Noval Setiawan Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Ragam Metode Belajar Membaca Alquran

2 min read

Alquran adalah wahyu terbesar dalam risalah kenabian kanjeng Nabi Muhammad. Ia merupakan kalam ilahi yang membacanya saja dihitung sebagai ibadah. Dalam Alquran disebutan bahwa Allah memerintahkan untuk membaca Alquran dengan baik dan benar serta menyempurnakan bacaannya. Perintah ini dapat dilihat pada surah al-Muzammil ayat 4-5:

أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا, إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا

“Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”.

Menurut Ali bin Abi Thalib yang dimaksud dengan “tartila” dalam ayat tersebut adalah sesuai aturan “tajwid”. Yang dimaksud dengan “tajwid” adalah tajwidul-huruf wa ma’rifatul wukuf, yakni membaguskan pengucapan huruf serta mengerti tempat-tempat wakaf (ali, 2002 :17).

Adapun membaca Alquran dengan kaidah ilmu tajwid hukumnya adalah fardhu ain. Artinya, pembaca harus mampu membaca dengan membunyikan setiap hurufnya secara sempurna dan memperindah bacaannya.

Keutamaan yang harus diperhatikan oleh pengajar Alquran dan yang mempelajarinya agar meluruskan maksud dan tujuannya mengajar dan mempelajari Alquran hanya semata untuk mencari rida Allah swt.

Dengan demikian, setiap mukmin mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap kitab suci Alquran diantaranya adalah membaca Alquran dengan baik, benar, dan memperindah bacaan. Disamping itu tak cukup hanya membacanya saja tapi berusaha memahami isinya serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengaji Alquran merupakan langkah awal untuk membentuk kepribadian anak yang saleh dan sholehah. Mengaji Alquran bisa dikatakan sebagai langkah mengenal dan memahami ayat-ayat Tuhan.

Mengenalkan, mengajarkan dan memahamkan anak pada Alquran termasuk tugas orang tua dalam mendidik anaknya. Namun, dewasa ini masih banyak orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan agama, termasuk mengajari Alquran, bagi anaknya. Ini tentu akan mengurangi semangat anak untuk belajar bahkan malas untuk belajar mengaji Alquran. Padahal, pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap motivasi anak.

Baca Juga  Kiai Wahab Hasbullah Dituduh Masyumi sebagai Kiai PKI

Setiap orang tua muslim pastinya berkeinginan memiliki anak saleh, berakhlak mulia, yang dapat mendoakan kedua orang tuanya, birrul walidain. Sedangkan, Islam memberi petunjuk bahwa anak adalah amanah yang dibebankan kepada masing-masing orang tua agar didik dengan sebaik-baiknya.

Menunaikan amanah tersebut tidaklah mudah, kesulitan itu dirasakan oleh hampir semua orang tua seperti salat lima waktu tidak tertib dan belum dapat membaca Alquran secara lancar, dan bahkan lebih dari itu. Mempunyai anak saleh menjadikan cahaya hidup bagi keluarganya, bila kita mampu mengantarkan mereka menjadi anak-anak saleh dan salehah akan mengalirkan pahala yang tiada putus walau kita telah tiada.

Begitu pentingnya kemampuan dasar mengaji mmbaca Alquran dengan hal ini tersirat pada surat keputusan bersama (SKB), Menteri Dalam Negeri dan menteri agama RI .No. 128/44A, secara eksplisit ditegaskan bahwa umat Islam agar selalu berupaya meningkatkan kemampuan membaca Alquran dalam rangka peningkatan dan penghayatan serta pengamalan Alquran dalam kehidupan sehari-hari (Supardi, 2004: 98). Akan tetapi banyak orang Islam yang menganggap remeh tentang suatu sarana penting untuk mengaji Alquran di usia dini.

Dalam meningkatkan kualitas bacaan Alquran tentunya memilih cara/metode yang dilakukan oleh guru harus tepat dengan memperhatikan hakekat anak didik dan bahan ajar yang disampaikan. Pada perkembangannya, metode pembelajaran Alquran saat ini begitu variatif, diantaranya adalah sebagai berikut;

Pertama, metode pembelajaran baca-tulis bernama al-Bargy yang berarti “kilat” dengan metode semi SAS (Struktural Analitik Sintatik) yang menggunakan struktur kata atau tidak mengikuti bunyi mati atau sukun (Muhajir Sultan: 7). Kedua, metode Iqro terdiri dari 6 Jilid yang menekankan pada bacaan dengan fasih dan benar sesuai dengan makhrajnya dan bacaannya.

Baca Juga  Normal Baru, Era Transisi Menuju Normal Lama

Ketiga, metode Qiro’ati metode yang digunakan untuk baca Alquran yang langsung memasukan dan mempraktekan bacaan dengan cara tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Keempat, metode Tartil, merupakan suatu metode baca Alquran dengan cara menyesuaikan pengucapan setiap huruf Alquran sesuai dengan makhrajnya agar makna yang terkandung didalamnya tidak berubah.

Dan kelima, metode Yanbu’a adalah suatu metode untuk mempelajari baca dan menulis serta menghafal Alquran dengan cepat, mudah dan benar bagi anak maupun orang dewasa dengan menggunakan tanda-tanda waqaf.
Metode-metode tersebut salah satu cara untuk anak usia dini bisa mengaji membaca Alquran.

Proses pembelajaran Alquran pada anak usia dini seharusnya menjadi perhatian bagi orang tua agar dalam mengaji tidak sekadar membaca saja, tetapi mengaji dengan baik dan benar serta menyempurnakan bacaannya. [AA]

Noval Setiawan Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga