



Sambil berbaring dan mengatasi tipus empat minggu ini, saya terngiang kembali memori tentang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Cak Nur (Prof Nurcholish Madjid) kurun 1990-an. Waktu itu saya jurnalis muda dan anak LSM jalanan.
Inteligensia NU yang santun dan berwatak kritis, Ulil Abshar Abdalla, dengan terang menyebut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tipikal cendekiawan yang berbeda dari Cak Nur (Prof Nurcholish Madjid) meski keduanya secara genealogi adalah anak kandung para ulama nahdliyin, Nadhlatul Ulama. Cak Nur berafiliasi politik ke Masyumi, sedang Gus Dur berurat akar ke NU,bahkan beliau darah biru NU.
Gus Dur, demikian Ulil, ulama progresif nahdliyin yang kadang nyeleneh dan kocak dalam berargumentasi. Sementara Cak Nur amat kuat dalam hal kesarjanaan (scholarly) dan selalu setia pada teks dalam menyusun argumentasinya tentang pluralism dan Islam yang inklusif, Gus Dur justru lebih cenderung menghindari kecanggihan yang njelimet dan scholarly macam itu.
Terlepas dari anggapan muluk orang dalam memandang intelektualitasnya, Gus Dur, bagaimanapun juga, adalah seorang kiai. Ulil bahkan menyebut peran Gus Dur seperti kiai desa, kiai desa dalam arti ulama cendekia pedesaan yang cosmopolitan. Mengacu pada Ulil, jelas Gus Dur jenis ulama langka yang berbasis sosial-budaya grassroot-akar rumputnya, namun bervisi kosmopolit kelas dunia dalam pandangan-pandangannya.
Ulil dengan cerdas mencatat tentang Gus Dur demikian: “Sebagaimana seorang kiai di desa, Gus Dur tidak pernah berangkat secara strict dari suatu ajaran tertulis dalam kitab. Sebaliknya, ia berangkat dari suatu proses encounter atau penghadapan dengan kenyataan-kenyataan sosial yang konkret,” tulis menantu Gus Mus itu dalam kata pengantarnya untuk Melawan Melalui Lelucon: Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid di Tempo.[1]
Bang Arief Budiman dan saya bersama para wartawan Kompas, Tempo, Jakarta Post, Jawa Pos dll terlibat mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) di Wisma Sirnagalih Jabar setelah pembredelan Tempo, Detik dan Editor..
Forum Demokrasi diprasangkai, dicurigai dan direpresi oleh Orde Baru Pak Harto. Dosen Universitas Mustopo Beragama Paulus Yanuar yang juga merupakan anggota awal Fordem, menyatakan bahwa Fordem bukanlah reaksi terhadap ICMI. Fordem menekankan bahwa esensi dari Fordem adalah memperjuangkan kehidupan demokrasi dan membuat kehidupan berbangsa yang lebih baik.
“Sebenarnya kita melawan represi Orde Baru dan salah satu yang kita kritik ialah hegemoni negara, dalam bentuk pembentukan ICMI,” tutur Januar kepada tim Didaktika UNJ.
Dalam konteks melawan Orba, tidak hanya mahasiswa yang melawan Orba, bahkan dalam peran memperjuangkan demokrasi juga memunculkan kelompok intelektual, seperti Forum Demokrasi (Fordem) yang juga melakukan perlawanan terhadap demokrasi palsu / semu ala Orba itu.
Dalam kiprahnya, Fordem sudah biasa dikerjain dan dibubarkan oleh penguasa Orba karena ianggap berbahaya, terlalu kritis dan macam-macam lainnya. Namun dengan cara kultural, Gus Dur mampu mengartikulasikan Fordem di media nasional dan membuat dunia internasional mengendus Fordem dan mengundang para aktornya bicara mengenai demokrasi di Indonesia di bawah represi Orde Baru waktu itu. Fordem adalah gerakan social-kultural yang relative luwes meski mungkin menjengkelkan pihak-pihak yang tidak suka.
***
Sebagai tokoh NU dan Fordem, Gus Dur masih sering didatangi elite penguasa untuk ‘’membantu’’ Pak Harto, misalnya dengan jurus dewa mabuk,dia didorong sowan ke Mensesneg Moerdiono dan menggandeng Mbak Tutut ke pesantren-pesantren dan seterusnya. Sebagai kiai desa, Gus Dur tahu siapa dirinya dan kapan harus menggunakan jurus dewa mabuknya yang sering membuat publik geleng kepala dan gagal paham pula.
Asal tahu saja, Soeharto pernah membenci Gus Dur gara-gara tulisan Adam Schwarz dalam buku berjudul: A Nation In Waiting: Indonesia in The 1900. Dalam buku itu, Adam mengutip hasil wawancaranya dengan Gus Dur yang menyebut Soeharto “bodoh”. Schwarz , wartawan majalah Far Eastern Economic Review yang berbasis di Hongkong itu menulis kalimat, “That is the stupidity of Soeharto that he did not follow my advice.” (Itulah kebodohan Soeharto yang tidak mengikuti nasehat saya).
Soeharto juga semakin tak senang karena Gus Dur dan Fordem mendukung para aktivis melawan pemerintah Orba. Akibat pandangan dan sikapnya kritis itu, Gus Dur mendapat banyak tekanan dari pemerintahan. Berbagai upaya dilakukan oleh Soeharto untuk mendongkel Gus Dur dari posisinya di PBNU, namun gagal.
Adalah Cak Nur yang tidak pernah mau dipanggil ketemu Pak Harto selama menjabat sebagai Presiden RI dan baru jelang jatuh dalam krisis 1998,Cak Nur mau datang memenuhi undangan Pak Harto, namun Cak Nur kemudian justru membujuk dan mendesaknya mundur dari presiden RI. Soeharto pun menyerah, kalah.
Adapun alasan Cak Nur tidak sudi diundang ketemu Pak Harto sewaktu jaya-jayanya berkuasa, untuk sebagian karena Cak Nur sangat kecewa ketika Soeharto menolak M Natsir (Bapak Masyumi/Mantan Perdana Menteri) untuk bertemu, dan Soeharto tidak mau berterimakasih kepada Pak Natsir yang telah menolong Soeharto dan rezimnya dalam melobi Jepang ntuk membantu penguasa Orba itu. Nurcholish Madjid adalah Natsir muda. Cak Nur (dan kita juga), tidak suka Pak Natsir sebagai pejuang-negarawan, direndahkan Pak Harto begitu saja. Cak Nur juga kritis terhadap rezim otoriter Soeharto yang getol KKN, korupsi kolusi nepotisme.
‘’Sok’ jago’ Pak Harto yang feodal itu, dia hanya tahu ‘sebagian kecil’’ siapa M Natsir,’’ kata sesepuh Minangkabau yang enggan disebut namanya kepadaku.
Dalam buku “Demokrasi dan Toleransi dalam Represi Orde Baru,” karya Virdika Rizky Utama, alumni Program Studi Pendidikan Sejarah UNJ, Virdika sempat wawancara tokoh aktivis Fordem, di antaranya Bondan Gunawan dan Rahmat Tolleng sebagai saksi mata yang terlibat dalam perkembangan forum tersebut.
Tokoh lain yang merupakan anggota Fordem yaitu Abdurrahman Wahid, Marsillam Simanjuntak, ASwab Mahasin, Rahman Tolleng, Bondan Gunawan, Awad Bahasoan, Frans Magnis Suseno, dan Todung Mulya Lubis. Keberadaan Fordem tidak bisa lepas dengan Abdurrahman Wahid, atau kerap disapa Gusdur. Menurut Virdika, pencantuman nama Gusdur sebagai Ketua Fordem menjadikan Fordem mendapatkan perlindungan dari Islam NU. Selain itu, Gusdur bisa menyalurkan gagasan politisnya melalui forum ini.
Demikianlah, Cak Nur dan Gus Dur dengan cara masing-masing melakukan counter culture dan kontra politik terhadap hegemoni kekuasaan Orba Pak Harto yang sebagai Bapak Bangsa atau Bapak Pembangunan, ternyata sangat represif dan seolah Raja Mataram yang tiada akhir.
Gus Dur dan Cak Nur, dua pembaharu Muslim terkemuka itu, dengan kemampuan, bakat alam dan intelektualitasnya telah berperan mengubah jalannya kekuasaan praetorian Orba Pak Harto, meski harus bersabar untuk waktu yang relative lama,lebih 30 tahun. Lahu Al Fatihah untuk kedua guru bangsa kita, yang kini telah tiada. (mmsm)
[1] https://tirto.id/sebelum-main-politik-gus-dur-adalah-penulis-dan-intelektual-publik-epiX
[2] Forum Demokrasi (Democratic Forum): An Intellectuals’ Responses to the State and Political Islam, http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/studia-islamika/article/view/825. Jurnal Studia Islamika, Vol 2, No 4 (1995)
Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina