Jika Tak Ada Surga dan Neraka, Masihkah Kita Menyembah Allah?

Seorang Muslim Nusantara merenungkan makna ibadah, antara harapan terhadap surga, ketakutan terhadap neraka, dan kecintaan kepada Allah.

Ada sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi cukup dalam untuk menggugah hati kita, yaitu “Jika surga dan neraka tidak ada, apakah kita masih akan beribadah kepada Allah?” pertanyaan ini bukan berarti meragukan keberadaan surga dan neraka.

Dalam Islam, surga dan neraka adalah bagian dari perkara gaib yang wajib diyakini. Namun, pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan renungan untuk melihat kembali mengapa kita beribadah.

Setiap manusia memiliki alasan dalam melakukan sesuatu. Ada yang bekerja karena membutuhkan uang, belajar karena mengejar nilai, dan berusaha karena menginginkan keberhasilan.

Begitu pula dalam ibadah, ada orang yang rajin beribadah karena mengharapkan pahala dan surga, ada juga yang takut terhadap dosa dan azab neraka. Keduanya bukan sesuatu yang salah.

Al-Qur’an dan hadis justru banyak menjelaskan tentang kenikmatan surga dan dahsyatnya neraka agar manusia memiliki harapan sekaligus rasa takut.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Maka barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan dari siksa neraka dan masuk ke dalam surga merupakan sebuah kemenangan yang sangat besar. Namun, pertanyaannya apakah tujuan hidup kita sebagai manusia hanya berhenti sampai di sana?

Jawabannya tentu tidak sebatas iya atau tidak. Pada dasarnya, seorang hamba wajib beribadah bukan hanya karena mengharapkan sesuatu dari Allah, tetapi karena memang Allah lah Pencipta dan Pemilik alam semesta.

Ketika seseorang berdiri dalam salat, sesungguhnya ia sedang menghadap kepada Zat yang telah memberinya kehidupan ketika ia bersujud, ia sedang merendahkan dirinya di hadapan Pencipta yang selama ini tidak pernah berhenti memberikan nikmat kepadanya.

Dari Harapan dan Ketakutan Menuju Cinta kepada Allah

Pertanyaan di awal tadi merupakan sebuah perenungan tentang dasar terdalam dari ibadah. Jika pahala dan hukuman tidak menjadi pertimbangan, apa yang membuat kita tetap memilih untuk beribadah kepada Allah?

Dari sini, kita dapat merefleksikan sejauh mana hubungan kita dengan Allah. Ibadah tidak hanya lahir dari keinginan memperoleh balasan atau menghindari hukuman, tetapi juga dari kesadaran bahwa Allah adalah Tuhan yang layak disembah, dikenal, dicintai, dan diagungkan.

Secara sederhana, bayangkan seorang anak yang mencintai dan menghormati orang tuanya. Ia tentu tidak hanya berbuat baik ketika dijanjikan hadiah. Kebaikannya lahir dari hubungan, penghormatan, dan kasih sayang.

Demikian pula seorang hamba. Jika seluruh ibadah kita hanya berdiri di atas “apa yang akan saya dapatkan?” Maka kita perlu bertanya kembali, sudahkah kita mengenal siapa yang kita sembah. Bukan sekedar tuhan sebagai “pemberi pahala” namun Tuhan pencipta, pemelihara, pemberi kehidupan, dan tempat seluruh makhluk bergantung.

Allah sendiri mengajarkan manusia untuk memohon surga dan berlindung dari neraka. Sehingga, mengharapkan surga bukanlah tanda bahwa ibadah kita tidak ikhlas. Namun, yang perlu diperbaiki adalah ketika surga menjadi satu-satunya alasan kita mengenal Allah, sementara hati tidak memiliki rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya.

Ironisnya, manusia sering kali mengingat Allah ketika sedang membutuhkan sesuatu, bahkan ketika dalam keadaan terpuruk saja. Ketika sakit, menghadapi masalah, atau saat mengharapkan sesuatu, kita baru berdoa dan menangis dalam sujud.

Namun ketika keadaan sudah membaik, perlahan-lahan kita kembali lalai, seakan-akan Allah hanya kita datangi ketika kita membutuhkan sesuatu. Padahal Allah tidak hanya menjadi Tuhan ketika kita sedang susah saja. Padahal, dalam kondisi apapun, Allah tetaplah Tuhan semesta alam.

Maka salah satu tanda bertambahnya kadar keimanan seseorang ialah adalah ketika seseorang tetap dekat dengan Allah dalam kondisi apapun. Bukan hanya saat membutuhkan sesuatu, tetapi karena ia memang membutuhkan ridho-Nya, ia mencintai-Nya, dan ia membutuhkan Allah dalam setiap keadaan.

Dalam konteks ini, pada Akhirnya, jawaban dari pertanyaan tadi memang seharusnya hanya sebatas pada level verbal, kata-kata. Ia harus dijawab melalui keadaan hati; ketika kita tetap salat dan beribadah meskipun tidak ada yang melihat. Di situlah keimanan dan keikhlasan mulai diuji.

Surga adalah karunia yang kita harapkan, sedangkan neraka adalah sesuatu yang kita takutkan. Namun, Allah tetap harus menjadi tujuan utama penghambaan kita. Karena itu, ibadah tidak semestinya hanya berorientasi pada apa yang akan kita dapatkan, tetapi juga pada level cinta kepada-Nya.

Dalam sebuah syair, Rabiah Al-Adawiyah, seorang sufi wanita, mengatakan dalam syairnya:

“Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, haramkanlah aku daripadanya. Namun jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu, jangan palingkan wajah-Mu dariku.”

Dari sini, seyogyanya kita melakukan refleksi diri, sudah sejauh mana keimanan kita terhadap Allah, dan bagaiman persepsi kita terhadap ibadah yang sejauh ini kita lakukan. Apakah masih sebatas pada mengharapkan surga, atau karena rasa cinta kita kepada-Nya.

Karena puncak keimanan seorang hamba adalah ketika ia sadar bahwa hidupnya, ibadahnya bahkan  matinya hanya untuk Allah SWT. Sebagaimana dalam firmannya:

 اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am: 162). Boleh jadi surga membuat kita berharap dan neraka membuat kita takut, namun rasa cinta kepada Allah-lah yang seharusnya membuat kita tetap berjalan kepada-Nya. Pada akhirnya, seorang hamba selayaknya mengharap  keridaan Rabb-nya, Sang Pemilik surga dan Neraka.

0

Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, PTIQ Jakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.