Tafsir Ketaatan Ulil Amri antara Salafisme dan Muhammadiyah
Artikel ini membahas tafsir ketaatan ulil amri antara Salafisme dan Muhammadiyah serta implikasinya bagi etika politik Islam.
Artikel ini membahas tafsir ketaatan ulil amri antara Salafisme dan Muhammadiyah serta implikasinya bagi etika politik Islam.


Secara spesifik tembang 'Gundul-Gundul Pacul' mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada para pemimpin dan calon pemimpin.


Perpolitikan yang sehat tentu saja perlu didukung oleh literasi-literasi yang kuat agar tidak mudah dipecah-belah dan terprovokasi, khususnya melalui isu-isu pembenturan identitas maupun upaya polarisasi dalam masyarakat


Pemimpin yang ideal harus memiliki kapabilitas (kecakapan dalam hal kepemimpinan) dan integritas (teguh pada prinsip dan amanah).


Dalam masyarakat yang heterogen, menurut Ibnu Taimiyah semua elemen masyarakat pada dasarnya memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memimpin atau dipimpin.


Saya mengkritik adanya generalisasi perspektif dengan berkesimpulan kalau perempuan Jawa termarjinalkan atau budaya patriarkinya sangat kentara. Generalisasi ini sangat keliru karena menyamakan adanya perspektif keilmuan gender Barat untuk membaca Timur.


Seorang pemimpin musti memiliki sikap rendah hati, mengayomi masyarakatnya dan adil serta ingat akan jabatanya adalah hanya titipan dari Allah.


Dari Gus Dur, kita tahu bahwa dia yang memuja nafsunya dengan membiarkan mulut para pengikutnya dipenuhi makian kebencian dan dia yang merasa bahwa dirinya layak diberi persembahan nyawa manusia bukanlah seorang pemimpin yang sebenarnya.


“Saya kok tidak masuk daftar nama yang diajukan sebagai penerima bantuan ya Mas; Katanya ada bantuan pemerintah untuk kami warga miskin?” Begitulah kurang lebihnya sambatan tetangga saya yang keseharianya mengayuh becak untuk menopang kehidupan keluarga kecilnya. Dengan adanya wabah pagebluk Covid-19 ini tak ada lagi orang yang memakai jasanya Tentu sebagai sesama rakyat biasa, saya tak […]

