



Pandemi covid 19 tak kunjung usai. Di Indonesia angka prevalensi menunujukkan kecenderungan yang selalu meningkat. Pada tanggal 11 Februari 2021 total yang positif covid 1.191.990 dengan rincian jumlah orang yang sembuh mencapai 993.117 dan yang meninggal 32.381. PSBB sudah sekian kali diperpanjang. Semua orang belum ada yang tahu secara pasti kapan akan mereda bahkan menghilang dan kita manusia bisa hidup seperti dulu lagi. Sementara dampak dari pandemi sudah sangat nyata mempengaruhi kehidupan manusi tak terkecuali kehidupan berkeluarga.
Dalam dunia bisnis sudah tak terhitung lagi berapa banyak perusahan berskala besar maupun kecil yang sudah gulung tikar. Sekedar menyebut angka, misalmya, perusahaan fashion Zara yang sangat terkenal telah menutup outlet diseluruh dunia. Dampak ikutannya pasti adanya pemberhentian pegawai secara besar besaran.
Belum lagi banyak orang yang tidak bisa menjalankan usahanya sebagai mana biasa pengusaha kuliner mulai dari yang berskala besar seperti catering yang biasa melayani pesta pernikahan, workshop sampai ulang tahun sudah sangat sepi karena tidak ada event besar terselenggara. Dampaknya juga dialami oleh warung di kantin sekolah sampai perguruan tinggi dan perkantoran. To make the story short semua sektor terdampak dunia usaha, Pendidikan, sampai pariwisata semua terpukul. Sementara kebutuhan dasar manusia yang biasanya dibebankan pada sektor keluarga, seperti makan dan reproduksi, tidak mungkin berhenti.
Dampak pandemi pada keluarga sudah terekam cukup mencengangkan. KDRT, pelecehan seksual, kehamilan tak diinginkan sampai perceraian meningkat secara signifikan. Kepala BKKBN menyebutkan bahwa angka kehamilan yang belum atau tidak dikehendaki naik sekitar 17,5 persen. Bahkan di beberapa kota besar seperti DKI Jakarta justru naik lebih tinggi lagi yakni 26 persen dan Yogyakarta 24 persen. Kenaikan angka KTD ini juga disebutkan memicu adanya pertengkaran yang berujung pada KDRT bahkan perceraian.
Negara dan masyarakat sudah berbuat banyak namun belum membuahkan hasil signifikan. Salah satu cara adalah spiritualitas. Penyadaran ditingkat individu untuk memahami apa yang terjadi kepada hidupnya bahwa pandemi ini hanya bisa terjadi karena Allah menghendaki ini terjadi. Tidak ada apapun yang bisa menimpa hidup manusia tanpa izin dari Yang Maha Kuasa.
Allah mengizinkan apapun terjadi karena kasih saying-Nya. Pandemi ini, terlepas ini adalah hasil konspirasi atau benar-benar natural disaster, adalah bentuk Rahman Rahim dari-Nya. Pasti ada hikmah dibalik mala petaka ini. Dalam skala makro mungkin karena alam telah terploitasi sedemikian rupa maka alam butuh untuk rehat sementara waktu. Dalam skala individu tugas kita masing masing untuk menemukan hikmah.
Ada penulis yang beberapa waktu lalu sudah secara terbuka mengatakan selama ini keluarga kecilnya belum pernah berkumpul bersama dalam jangka waktu relatif lama yang cukup untuk saling berkomunikasi dengan efektif, baru dikala work from home dan study from home ini si ibu merasa bisa berkomunikasi dan bercengkrama dengan dua putrinya dan suaminya layaknya sebuah keluarga. Pasti banyak cerita cerita lain dari keluarga yang berbeda yang mepunyai pengalaman serupa. Bagaimana dengan keluarga anda?
Ada juga yang terjadi malah sebaliknya berkumpulnya anggota keluarga justru menguatkan terjadinya konflik antar anggotanya. Suami yang senantiasa berada di rumah justru membuat istrinya terbebani karena yang biasanya coffee break dan makan siang si suami berada di luar rumah sekarang justru meminta istri untuk melayaninya. Apalagi bila si istri juga kerja dari rumah dan profesinya menuntut dia untuk juga melayani boss nya.
Pernah terjadi di sebuah webinar seorang boss minta tolong sekretarisnya share screen sementara kelihatan kalau si sekretaris ikut dalam zoom namun sambil menyuapi anaknya sehingga tidak sigap bisa membantu boss. Terjadilah konflik peran yang tak terhindarkan. Ini terjadi karena masih banyaknya suami yang tidak mau mengerti beban kerja istri dan masih banyaknya istri yang mengidolakan bersuami yang senantiasa bisa perform lebih dari dia sebagaimana yang diedialkan membuat si istri kecewa.
Apapun yang terjadi pada keluarga anda, mungkin resep berikut bisa sedikit mengurai perasaan anda sendiri. Pertama, menyadari apapun hanya bisa terjadi bila diizinkan oleh YMHK. Kedua, yakinlah bahwa Allah pasti menjamin rizqi. Bila keuangan yang menjadi masalah, cobalah mengubah pola konsumsi anda. Banyak panduan untuk menyediakan menu sehat dan murah seperti yang diromosikan oleh dr. Zaidul Akbar.
Jagalah Kesehatan anda sekeluarga dengan mengkonsumsi bahan alami yang ada disekitar rumah atau bisa dibeli dengan harga murah seperti ynag dipromosikan oleh bu Eny dengan koin Mami nya. Tingkatkan komunikasi anda sekeluarga dengan Yang Maha Kuasa. Waktu berada di rumah adalah kesempatan yang baik untuk menghidupkan lagi quality time dalam beribadah. Hal ini sangat signifikan perannya dalam membangun family resilience atau ketahanan keluarga. Keluarga yang secara bersama sama bisa mengatasi krisis akan bisa merasakan nikmatnya merasakan “kemenangan” bersama – sama.