Ibadah Bukan Urusan Publik

Artis ini pernah pindah agama
Artis itu jarang ibadah
Artis berikut memilih tidak beragama
Ah!

Barangkali pembaca sering membaca judul konten di atas, entah di TikTok, Instagram, menyempil di Short YouTube, atau bahkan menjadi bahan tulisan yang tersebar di berbagai situs. Judul-judul ini tidak jarang menjadi konsumsi yang diminati masyarakat, membacanya hingga selesai, mengorek aib seseorang, lalu mengomentarinya sesuka hati. Lantas mengapa demikian?

Kita semua tahu, era teknologi ini begitu deras mengalir dan menjalar di seluruh lini masyarakat global, termasuk halnya di Indonesia. Sayangnya, dengan perkembangan yang ada, tidak semua orang memiliki wawasan yang cukup, sehingga bisa menggunakannya dengan bijak. Melalui budaya “julid” yang telah ada jauh sebelum terciptanya ponsel pintar, sikap ini terus direproduksi dan makin tak karuan karena media sosial bisa diakses oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.

Kejulidan ini semakin merajalela ketika ditemukan konten-konten menarik membicarakan tentang aib seseorang. Judul-judul yang telah saya sebutkan di atas misalnya. Menjadi sebuah pemantik yang dapat menyulut api penasaran dalam mengetahui jejak keburukan hidup seseorang. Nahasnya, banyak media yang approve dengan konten yang sedemikian rupa. Walaupun kredibilitasnya diragukan, kualitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, tentu yang terpenting adalah counting reader/viewer-nya ramai dikonsumsi masyarakat.

Tidak jarang, konten-konten tersebut  mendapatkan banyak komentar dari para netizen. Jari jemari rasanya begitu gatal jika tidak sekedar menyelipkan nama dan pendapat di kolom komentar. Baik ataupun buruknya komentar yang diberikan, tidak pernah menjadi beban pikiran bagi mereka, bahkan jika ulasan yang diberikan bisa menghancurkan hidup seseorang.

Lantas saya turut berpikir, bukankah berita semacam ini tidak lebih penting dibandingkan kasus-kasus krusial di tengah kehidupan masyarakat? Berita curanmor yang sedang marak terjadi di berbagai wilayah misalnya, kekerasan seksual terhadap anak-anak dan remaja contohnya, atau tragedi lain yang harusnya lebih banyak diperhatikan dan dicari jalan keluarnya ketimbang mengurusi kehidupan orang, yang bahkan tidak ada hubungan atau implikasi terhadap konsumen.

Saya tidak tahu mengapa. Tapi, barangkali masyarakat sudah terlalu lelah dengan jalan hidup masing-masing, mungkin mereka tidak ingin lagi berurusan dengan kasus yang begitu berat dan mengantarkan pada jalur hukum, atau bisa saja mereka butuh hiburan, dan aib seseorang adalah solusi yang dianggap begitu tepat. Masyarakat mencoba menilai bagaimana kualitas spiritual seseorang melalui konten-konten yang dibagikan di media sosial. Jari-jemarinya bergerak begitu lincah  seakan mereka merupakan makhluk yang diciptakan begitu sempurna oleh Tuhan. Kemudian dari sana mereka menelan informasi yang didapatkan begitu saja, membagikan kepada khalayak sekitar, dan kembali memberikan penilaian ulang dengan komentar yang terkesan merendahkan.

Namun, ada satu hal yang terlewat di sini. Suatu poin yang tidak banyak diperhatikan oleh masyarakat, bahwa ibadah bukanlah urusan publik yang harus dibeberkan begitu jelas. Urusan manusia dengan Tuhan tidak melulu dipertontonkan di depan layar ponsel, dan apapun informasi mengenai tinggi rendahnya tingkat spiritualitas seseorang tidak lain hanya menggiring masyarakat untuk bersikap julid, memaknai sepihak, dan menghidupkan emosi negatif. Tidak semua bisa memaknai hal seperti ini, namun pandangan inilah yang dibutuhkan oleh setiap insan. Bahwa tiap manusia tentu punya banyak rahasia yang tidak perlu untuk diketahui oleh orang lain,  dalam urusan praktik ibadah misalnya.

Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing, memiliki tujuannya sendiri-sendiri, dan perlu adanya sikap menghargai dengan pilihan hidup yang dilaluinya. Tidak harus menggurui, tidak perlu untuk merasa lebih tinggi, serta tidak usah menyudutkan dengan komentar yang membungkap. Apa yang bisa dibaca, didengar, maupun dilihat di berbagai lini teknologi tidak akan bisa menggapai kualitas hati, ibadah, dan hubungan seseorang dengan Tuhannya. Tentunya tiap orang akan berubah, sehingga berita apapun itu yang menyangkut keagamaan seseorang, khusunya dunia selebriti yang memiliki seribu topeng drama, pasti tidaklah bersifat statis.

Tulisan ini merupakan refleksi yang saya dapatkan ketika menonton short YouTube dan membaca tulisan di sebuah situs. Merasa miris ketika membayangkan jika kualitas ibadah saya harus ditampakkan begitu jelas seakan diri ini merupakan makhluk yang buruk di sisi Tuhan. Padahal yang bisa menilai ketakwaan seseorang hanyalah Tuhan semata. Tidak melalui salat, puasa, zakat, haji, atau ibadah lainnya, melainkan karena keridaan Dia kepada kita para manusia.

…ۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ ٣٢

“…Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm ayat 32)

0
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.