



Pertanyaan dalam judul tulisan ini terdengar hampir tidak sopan karena moralitas biasanya dipandang sebagai sesuatu yang dibutuhkan manusia agar menjadi lebih baik, sementara Tuhan, Yang Maha Sempurna, seharusnya tidak memerlukan perbaikan, koreksi, pengakuan, ataupun ketaatan.
Kendati begitu, jika Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari kita, muncul masalah yang lebih serius, yakni mengapa perilaku moral kita menjadi penting bagi Tuhan? Mengapa kejujuran, welas asih, keadilan, kekejaman, pengkhianatan, atau kemurahan hati memiliki makna bagi Dzat yang keberadaannya tidak bergantung pada pilihan tindakan manusia?
Pertanyaan ini menjadi sangat pelik jika moralitas dipahami sebagai sistem kewajiban yang ditetapkan oleh Tuhan. Jika Tuhan memerintahkan kita untuk bersikap adil, apakah keadilan menjadi baik karena Tuhan memerintahkannya, ataukah Tuhan memerintahkannya karena keadilan itu sendiri memang sudah baik?
Penting dicatat bahwa kemungkinan pertama berisiko menjadikan moralitas bersifat sewenang-wenang. Jika apa pun yang diperintahkan Tuhan menjadi baik semata-mata karena Dia memerintahkannya, maka kebaikan tampak bergantung sepenuhnya pada kehendak ilahi.
Kemungkinan kedua memunculkan konsekuensi yang sama tidak nyamannya, yakni karena jika kebaikan ada sebagai standar yang diakui—bukan diciptakan—oleh Tuhan, maka moralitas tampak memiliki logika yang tidak bisa sekadar direduksi menjadi perintah ilahi.
Persoalan klasik ini menyingkapkan sesuatu yang fondasional. Kehidupan bermoral tidak dapat dijelaskan secara memadai dengan membayangkan Tuhan sebagai pembuat hukum kosmis yang menuntut ketaatan demi tujuan-Nya sendiri.
Seorang penguasa manusiawi mungkin membutuhkan ketaatan karena otoritas politik bergantung pada pengakuan rakyat atas perintah-perintahnya. Namun, Tuhan tidak menjadi lebih berkuasa karena manusia menaati-Nya, dan keberadaan-Nya pun tidak terancam oleh ketidaktaatan manusia.
Dengan kata lain, jika esok hari setiap manusia menjadi tidak adil, Tuhan tidak akan menjadi kurang ilahi. Jika setiap manusia menjadi sosok yang penuh welas asih secara sempurna, Tuhan tidak akan menjadi lebih utuh atau paripurna.
Dengan begitu, mungkin saja Tuhan tidak membutuhkan moralitas kita. Mungkin sebaliknya kita membutuhkan moralitas karena dampak tindakan kita terhadap dunia tempat kita berada. Perbedaan sudut pandang ini mengubah gambaran teologisnya. Perintah ilahi tidak perlu dipahami sebagai solusi atas kekurangan pada diri Tuhan.
Berlawanan dengan itu, perintah tersebut dapat dipahami sebagai undangan, tuntutan, atau pedoman arah yang memungkinkan makhluk-makhluk yang terbatas ini belajar cara menjalani kehidupan tanpa saling menghancurkan satu sama lain.
Ketika tradisi keagamaan berbicara tentang keadilan, belas kasih, kejujuran, atau kepedulian, makna moralnya muncul dalam kondisi kehidupan yang rapuh dan berwujud fisik, di mana setiap tindakan berdampak pada sosok yang bisa menderita, berkembang, mengingat, merasa takut, berharap, atau mati.
Dengan demikian, perintah moral mungkin bukan sekadar soal memuaskan Tuhan, melainkan soal mengubah hubungan antara manusia dengan semua yang ada di dunia.
Hal ini juga menjelaskan mengapa moralitas tidak bisa direduksi menjadi sekadar kepatuhan lahiriah. Seseorang bisa saja melakukan tindakan yang tampak benar secara agama, tetapi tetap memiliki niat yang kejam, bersikap manipulatif dalam hubungannya, atau acuh tak acuh terhadap penderitaan.
Jika moralitas hanya sebatas memenuhi perintah, kehidupan etis bisa berubah menjadi bentuk pencatatan hukum yang rumit, di mana pertanyaan utamanya hanyalah apakah seseorang telah patuh secara teknis.
Padahal, banyak tradisi keagamaan lebih menekankan pada niat, ketulusan, keadilan, belas kasih, dan transformasi karakter, yang mengisyaratkan bahwa kehidupan bermoral berkaitan dengan sosok seperti apa seseorang itu terbentuk melalui tindakan-tindakannya.
Paradoks ini menjadi semakin mendalam ketika kita mempertimbangkan penghakiman ilahi. Jika Tuhan menghakimi manusia, seolah-olah moralitas itu ada karena Tuhan menuntut pertanggungjawaban.
Namun, penghakiman bisa dipahami secara berbeda, yaitu dengan cara bahwa mungkin penghakiman ilahi tidak menciptakan makna moral dari suatu tindakan, melainkan menyingkapkan dampak tindakan tersebut terhadap diri pelakunya dan dunia.
Kekejaman tidak menjadi sesuatu yang merusak semata-mata karena Tuhan mengutuknya. Penghakiman ilahi justru mungkin menyingkapkan realitas kekejaman itu dengan kejelasan yang sering kali dihindari oleh manusia.
Dalam pengertian ini, Tuhan tidak membutuhkan moralitas kita sebagaimana seorang penguasa membutuhkan rakyat yang patuh. Kemungkinan yang lebih radikal adalah bahwa Tuhan memberikan moralitas tanpa perlu menikmati hasilnya.
Manusia yang menunjukkan belas kasih menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam hubungan tersebut; seseorang yang memilih keadilan memutus rantai dominasi; seseorang yang menolak mempermalukan orang lain melindungi secuil martabat manusia.
Tak satu pun dari tindakan tersebut menambah kesempurnaan Tuhan, tetapi masing-masing mengubah dunia tempat makhluk-makhluk fana ini hidup. Mungkin inilah sebabnya pertanyaan moral pada akhirnya kembali kepada diri kita sendiri.
Kita sering bertanya apakah Tuhan membutuhkan kebaikan kita, padahal jangan-jangan kita keliru menganggap moralitas sebagai sesuatu yang kita lakukan “demi” Tuhan, alih-alih sebagai sesuatu yang melaluinya kita menjadi pribadi yang bertanggung jawab “di hadapan” Tuhan.
Jika Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari kita, moralitas kita bukanlah sarana pemeliharaan ilahi. Moralitas itu adalah transformasi manusiawi.
Kemurahan hati yang tak lazim dari kehidupan bermoral justru terletak pada kenyataan bahwa Tuhan tidak membutuhkan kita untuk menjadi baik, tetapi dunia mungkin bergantung pada apakah kita melakukannya.
Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com