mudah untuk menjadi seorang pemimpin. Hal yang demikian sangat disadari oleh Rasulullah, sehingga beliau tak henti-henti mengingatkan amanah dalam kepemimpinan, bahkan tidak jarang disertai dengan ancaman bagi mereka yang lalai.

Namun, bagi pemimpin yang adil dan teguh memegang amanah, tidak sedikit pula hadis nabi yang menerangkan betapa besar balasan nikmat yang akan diberikan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

“Ahli surga itu tiga golongan, yaitu orang yang memiliki kekuasaan yang adil dan disetujui rakyatnya, pria yang lemah lembut hatinya terhadap kerabat dan Muslim, dan orang miskin yang menjaga kehormatan keluarganya” (HR Muslim).

Akhirnya, setiap individu adalah pemimpin bagi dirinya dan posisi yang diemban. Di tengah kondisi yang serba susah seperti ini, saya kira, penyelenggara negara harus benar-benar menjaga amanah dan kepercayaan rakyat dalam menjalankan programnya, termasuk program bantuan sosial.

Memang tidak mudah. Dibutuhkan keikhlasan dan dedikasi tinggi untuk melayani rakyat. Namun, dengan menghidupkan hati, mendengar nurani diri sendiri untuk selalu peduli dan ikhlas melayani rakyat, saya kira, cukup sebagai modal unutk menjadi pemimpin yang amanah. [AA, MZ]

Baca Juga  Masa Depan Sarjana Agama di Tengah Pusaran Arus Teknologi

 

Moh. Syaeful Bahar Pengurus PCNU Bondowoso; Wakil Ketua Pembantu Pengurus PP. Nurul Jadid (P4NJ) Pusat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *