



Judul: Profesi Wong Cilik: Spiritualitas Pekerjaan-Pekerjaan Tradisional di Jawa
Penulis: Iman Budhi Santosa
Penyunting: Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit: Basabasi
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Cetak: Oktober 2023
Genre: Esai
Dalam percakapan modern tentang kerja, profesi sering kali dipahami melalui ukuran-ukuran yang sangat material. Semakin tinggi posisi seseorang dalam struktur pekerjaan, semakin besar pula penghargaan yang diberikan kepadanya. Dalam logika semacam ini, kerja menjadi semacam tangga sosial yang harus diraih setinggi mungkin.
Akibatnya, banyak pekerjaan yang justru berada dekat dengan kehidupan sehari-hari kerap ditempatkan di pinggir percakapan. Mereka hadir di sekitar kita, tetapi jarang dianggap memiliki sesuatu yang penting untuk disumbangkan dalam diskursus tentang makna hidup, apalagi spiritualitas.
Melalui buku Profesi Wong Cilik, Iman Budhi Santosa mengajak pembaca menengok kembali cara kita memandang kerja. Ia tidak memulai dari teori-teori besar, tidak pula dari jargon motivasi yang sering memenuhi buku-buku pengembangan diri.
Ia justru berangkat dari kehidupan konkret wong cilik yakni orang-orang biasa yang bekerja dengan tangan, dengan keringat, dan dengan kesabaran. Dari pengalaman yang tampak sederhana itulah, spiritualitas tumbuh secara pelan dan bersahaja.
Buku ini tidak sedang meromantisasi kemiskinan. Penulis tidak menutup mata terhadap kerasnya hidup yang harus dijalani oleh para pekerja tradisional. Namun ia memperlihatkan bahwa di balik keterbatasan ekonomi, terdapat kekayaan batin yang sering luput dari perhatian.
Bagi wong cilik, kerja bukan sekadar cara untuk bertahan hidup. Kerja adalah cara menjaga martabat, menunaikan tanggung jawab, sekaligus merawat hubungan dengan sesama dan dengan Tuhan.
Dalam berbagai kisah yang disajikan, kerja tampil sebagai laku hidup. Seorang penjual jamu yang bangun sebelum subuh untuk meracik dagangannya, buruh tani yang menggantungkan hidup pada musim, atau seorang dukun bayi dan juru kunci atau kuncen yang setia menekuni keahlian turun-temurun, semuanya menjalani profesinya dengan kesadaran bahwa hidup tidak selalu bisa dikendalikan sepenuhnya.
Ada usaha yang terus dilakukan, tetapi ada pula sikap pasrah yang menerima keterbatasan manusia. Di sanalah spiritualitas bekerja: bukan dalam bentuk ritual yang gemerlap, melainkan dalam ketekunan sehari-hari.
Dalam tradisi keagamaan, kerja memang memiliki posisi yang istimewa. Dalam Islam, misalnya, bekerja dipandang sebagai bagian dari ibadah. Kerja yang dilakukan dengan kejujuran dan tanggung jawab tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai spiritual.
Buku ini, meskipun tidak dibangun dengan argumentasi teologis yang sistematis, bergerak dalam semangat yang serupa. Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak selalu berlangsung di ruang-ruang ibadah, tetapi juga di ladang, di pasar, di bengkel kecil, dan di jalanan tempat orang mencari nafkah.
Cara menulis Iman Budhi Santosa memperlihatkan kepekaan yang khas. Ia mendekati para pekerja tradisional dengan empati sekaligus kehati-hatian dan mendengarkan lebih banyak lalu mencatat pengalaman hidup mereka. Dalam pendekatan semacam ini, wong cilik tidak diposisikan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek yang memiliki kebijaksanaan hidupnya sendiri.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap cara pandang modern yang sering memisahkan kerja dari makna. Banyak orang hari ini bekerja dengan rasa keterasingan, terasing dari hasil kerjanya, dari orang lain, bahkan dari dirinya sendiri. Kerja menjadi rutinitas yang melelahkan tanpa memberi ruang bagi pengalaman batin yang lebih dalam.
Sebaliknya, para pekerja tradisional dalam buku ini justru memperlihatkan hubungan yang lebih menyatu dengan pekerjaannya. Ada kebanggaan yang sederhana dalam pekerjaan mereka, sekalipun tidak selalu diiringi penghargaan material yang memadai. Ada sebuah kesetiaan pada proses kerja, yang dijalani dengan kesadaran bahwa hidup tidak selalu memberi kepastian.
Dari sini muncul pertanyaan yang diam-diam diajukan buku ini kepada pembaca: apakah kerja semata-mata tentang mobilitas sosial, tentang naik kelas dalam struktur ekonomi? Ataukah kerja juga merupakan cara manusia menempatkan dirinya secara bermartabat di tengah kehidupan?
Pertanyaan tersebut terasa relevan di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan kompetitif. Ketika ukuran keberhasilan semakin dipersempit pada angka dan pencapaian material, buku ini menawarkan sudut pandang yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa kerja juga memiliki dimensi moral dan spiritual yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.
Menariknya, beberapa kisah dalam buku ini juga memperlihatkan hubungan yang dekat antara pekerjaan tradisional dan alam. Banyak profesi wong cilik yang bergantung pada ritme alam seperti musim, cuaca, dan sumber daya yang tersedia.
Dalam relasi semacam itu, muncul kesadaran untuk tidak berlebihan untuk mengikuti batas-batas alam dan untuk menjaga keseimbangan hidup. Di tengah krisis lingkungan global yang semakin terasa, perspektif semacam ini menjadi pelajaran yang berharga.
Pada kesimpulannya, buku Profesi Wong Cilik tidak menawarkan teori besar tentang spiritualitas kerja, namun justru menghadirkan sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih mendalam; kesadaran bahwa makna hidup sering kali tersembunyi dalam pengalaman sehari-hari yang tampak biasa.
Melalui kisah-kisah para pekerja tradisional, Iman Budhi Santosa mengingatkan bahwa spiritualitas tidak selalu lahir dari kemewahan atau kelapangan hidup. Justru dalam keterbatasan, manusia sering belajar tentang syukur, kesabaran, dan tawakal.
Pengajar Sastra di Sekolah Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur