



Saya mengidolakan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sejak saya masih remaja , karena semacam mendapatkan chemistry Gus Dur dalam hal pandangan- pandangan kemanusiaannya, sikap hidupnya, maupun gaya pribadinya yang suka humor.
Hal itu disampaikan penyair kelahiran Sukabumi Joko Pinurbo dalam acara Panggung Budaya Temu Nasional (Tunas) Gusdurian 2020, secara virtual, pada Selasa (15/12 ) malam. Acara yang bertema Menggerakkan Masyarakat Memperkuat Indonesia ini juga disiarkan langsung melalui Facebook KH Abdurrahman Wahid.
Lanjut pria bergelar Master Of Art ini , Saya melakukan proses belajar khusus terutama mengenai humor- humor Gus Dur itulah yang kemudian saya olah, saya kembangkan di dalam puisi- puisi saya. Saya melihat humor Gus Dur ini layak menjadi studi khusus karena melalui humor hampir berbagai macam pandangan atau sikap kemanusiaan Gus Dur itu tercermin atau tersingkapkan.
Seorang penulis memerlukan referensi atau model . Ada banyak referensi atau model yang saya pelajari tetapi sangat langka yang sampai chemistry dalam hal style maupun konten yang menyangkut pandangan – pandangan kemanusiaan Gus Dur, ungkap Joko Pinurbo.
Saya mempunyai sejumlah puisi yang gaya maupun isinya sangat terinspirasi oleh Gus Dur, ada sejumlah puisi saya baik secara ekspresif menyebut nama Gus Dur maupun tidak secara ekspresif menyebut nama Gus Dur. Tetapi secara tersirat mengolah ide dari Gus Dur.
Gus Dur Dikenal Sebagai Bapak Toleransi
Dalam Refleksi subjektif saya, Gus Dur bukan hanya memperjuangkan toleransi melainkan lebih sekadar toleransi . Toleransi bisa saja berupa tenggang rasa yang sifatnya pasif, sedangkan toleransi Gus Dur bukan sebatas itu , Gus Dur membela dan memperjuangkan dan mengamalkan apa yang disebut kesetaraan kemanusiaan jadi bukan hanya menghargai, menghormati toleransi tetapi juga membela dan memperjuangkanya, kata Joko Pinurbo .
Yang dilakukan Gus Dur yaitu membela dan memperjuangkan hak- hak orang lain dan orang lain itu orang yang berbeda dengan dirinya. Maka toleransi Gus Dur sangat tinggi bukan sekadar baik- baik tidak saling mengganggu , toleransi versi Gus Dur yang diikuti dengan keberaniaan untuk memperjuangkan membela hak- hak orang lain dengan segala resikonya. Gus Dur terbukti berani mengambil resiko itu, jelas Joko Pinurbo.
Untuk diketahui, Panggung Budaya adalah salah satu rangkaian agenda dari Temu Nasional (Tunas) Gusdurian 2020 yang dilangsungkan selama sepuluh hari, sejak 7 hingga 16 Desember mendatang. Tunas Gusdurian akan ditutup dengan acara peringatan Haul Gus Dur ke-11.
Pewarta: Suci Amaliyah