Rumah yang Tak Pernah Bisa Kita Bawa Serta Selamanya

Rumah yang Tidak Bisa Kita Bawa Serta

Ada keindahan yang unik dan mengharukan pada sebuah rumah. Kita membangun dinding-dindingnya perlahan. Kita memilihkan pintu serta catnya, menata ruang-ruangnya, mengisi setiap sudutnya dengan kenangan, dan pada akhirnya mulai menyebutnya sebagai milik kita.

Kita berkata, “rumahku”, dengan cara yang sama polosnya seperti saat kita berkata, “hidupku”. Namun, tiba saatnya ketika tata bahasa kepemilikan itu perlahan runtuh.

Suatu hari, kita meninggalkan rumah itu, dan rumah itu tetap bergeming berdiri di situ. Fakta sederhana ini menyimpan pelajaran filosofis yang mendalam tentang kefanaan, ketidakkekalan, dan ilusi kepemilikan.

Kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk mengumpulkan berbagai hal, seolah-olah keabadian bisa kita beli. Kita menghias, merenovasi, memperluas, melindungi, mengasuransikan, dan mewariskan.

Kendati demikian, pertanyaan terpenting adalah apa sebenarnya makna dari kepemilikan itu sendiri, bukan tentang apa yang kita miliki. Sebuah rumah bisa melindungi raga, tetapi jelas sekali ia tak mampu melindungi kita dari gerak waktu.

Kita sering bersikap seolah-olah kepemilikan memberi kita keabadian. Semakin besar rumah, semakin aman perasaan kita. Semakin banyak harta yang kita kumpulkan, semakin bermakna hidup kita di mata dunia.

Padahal, kepemilikan itu sesungguhnya rapuh. Rumah bisa dijual, tanah bisa dibagi, dan kekayaan bisa lenyap. Bahkan nama yang melekat pada sebuah properti pada akhirnya akan menjadi nama seseorang yang sudah tiada.

Apa yang kita sebut “milikku” sering kali hanyalah sesuatu yang dititipkan kepada kita untuk sementara waktu. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia bahwa pada hakikatnya segala sesuatu adalah milik Allah.

Manusia boleh memiliki, mewarisi, mengelola, dan memanfaatkan berbagai hal, tetapi mereka tidak memilikinya secara mutlak. Oleh karena itu, hubungan kita dengan dunia lebih menyerupai peran sebagai pemegang amanah ketimbang pemilik sejati.

Perbedaan sudut pandang ini mengubah makna dari “memiliki” itu sendiri. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu adalah mutlak miliknya, wajar saja jika ia merasa cemas akan kehilangannya. Ia akan mempertahankannya, mengumpulkannya lebih banyak lagi, dan mengukur nilai dirinya melalui miliknya tersebut.

Namun, jika ia memandangnya sebagai sebuah amanah, hubungannya pun menjadi berbeda. Ia bisa menghargainya tanpa harus memuja-mujanya, bisa memanfaatkannya tanpa harus dikuasai olehnya, dan bisa mencintainya tanpa harus berpura-pura bahwa miliknya akan kekal selamanya.

Pada titik inilah signifikansi dari zuhud menemukan momentumnya. Zuhud tidak serta-merta berarti meninggalkan dunia, melainkan menolak membiarkan dunia menguasai hati kita. Seseorang bisa saja tinggal di rumah yang indah tetapi tetap memiliki sikap zuhud, yakni tidak terikat pada hal ihwal duniawi.

Di sisi lain, ada orang yang hampir tidak memiliki apa-apa tetapi tetap sepenuhnya terpenjara oleh hawa nafsu. Masalahnya terletak pada seberapa erat kita menggenggamnya, bukan pada seberapa banyak yang kita miliki.

Ada kesedihan tersendiri saat memasuki rumah tua setelah pemiliknya wafat. Perabotan mungkin masih ada di sana. Buku-buku tetap tersusun di rak. Pakaian tergantung bisu di dalam lemari. Foto-foto mengabadikan wajah-wajah yang tak lagi menghuni ruangan-ruangan itu.

Segalanya seolah berkata: seseorang pernah tinggal di sini, tetapi orang itu telah tiada.

Rumah itu pun kini menjadi sebuah objek permenungan. Ia menyingkapkan ketimpangan yang ganjil antara manusia dan harta bendanya. Kita membayangkan diri kita memiliki benda-benda itu, tetapi pada akhirnya, benda-benda itulah yang bertahan lebih lama daripada kita. Rumah itu terus ada, sementara pemiliknya tinggal menjadi kenangan.

Mungkin, selama ini kita keliru memahami makna memiliki sebuah rumah. Rumah tidak selalu berarti sekadar kepemilikan harta. Ia adalah tempat pertemuan sementara, sebuah ruang di mana hubungan, kenangan, santapan, perdebatan, tawa, duka, dan doa terjalin. Nilai terdalamnya tidak terletak pada luas dan perabotannya, melainkan pada apa yang terjadi di dalamnya, dan bahkan hal ini pun juga bersifat sementara.

Kita semua tinggal di sebuah rumah yang pada akhirnya tidak bisa kita bawa serta. Tubuh kita sendiri mungkin adalah rumah yang paling dekat dengan diri kita. Kita menghiasinya, melindunginya, merawatnya, dan menyebutnya sebagai milik kita. Namun, suatu hari nanti, tubuh itu pun harus dikembalikan ke tanah, ke dalam bumi.

Hal ini tidak dimaksudkan untuk membuat hidup menjadi sia-sia, melainkan justru sebaliknya. Sifat ketidakkekalan dapat membuat rasa syukur menjadi lebih mendalam.

Matahari terbenam terasa indah sebagian karena ia akan berakhir. Masa kanak-kanak tidak bisa diulang. Percakapan dengan orang yang kita cintai tidak bisa disimpan selamanya. Sifat sementara dari segala sesuatu tidak mengurangi nilainya. Terkadang, justru itulah yang membuatnya begitu berharga.

Kita datang dengan tangan hampa, dan pada akhirnya kita pergi juga dengan tangan hampa. Mungkin tujuan hidup bukanlah untuk memiliki rumah itu, melainkan belajar bagaimana menjalaninya dengan penuh rasa syukur selama kita berada di sana.

0

Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.