Mengapa Kita Begitu Menghindari Keheningan?

Mengapa kita begitu takut pada keheningan?

Keheningan telah menjadi salah satu pengalaman paling langka dalam kehidupan modern di mana gawai menjadi teman hidup kita. Kita bangun dengan bunyi alarm, kemudian menjelajahi media sosial setelah bangun tidur, mendengarkan siniar selama perjalanan ke kantor, bekerja dengan musik latar, memperhatikan notifikasi tanpa henti, dan mengakhiri hari dengan menggulir video singkat hingga tertidur.

Dengan kata lain, pertanyaan yang mengganggu adalah mengapa kita begitu takut akan diam dan keheningan? Sekilas, keheningan tampak hampa. Ia tidak menghasilkan apa pun, tidak menghibur siapa pun, dan menawarkan sedikit nilai terukur dalam budaya yang terobsesi dengan produktivitas.

Namun, mungkin keheningan sama sekali tidak hampa. Mungkin ia hanya terasa hampa karena ia menghilangkan semua yang kita gunakan untuk menghindari diri kita sendiri. Banyak orang berasumsi bahwa keheningan hanyalah ketiadaan suara. Akan tetapi, secara filosofis dan spiritual, keheningan adalah sesuatu yang jauh lebih mendalam.

Keheningan adalah ketiadaan gangguan, momen yang di dalamnya percakapan tanpa akhir antara diri kita dan dunia untuk sementara berhenti, membuat kita berhadapan langsung dengan kehidupan batin kita sendiri. Kerapkali pertemuan itu tidak selalu nyaman, sebab kebisingan telah menjadi salah satu cara paling efektif untuk melarikan diri dari diri kita sendiri.

Kita sering percaya bahwa kita sedang mencari informasi, tetapi terkadang kita hanya mencari distraksi. Saat ponsel pintar kita bergetar, kita sekonyong-konyong meraihnya hampir secara naluriah. Momen kebosanan muncul, dan kita segera mengisinya dengan menonton video singkat lain. Kita jarang bertanya mengapa keheningan terasa begitu tak tertahankan.

Mungkin jawabannya terletak di dalam hati manusia. Keheningan memiliki kemampuan luar biasa untuk mengungkap apa yang disembunyikan oleh aktivitas yang konstan. Dalam keheningan, kecemasan menjadi terdengar, penyesalan menemukan bahasa, pertanyaan yang belum terjawab muncul dari bawah permukaan, dan harapan yang telah kita abaikan diam-diam kembali.

Hal itu mungkin menjelaskan mengapa banyak tradisi spiritual memperlakukan keheningan bukan sebagai ketiadaan kehidupan tetapi sebagai salah satu kondisi terkaya dalam kehidupan. Dalam Islam, keheningan bukanlah tujuan akhir.

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk merenung, berkontemplasi, mengamati, dan mengingat. Ajakan ini mengasumsikan seseorang yang mampu mendengarkan, bukan hanya dengan telinga tetapi juga dengan hati.

Konsep tafakkur (perenungan mendalam) tidak dapat berkembang dalam gangguan yang terus-menerus. Demikian pula, mengingat Tuhan atau zikir bukanlah sekadar pengulangan kata-kata suci, melainkan pengembangan kehadiran yang penuh perhatian.

Kedua praktik tersebut membutuhkan momen-momen di mana kebisingan dunia menjadi cukup tenang sehingga kesadaran yang lebih dalam dapat muncul. Banyak guru sufi berbicara tentang hati seolah-olah itu adalah cermin.

Setiap keterikatan, gangguan, atau keinginan yang gelisah menempel di permukaannya seperti debu. Keheningan tidak berharga karena menciptakan sesuatu yang baru; keheningan berharga karena memungkinkan debu untuk mengendap. Hanya dengan demikian hati dapat merefleksikan realitas dengan lebih jelas.

Dilihat dari sudut pandang ini, keheningan bukanlah penarikan diri dari kehidupan. Ia adalah persiapan untuk melihat kehidupan sebagaimana adanya. Ironisnya, zaman kita telah sangat berhasil menghilangkan keheningan sekaligus meningkatkan kesepian.

Kita lebih terhubung daripada sebelumnya, tetapi banyak orang kesulitan untuk tetap sendirian dengan pikiran mereka sendiri bahkan hanya beberapa menit. Konektivitas yang konstan tidak selalu menghasilkan hubungan yang lebih dalam. Sering kali hanya menghasilkan stimulasi terus-menerus.

Ada perbedaan mendalam antara terhubung dan hadir. Kehadiran tidak dapat diunduh. Kehadiran tidak dapat di-streaming. Kehadiran tidak dapat dipercepat. Kehadiran tumbuh perlahan, sering kali di saat-saat yang tampak tidak produktif.

Pagi yang tenang sebelum matahari terbit. Berjalan tanpa headphone. Duduk di bawah pohon tanpa menggenggam gawai. Melihat hujan jatuh di jendela. Mendengarkan orang lain dengan saksama tanpa merencanakan jawaban Anda. Momen-momen biasa ini memiliki kekuatan yang luar biasa, mengingatkan kita bahwa hidup tidak hanya diukur dari aktivitas, tetapi juga dari perhatian dan kehadiran.

Keheningan juga membentuk kembali cara kita bertemu dengan Tuhan. Banyak orang membayangkan doa sebagai berbicara kepada Tuhan. Namun, setiap percakapan yang bermakna tidak hanya membutuhkan berbicara, melainkan juga mendengarkan.

Keheningan menciptakan ruang di mana doa menjadi lebih dari sekadar kata-kata. Hal itu menjadikan kita untuk bersikap menerima, yaitu kesediaan untuk membiarkan hati dibentuk daripada sekadar mengungkapkan apa yang sudah diketahuinya.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.