Mencari Kunci di Tempat Terang

Terkadang kita mencari tempat di mana cahaya paling terang, alih-alih tempat di mana kebenaran sebenarnya berada.

Ada sebuah kisah lama yang diceritakan di banyak kebudayaan. Suatu malam, seorang pria terlihat merangkak di bawah lampu jalanan, dengan hati-hati mencari di sekitaran. Seorang pejalan kaki mendekat dan bertanya apa yang sedang dicarinya.

“Kunci saya,” jawab pria itu. Mereka bersama-sama mencari selama beberapa menit tetapi tidak menemukan apa pun. Akhirnya, pejalan kaki itu bertanya, “Apakah Anda yakin kehilangannya di sini?”

Pria itu menggelengkan kepalanya. “Tidak,” katanya. “Saya kehilangannya di sana, di tempat gelap.” Pejalan kaki itu tampak bingung. “Lalu mengapa Anda mencari di sini?”

“Karena di sini ada cahaya yang menerangi.” Kisah ini lucu dan bahkan terdengar absurd. Namun, kisah ini memotret salah satu kecenderungan terdalam dari pikiran manusia. Kita sering mencari jawaban bukan di tempat yang paling mungkin bisa ditemukan, tetapi di tempat yang paling mudah bagi kita untuk mencari.

Ini bukan sekadar kesalahan logika, melainkan lebih pada kebiasaan hidup. Kita lebih menyukai pertanyaan yang familiar daripada pertanyaan yang sulit. Kita menyelidiki masalah yang sesuai dengan metode dan praduga kita sambil mengabaikan masalah yang justru menantang asumsi kita.

Lebih lanjut, kita mengeksplorasi apa yang dapat diukur dan diam-diam malah meninggalkan apa yang tidak dapat diukur. Seperti pria tersebut yang mencari barangya di bawah lampu jalanan, kita keliru menganggap apa-yang-tampak-terang sebagai kebenaran.

Peradaban modern telah menjadi sangat terampil dalam mencari di bawah lampu yang terang benderang. Sains telah memberi kita pengetahuan yang menakjubkan tentang alam semesta. Kita dapat memotret galaksi yang jauh, mengedit gen, dan melatih mesin untuk meniru percakapan manusia. Namun, pencapaian ini juga mengungkapkan godaan yang halus, yakni percaya bahwa realitas dapat habis oleh apa pun yang dapat diterangi oleh instrumen kita.

Meski begitu, tidak setiap pertanyaan penting berada di bawah lampu jalan yang terang. Penting dicatat bahwa cinta tidak dapat direduksi menjadi kimia, meskipun kimia berperan di dalamnya. Keindahan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh ilmu saraf, meskipun otak mengalaminya. Makna tidak dapat ditemukan di bawah mikroskop, dan begitu pula harapan tidak dapat ditimbang pada timbangan laboratorium.

Masalahnya bukanlah sains, melainkan kita yang mengacaukan jangkauan suatu metode dengan batasan realitas, sebab setiap disiplin ilmu membawa lampu jalannya sendiri. Ekonomi menjelaskan insentif, psikologi menjelaskan perilaku, politik menjelaskan kekuasaan, dan biologi menjelaskan organisme. Masing-masing memberikan pencerahan yang berharga bagi dunia. Namun, tak satu pun yang menerangi seluruh lanskap.

Filsuf Ludwig Wittgenstein pernah menyatakan bahwa meskipun setiap pertanyaan ilmiah dijawab, masalah kehidupan secara menyeluruh akan tetap tak bisa luruh dan tersentuh, mengingatkan kita bahwa penjelasan dan pemahaman tidak selalu identik. Seseorang mungkin mengetahui bagaimana sesuatu berfungsi tanpa mengetahui apa artinya.

Agama sering kali memperhatikan wilayah-wilayah yang lebih gelap di mana cahaya biasa meredup. Bukan karena agama menolak akal, tetapi karena agama mengakui bahwa akal itu sendiri beroperasi dalam cakrawala.

Pertanyaan-pertanyaan mengenai tujuan, penderitaan, keindahan, transendensi, dan Tuhan menolak penangkapan sepenuhnya oleh metode empiris. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan bentuk perhatian yang berbeda dari pengukuran.

Tradisi sufi memahami hal ini jauh sebelum filsafat modern. Banyak guru sufi memperingatkan bahwa hambatan terbesar menuju kebenaran bukanlah ketidaktahuan, tetapi kepastian yang salah tempat.

Kita terikat pada cara-cara mengetahui yang familiar karena memberikan kenyamanan. Kita terus mencari di bawah lampu yang paling terang sambil melupakan di mana sebenarnya kehilangan barang itu sebetulnya terjadi.

Para sufi berpendapat bahwa hati memiliki cara pandangnya sendiri. Hal ini tidak boleh disalahartikan sebagai irasionalitas. Sebaliknya, hal ini mengarah pada cara pandang lain, cara yang dikembangkan melalui keheningan, disiplin, ingatan, kerendahan hati, dan cinta. Sama seperti mata tidak dapat mendengar musik, penalaran analitis saja tidak dapat memahami setiap dimensi keberadaan.

Beberapa kebenaran hanya terungkap kepada diri yang telah berubah. Mungkin inilah mengapa kebijaksanaan sejati sering dimulai dengan kebingungan.

Orang yang percaya bahwa setiap jawaban sudah tersedia di bawah cahaya yang ada jarang berani memasuki kegelapan yang belum dijelajahi. Sebaliknya, para filsuf, nabi, seniman, dan mistikus memiliki keberanian yang sama, yaitu mereka bersedia memasuki wilayah di mana kepastian menghilang.

Kegelapan, dalam pengertian ini, bukan hanya ketiadaan cahaya. Ia adalah ruang di mana bentuk-bentuk penglihatan baru menjadi mungkin. Ironisnya, banyak penemuan terdalam kita muncul justru ketika penjelasan yang familiar gagal.

Kehilangan pribadi mengungkap kerapuhan kesuksesan. Penyakit membentuk kembali pemahaman kita tentang tubuh. Keheningan mengungkapkan kemiskinan dari kebisingan yang tak berujung. Kegagalan membongkar ilusi yang disembunyikan dengan cermat oleh pencapaian.

Terkadang hidup menyingkirkan lampu jalan sebelum mengungkapkan kuncinya. Ini mungkin menjelaskan mengapa tradisi spiritual secara konsisten menghargai kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah merendahkan diri sendiri, melainkan mengakui bahwa realitas selalu melampaui jangkauan seseorang.

Orang yang rendah hati tidak menganggap lingkaran yang diterangi sebagai seluruh dunia. Selalu ada lebih banyak hal di luar batas cahaya.

Mungkin kisah lama itu pada akhirnya bukan tentang orang bodoh yang mencari di tempat yang salah. Mungkin itu tentang kita semua. Kita terus mencari kebahagiaan di tempat yang orang lain katakan seharusnya kita menemukannya.

Kita keliru dan salah arah untuk mencari identitas dalam tepuk tangan, keamanan dalam harta benda, dan makna dalam produktivitas. Kita mencari di bawah cahaya paling terang karena cahaya itu menjanjikan kepastian.

Namun, kuncinya sering kali terletak di tempat lain, di luar kenyamanan, di luar kebiasaan, di luar cahaya yang menenangkan dari penjelasan yang sudah familiar.

Penemuan terbesar jarang terjadi di tempat di mana pandangan menjadi paling mudah. ​​Penemuan itu dimulai ketika keberanian memungkinkan kita untuk melangkah ke dalam kegelapan, bukan karena kegelapan itu sendiri suci, tetapi karena kebenaran terlalu luas untuk tetap terkurung di bawah satu lampu.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.