Mengapa Pendidikan Bukan Sekadar Tentang Lulusan Siap Kerja

Ilustrasi tentang dilema pendidikan antara pembentukan karakter dan tuntutan kesiapan kerja di era teknologi.

Pendidikan hari ini kerap direduksi menjadi sekadar pabrik penghasil tenaga kerja. Di tengah zaman modern yang serba cepat ini, peningkatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri menjadi tolok ukur utama sebuah keberhasilan pendidikan.

Dalam konteks tersebut, paradigma pendidikan mulai perlahan bergeser; dari ruang pencarian dan pembentukan makna menjadi mesin produksi keterampilan. Paradigma ini kemudian menjadi pijakan Kemenristekdikti dalam rencananya untuk menutup program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri. Tujuannya tentu untuk mengurangi pengangguran terdidik dan mendukung sektor industri strategis.

Lantas pertanyaannya adalah apakah pendidikan masih perlu menjadi ruang untuk pembentukan makna atau cukup menghasilkan para individu yang siap kerja semata? Atau mungkinkah dua hal tersebut dapat berjalan beriringan?

Persaingan dunia kerja saat ini memang sangat kuat. Manusia bahkan tidak lagi hanya bersaing dengan sesama manusia, tetapi juga dengan sistem otomasi yang lebih cepat dan lebih murah. World Economic Forum memproyeksikan bahwa sebagian besar pekerjaan yang ada saat ini akan tergantikan oleh sistem otomasi dalam satu atau dua dekade kedepan.

Sementara itu, banyak pekerjaan baru akan muncul dan menuntut keterampilan yang belum pernah diajarkan di lembaga pendidikan. Sehingga, seseorang yang tak punya kompetensi relevan akan semakin tertinggal dan kehilangan daya saing.

Dalam konteks ini, pendidikan dituntut untuk tidak hanya fokus pada sistem pembelajaran yang formalistik saja, tetapi juga mulai mengarahkan dan memfasilitasi peserta didik untuk menguasai keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Oleh sebab itu, mengarahkan pendidikan kepada aspek keterampilan merupakan respon terhadap kebutuhan zaman, bukan sekedar pilihan. Akan tetapi, di titik ini pula persoalan pendidikan menjadi lebih kompleks. Namun, ketika pendidikan sepenuhnya terserap oleh logika pasar, muncul risiko besar yakni hilangnya sisi kemanusiaan yang paling mendasar.

Pendidikan tidak dapat direduksi hanya untuk pemenuhan kebutuhan pasar. Pendidikan masih memiliki tugas yang paling mendasar, yaitu menjadi tempat yang paling ideal untuk menggali makna hidup, mengasah etika, dan menjaga moralitas individu.

Dalam tradisi pemikiran Islam, misalnya, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa arah dari pendidikan adalah pembentukan jiwa yang suci. Pandangan ini menunjukkan bahwa realitas pendidikan mempunyai keterikatan erat dengan dimensi spiritualitas.

Bagi Al-Ghazali, pengetahuan yang tidak disertai dengan pembentukan karakter bukan hanya tidak berguna, bahkan bisa mengarah kepada kerusakan. Di era otomasi ini, kecerdasan teknis mungkin bisa digantikan oleh mesin, namun integritas moral dan jiwa yang suci, sebagaimana ditekankan Al-Ghazali, adalah benteng terakhir yang tidak dimiliki oleh teknologi.

Seorang yang cerdas secara teknis tapi kosong secara moral justru lebih berbahaya dari pada seorang yang tidak terdidik sama sekali.

Perubahan orientasi pendidikan hanya untuk penyiapan kebutuhan komoditas industri ini bukan tanpa konsekuensi. Ketika ia hanya difungsikan untuk penyiapan tenaga kerja semata, maka perhatian dari nilai-nilai kehidupan yang lebih mendasar semakin tergerus, kualitas pemaknaan hidup semakin menurun, serta penghayatan moralitas mulai terpinggirkan oleh tuntutan produktivitas.

Viktor Frankl, dalam bukunya Man’s Search for Meaning, mengungkapkan bahwa seseorang akan mampu menanggung penderitaan selama ia tau mengapa ia harus menanggungnya. Sebaliknya, kehidupan yang nyaman secara material namun hampa makna hanya akan mengakibatkan existential vacuum, kekosongan jiwa, yang melahirkan kesenangan yang dangkal, depresi, dan agresivitas.

Di sisi lain, jika pendidikan hanya menjadi ruang pembelajaran yang sangat normatif, formalistik dan jauh dari kenyataan, tanpa mempertimbangkan perkembangan dan kebutuhan zaman, maka ia akan berisiko kehilangan relevansinya.

Pendidikan justru hanya akan melahirkan individu yang tertinggal dan tidak punya daya saing. Pendidikan akan dianggap menjadi tidak relevan lagi dan mulai ditinggalkan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dunia yang terus berubah.

Selain itu, orientasi semacam ini rentan melahirkan frustasi dan sinisme. Seseorang yang telah mengenyam pendidikan bertahun-tahun lalu kemudian tidak mampu mendapat pekerjaan yang layak dan merasa ilmunya tidak mendapatkan tempat di dunia, maka ini juga merupakan kegagalan orientasi pendidikan.

Dengan demikian, persoalan pendidikan tidak terletak pada memilih salah satu antara orientasi industri atau orientasi nilai, melainkan pada bagaimana keduanya dapat dijembatani secara seimbang.

Pendidikan harus mampu menjadi ruang untuk membentuk manusia yang kompeten namun sekaligus tetap mengakar secara moral. Selain itu, pendidikan harus terus mampu menjawab kebutuhan zaman namun sekaligus tetap berakar kuat untuk membentuk kualitas moral.

Untuk itu, pendidikan tak boleh meniadakan salah satunya karena terlalu orientatif pada persiapan tenaga kerja hanya akan melahirkan individu yang kering tanpa makna. Begitu juga jika terlalu condong pada penguatan nilai moralitas semata tanpa mempertimbangkan kebutuhan zaman, hanya akan melahirkan individu yang tidak dapat bersaing.

Pendidikan yang ideal tidak hanya menyiapkan individu yang siap kerja tetapi juga memahami betul untuk apa ia bekerja.

0

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.