Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Covid-19 dan Kebangkitan Obat-obat Tradisional Indonesia

3 min read

Source: http://persiaway.com/
Source: http://persiaway.com/

Ketika virus Corona pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada Desember 2019, Indonesia percaya diri bahwa virus itu tidak akan sampai di Indonesia. Virus itu bisa ditangkal oleh masyarakat Indonesia. Setidaknya ada dua alasan yang dikemukakan oleh berbagai pihak.

Pertama, Indonesia adalah negara tropis dengan panas matahari yang cukup setiap hari. Virus Corona akan mati jika terkena panas matahari pada suhu tertentu (Tribunwow.com, 22 April 2020). Kedua, Indonesia kaya akan tanaman empon-empon seperti kunyit, jahe, sere, temu lawak, dan lain-lain yang kaya akan curcumin dan antioksidan yang dapat menangkal virus ini (Detiknews, 7 Maret 2020).

Pandangan tersebut membuat masyarakat Indonesia menjadi tenang. Apalagi, ketika 245 warga negara Indonesia yang dijemput pulang dari Wuhan, yang kemudian di karantina selama 14 hari di Pulau Natuna, semuanya dinyatakan sehat (Kompas.com, 2 Februari 2020). Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.

Tanggal 2 Maret 2020, presiden Jokowi mengumumkan bahwa virus Corona ini sudah sampai di Indonesia. Kasus pertama ditemukan pada dua orang warga Depok yang merupakan ibu dan anak. Mereka disinyalir mendapatkan virus ini dari teman mereka yang merupakan warga negara Jepang (Kompas.com, 3 Maret 2020).

Semenjak kasus pertama tersebut masyarakat dan pemerintah Indonesia sudah mulai terlihat panik. Terlebih lagi sudah ditemukan kasus pertama warga yang meninggal karena terserang virus ini (Detiknews, 11 Maret 2020). Masyarakat lalu berbondong-bondong memburu empon-empon.

Harganya pun kemudian meroket secara tiba-tiba. Tempo.co, pada tanggal 12 Maret 2020 memberitakan, jahe yang pada hari-hari biasa harganya Rp 30 ribu melonjak menjadi Rp 80 ribu. Mereka yang berdagang minuman tradisional yang bahannya berupa empon-empon ini, secara tiba-tiba memperoleh banyak pesanan (Detiknews, 7 Maret 2020).

Dalam tulisan ini saya tidak hendak membahas apakah empon-empon tersebut benar-benar bisa menangkal virus corona, karena saya bukanlah seorang profesional di bidang obat-obatan tradisional. Akan tetapi, saya ingin mengembalikan semangat kita yang hampir memudar dalam kaitannya dengan merawat kekayaan orisinal bangsa kita. Saya ingin mengingatkan bahwa Indonesia punya potensi yang luar biasa untuk menemukan berbagai macam obat untuk berbagai macam penyakit.

Baca Juga  Metafisika al-Farabi dan Teori Emanasi

Saya ingin mengingatkan bahwa di balik musibah Covid-19 yang sedang kita alami bersama-sama ini, dapat dilihat tumbuhnya semangat anak bangsa untuk mencoba menggunakan obat-obat tradisional asli Indonesia sebagai upaya mencegah berkembangnya virus ini. Bahkan untuk mengobati mereka yang sudah terkena virus ini.

Suara.com, misalnya pada 22 Mei 2020 memberitakan bahwa 33 pasien yang terkena virus Corona sembuh karena meminum jus buah pace atau buah mengkudu. Masing-masing pasien meminum dua botol jus dari buah yang baunya terkenal sangat tidak enak ini.

Belakangan beredar lagi kabar yang cukup luas lewat media sosial bahwa minyak kayu putih dapat menyembuhkan mereka yang terkena virus corona. Media online mencoba menulusuri kebenaran informasi ini melalui pemberitaan cek fakta yang mereka buat. Misalnya saja merdeka.com cek fakta, 11 Mei 2020; Liputan 6 cek fakta 10 Juni 2020; Cirebon pikiran rakyat.com cek fakta. Fakta-fakta yang berhasil diliput oleh media-media ini menginformasikan bahwa minyak kayu putih belum dapat dikatakan sebagai obat penyembuh bagi penderita Covid-19.

Akan tetapi, dijelaskan bahwa minyak kayu putih memang memiliki kandungan zat aktif yang dapat menjadi anti bakteri, anti virus, dan anti jamur. Dengan kata lain, ada spirit yang dapat diberikan oleh minyak yang berasal dari pohon Eucalyptus ini untuk para ahli biologi, kimia dan farmasi Indonesia melakukan penelitian yang lebih lanjut.

Saya tidak ingin membahas apakah kemudian harga buah mengkudu dan minyak kayu putih menjadi sangat mahal di pasaran karena berita-berita ini. Yang paling ingin saya tekankan sekali lagi adalah bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan berbagai tanaman yang ada di Indonesia untuk menjadi berbagai jenis obat.

Baca Juga  Bahasa Akademik Kita Masih Buruk Sekali

Obat untuk mencegah dan mengobati mereka yang terkena Covid-19 maupun penyakit-penyakit lainnya. Indonesia memiliki kekayaan alam berupa banyaknya jenis tanaman yang dapat menjadi bahan obat-obatan yang dapat menangkal dan menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Saya masih ingat, di masa kecil, almarhumah ibu saya meramaskan beberapa lembar daun kembang sepatu di dalam air putih yang sudah dimasak dan didinginkan, membalurkannya di kening, ketiak, dan punggung saya untuk menurunkan panas yang sedang saya rasakan.

Ibu saya juga pernah membawa saya ke seorang “dukun kunyit” yang mengunyah sirih dan bahan-bahan tanaman kelengkapannya, lalu menyemburkannya apa yang dikunyahkannya tersebut ke seluruh badan saya yang panas. Ajaibnya, pulang dari rumah “dukun kunyit” tersebut badan saya langsung dingin dan saya segera bisa bermain lagi.

Apa yang ingin saya tekankan adalah bahwa Covid-19 ini juga memberikan hikmah kepada bangsa kita untuk berusaha menjadi mandiri dalam menemukan obat yang cocok untuk penderita Covid-19 dan penyakit-penyakit lainnya. Obat-obat yang diramu dari tanaman-tanaman yang tumbuh di Indonesia, yang tentunya sesuai digunakan untuk karakter fisik orang Indonesia.

Mari kita analogikan sedikit saja, mengapa ada berbagai jenis obat demam misalnya? Mulai dari Bodrex, Paracetamol, Panadol, sampai Ibu profen dan lainnya. Berbagai merek yang bisa sulit menghitung jumlahnya. Bukankah ini dimaksudkan untuk memberikan obat sesuai dengan ciri anatomis dan fisiologis seseorang? Sehingga orang yang satu lebih cocok meminum Bodrex daripada Panadol dan sebaliknya?

Saya kira begitu juga dengan banyaknya ragam tanaman yang diridhai Allah untuk tumbuh di negeri kita tercinta Indonesia. Potensi-potensi tanaman lokal yang menjadi ciri daerah-daerah yang ada di Indonesia begitu banyak. Karenanya potensi untuk menemukan berbagai jenis obat juga akan sangat luar biasa. Kita harus mengembangkan potensi-potensi itu. Juga dalam rangka membuktikan rasa syukur kita kepada Allah yang menganugerahkannya.

Baca Juga  Memaknai Hijrah Ala Komunitas Sahabat Hijrah Nasr Surabaya

Saya ingat sekali dengan pernyataan Mr. Tim Babbock seorang ahli pengembang masyarakat ketika berkunjung ke kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. “Coba pikirkan, mengapa masyarakat yang tinggal jauh dari kota, tinggal di pegunungan yang terjal, bisa sehat-sehat saja. Padahal mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit. Mereka itu memiliki kearifan-kearifan lokal, tanaman-tanaman lokal, obat-obat tradisional yang dapat menyembuhkan penyakit yang mereka derita”.

Galilah pengetahuan dari masyarakat tersebut. Anda akan menemukan berbagai fakta dan informasi yang dapat membuat anda terkejut. Mereka sesungguhnya bisa lebih pintar dari anda. Pintar karena pengalaman mereka bercengkerama dengan alam sekitar mereka.

Saya juga menjadi teringat dengan banyak script kuno yang dituliskan nenek moyang kita dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menulisnya dalam berbagai wadah seperti kulit pohon daluang, batang bambu, dan lain-lain. Ada ratusan script kuno nenek moyang kita yang tersimpan pada perpustakaan Staatsbibliothek zu Berlin di kota Berlin. Di antara script kuno tersebut ada yang menuliskan tanaman dan rempah tertentu sebagai obat.

Kita sama-sama mengetahui, sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obat untuk menangkal dan menyembuhkan penderita Covid-19 ini. Penyembuhan para pasien ini tidak lain dilakukan masih dengan cara menguatkan imunitas mereka. Karenanya, kita harus mendorong para peneliti di bidang biologi, kimia, dan farmasi Indonesia untuk melakukan penelitian dengan bahan tanaman-tanaman yang tumbuh di Indonesia.

Tanaman-tanaman yang akan menghasilkan obat yang sesuai dengan ciri-ciri fisik orang Indonesia. Covid-19, dengan demikian, selain menjadi tantangan kehidupan yang unik bagi kita semua, dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya obat-obat tradisional yang menyehatkan anak bangsa. Harapannya juga vaksin dan obat untuk penderita Covid-19. [MZ]

Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya