Berlebihan Itu Tidak Baik, Termasuk dalam Beragama

2 min read

Makan terlalu berlebihan, tidak baik untuk Kesehatan tubuh
Belanja terlalu berlebihan, tidak baik untuk Kesehatan finansial
Berbicara terlalu berlebihan, tidak baik untuk Kesehatan sosial
Dan beragama terlalu berlebihan, tidak baik untuk Kesehatan umat manusia

Barangkali sampai sini pembaca masih belum paham bagaimana beragama terlalu berlebihan, dan mengapa itu tidak baik bagi Kesehatan umat manusia. Namun ada sebuah buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca, yakni Perempuan dan Ekstremisme Kekerasan dalam Perspektif Islam. Buku ini tidak memiliki halaman yang tebal seperti kamus atau ensiklopedia, namun cukup renyah dan ringan untuk dinikmati bersama secangkir kopi.

“Wahai ahlul kitab, janganlah berlebih-lebihan dalam agamamu. Janganlah katakan hal yang tidak benar atas nama Allah. Almasih Isa putra Maryam itu hanyalah Rasulullah dan firman-Nya yang diletakkan dalam jiwa Maryam, dan Ruh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulnya. Jangan katakan Tuhan tiga. Berhentilah mengatakan itu. Itu lebih baik bagimu. Allah adalah Tuhan yang Esa, maha suci bagi-Nya untuk memiliki anak. Bagi-Nya apa yang di langit dan di bumi. Cukuplah Allah sebagai wakil.”

Terjemah ayat surat an-Nisa ayat 171 tersebut merupakan salah satu dalil yang disebutkan dalam buku, menjelaskan tentang kaum Nasrani yang menyatakan bahwa Isa adalah anak laki-laki dari Allah. Ini merupakan sebuah perbuatan berlebihan dan keluar dari batas kebenaran. Selain itu juga ada beberapa dalil Alquran dan beberapa kisah Rasulullah yang “harusnya” bisa menjadi pandangan akan tidak baiknya berlebihan terhadap beragama dan ritual yang dilakukannya.

Lantas mual karena agama tidak akan buruk terhadap diri sendiri semata, namun hal ini juga dirasakan pada umat beragama yang berbeda. Perlakuan yang berlebihan dalam keyakinan sangat berpotensi besar menyebarkan penyakit perpecahan dan peperangan antar kaum. Ia bisa menjadi sebuah pedang yang tajam dan siap menerkam dan membunuh perbedaan yang ada. Dan iapun juga bisa menjadi bibit-bibit kesinisan, kerasisan, dan kebencian terhadap hati seseorang ketika melihat ataupun berhubungan dengan orang yang tidak sekeyakinan dengannya. Tentu ini tidak dibenarkan, apalagi di negara Indonesia yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Baca Juga  Nilai Toleransi Beragama Di Balik Sejarah Masjid Baitul Muttaqin Kutorejo

Berdasarkan hal ini, Rasulullah menyarankan untuk selalu mengambil jalan tengah dalam apapun. Dalam hal makan misalnya, kita selalu diperintah untuk makan sampai cukup, bukan sampai kenyang, apalagi sampai kekenyangan. Karena jika sampai makanan yang telah ditelan, dimuntahkan karena berlebihan, maka hukumnya pun jadi haram karena perlakuan keterlaluannya. Jika perihal makan ini disambungkan dalam masalah agama, barangkali bisa mengambil kisah seorang sahabat, yakni Abdullah ibn Amr.

Abdullah ibn Amr adalah seorang sahabat yang tiap siang selalu berpuasa tanpa jeda dan tiap malam selalu shalat malam tanpa tidur. Walaupun beribadah bukanlah suatu kesalahan, namun Abdullah ibn Amr terlalu berlebihan dalam melaksanakan ritual agama tanpa memerhatikan kesehatannya sendiri. Rasulullah pun telah menasehati dan memberikan keringanan padanya, namun ia tetap teguh pendirian. Hingga pada usia senjanya, ia menghadapi dirinya dengan penyesalan karena tulangnya yang lemah.

Berlebihan dalam agama tidak hanya menyangkut pada keyakinan dan ritual keagamaan saja, namun juga pandangan terhadap agama itu sendiri. Seperti halnya percaya bahwa diri sendiri lebih benar ketimbang yang lain, agama yang diyakini memiliki kebenaran mutlak dan keyakinan lain merupakan kesesatan yang harus dibasmi.

Tentu ini tidak bisa dianggap remeh, karena sikap ekstremisme pun lahir dari keremehan masyarakat terhadap doktrin pikiran yang tanpa sadar terlalu menekan dan rasis. Sehingga dalam buku yang telah saya sebutkan, juga turut menyebutkan apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah lahirnya sikap ekstremisme tanpa disangka-sangka. Seperti halnya dengan menyatukan antara hukum Islam, akhlak tasawuf, dan akidah; menyatukan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan; serta menyatukan nilai-nilai universal dan hukum-hukum partikular.