

Modernitas menjanjikan kebebasan kepada kita melalui keleluasaan memilih. Di setiap sudut jalan, layar kaca, hingga genggaman tangan, kita terus-menerus disapa dengan lembut dan diinterpelasi oleh berbagai citra yang menawarkan identitas baru; identitas yang bisa kita rekayasa dengan menampilkan versi diri yang terbaik dan terus mengejar keterbaikan tersebut.
Sapaan ini terasa begitu personal dan bersahabat, seolah-olah pasar sangat memahami siapa diri kita dan apa yang kita butuhkan untuk menjadi manusia yang utuh. Ironisnya, di balik etalase dan bayang kebebasan memilih tersebut, tersembunyi sebuah mekanisme penjara tak kasatmata.
Kita dibuat merasa sedang merayakan otonomi diri saat berbelanja misalnya, padahal pada hakikatnya kita sedang merespons panggilan sebuah sistem yang mendikte bagaimana kita seharusnya mendefinisikan eksistensi.
Media sosial (medsos) menawarkan berbagai keindahan visual yang menjanjikan persona diri yang baik, kita dituntun dan dituntut menjadi indah dalam pandangan citra. Sayangnya, selain menampilkan keindahan citra, ia juga mempelajari tingkah laku, selera dan preferensi kita lalu menawarkannya kepada pasar modern agar dapat menampilkan produk yang sesuai kepada kita.
Pasar modern yang ada di hadapan kita kini adalah pasar digital yang tidak lagi menunggu untuk kita pilih lalu kita datangi layaknya pasar tradisional.
Melalui interaksi di media sosial dan jejak aktivitas daring, ia secara aktif mempelajari preferensi kita dan menyajikan produk yang sesuai dengan minat serta gambaran diri yang ingin kita tampilkan. Ia bahkan mampu mengklasifikan kita ke dalam kelas-kelas sosial tak kasat mata.
Pasar digital ini menggunakan bujukan halus yang membuat kita seakan dimengerti. Lalu, tanpa sadar, citraan yang setiap hari yang kita lihat secara perlahan membentuk idealisme dan selera kita.
Dalam hal ini, kita ditarik dari individu yang merdeka menjadi subjek konsumen yang tunduk patuh pada logika pasar. Hasrat yang kita kira murni berasal dari kehendak bebas, sebenarnya adalah kebutuhan ilusioner yang ditanamkan secara rapi oleh struktur di luar diri kita.
Akibatnya, kita terjebak dalam pencarian kepuasan yang didesain agar tidak pernah tercapai dan tidak pernah merasa cukup. Ketidakmampuan untuk merasa cukup inilah yang menjadi akar dari perbudakan modern.
Fenomena ini pernah dijelaskan oleh Althusser, seorang filsuf kritikus strukturalis asal Prancis, bahwa kebutuhan palsu sengaja dibentuk dan ditanamkan melalui kanal media massa, periklanan, dan budaya populer (Althusser, 1971: 143).
Melalui mekanisme sapaan ideologis (hailing) dari media (iklan dan citraan –pen), seseorang memberikan pengakuan (recognition) atas identitas yang ditawarkan (Althusser, 1971: 174).
Setelah seseorang memberikan pengakuan atau mengamini identitas yang ditawarkan, lalu menginternalisasi kebutuhan semu tersebut sebagai esensi dirinya, secara tidak sadar ia telah terjebak pada sebuah ilusi kebebasan. Seseorang merasa berbelanja atas dasar kehendak otonom padahal ia sebenarnya sedang mereproduksi ketundukannya pada sistem kapitalis (Althusser, 1971: 174, 181-182)
Dalam ruang refleksi spiritual, lebih dari 700 tahun lalu kita sudah diingatkan oleh Syekh Ahmad ibn Athaillah, seorang ulama sufi, dalam kitab al-Hikam melalui sebuah peringatan tajam yang melampaui zamannya:
أَنْتَ حُرٌّ مِمّاَ أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ وَعَبْدٌ لِـــــــماَ أَنْتَ لـــَهُ طَامِــــــعٌ
“Engkau adalah orang yang merdeka dari apa yang tak kauinginkan. Dan engkau adalah budak dari apa yang kauserakahi.”
Nasihat sufistik menyentuh persoalan inti konsumerisme hari ini. Selama kita masih memelihara ketamakan dan menambatkan harga diri pada validasi materi yang diproduksi oleh industri, selama itu pula kita meletakkan leher kita di bawah belenggu perbudakan tak kasatmata.
Sang majikan tidak lagi perlu mengawasi kita dengan cambuk, karena rantai kepatuhan itu telah kita pasang sendiri atas nama gaya hidup, gengsi, dan pemenuhan diri yang keliru. Kemerdekaan sejati, seperti yang diisyaratkan oleh Ibn Athaillah, baru akan lahir ketika kita berani memotong hasrat terhadap konsumsi semu tersebut.
Langkah awal menuju kemerdekaan sejati itu adalah kesadaran kritis bahwa kita memiliki otonomi untuk mengabaikan sapaan yang menawarkan kebahagiaan ‘instan’.
Dengan berhenti mendambakan apa yang sesungguhnya tidak mendasar bagi eksistensi kita dan melepaskan ketergantungan dari pengakuan pasar, kita dapat merebut kembali kedaulatan atas diri sendiri. Akhirnya, kemerdekaan sejati bukanlah kemampuan untuk memiliki segala sesuatu, melainkan kebebasan untuk tidak diperbudak oleh apa pun yang ingin kita miliki.